Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 120


__ADS_3

...||...


Ujung lorong di lantai lima, terasa begitu sunyi. Hampir tidak ada aktifitas disana, mengingat ini hari minggu, yang biasanya orang-orang akan pergi berlibur.


Dua orang pria berdiri di depan pintu Kia, tepat di belakang mereka ada seorang ibu-ibu paruh baya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Kia, salah seorang pria itu menoleh ke belakang dan mengangguk. Lalu, tanpa permisi masuk ke dalam rumah, membawa paksa Jenny.


"Tu-tunggu, kalian ini siapa? Kenapa .membawa paksa anak orang?" Kia mencoba menghentikan langkah pria itu.


"Aku datang bawa cucuku!" teriak seorang wanita menepis tangan Kia yang mencoba menghentikan orang suruhannya.


Cucu? 


"Tidak, Anda salah paham. Dia anak saya!" Kia mulai berdebat.


"Anak? Jangan konyol! Sejak kapan anak Gea menjadi anakmu?" tuturnya. "Ayo bawa dia!"


Kia berusaha sekuat mungkin menghalangi seorang pria yang membawa Jenny. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Tangan kecilnya di tepis begitu saja, bahkan dia sempat mendorong tubuh Kia hingga jatuh ke lantai. 


"Mommy … Mommy!" Teriakan Jenny membuat Kia lekas berdiri dan mengejar mereka. Dengan langkah kaki yang pincang, Kia berusaha sekeras mungkin agar bisa menggapai Jenny. 


Namun, usahanya gagal saat seorang pria lain menghalangi dia ketika dia ingin masuk ke dalam lift. Kia memberontak, memukul pria yang tubuhnya hampir 2 kali dari padanya. 


"Jenny, Jenny!" teriakan Kia melengking, tetapi tidak ada satupun tetangganya yang keluar dan melihat. 


Kesal dengan rontaan Kia, pria itu dengan keras menampar wajahnya "Diam, berisik!" Lalu, pergi meninggalkan Kia yang jatuh tersungkur dengan bibir yang sobek.


Kia masih belum menyerah, dia berusaha mengejar mereka melalui tangga darurat. Namun, kaki yang tidak stabil membuatnya jatuh.


__ADS_1


Kenneth baru saja keluar kantor dengan hati yang gembira. Menyuruh supir untuk mengendarai mobil dengan cepat, berharap bisa segera sampai di rumah dan membawa istri dan anaknya jalan-jalan.


Namun tiba-tiba, sebuah panggilan membuyarkan kecerahan wajahnya. 


"Ke rumah sakit pusat, segera!"


Perintah itu membuat supir langsung memutar arahnya, pergi ke tempat yang diperintahkan Kenneth. Ada kecemasan dan kegelisahan yang tidak bisa ditutupi dari wajahnya. Namun dia tetap optimis, tidak akan terjadi hal buruk pada Kia.


Setibanya di rumah sakit. Kenneth langsung berlari menyusuri koridor IGD. Memeriksa satu per satu tirai yang menutup, untuk mencari Kia. Hingga dia menemukan sepasang kaki yang tak asing di matanya. 


Benar saja, setelah mendekat, ia menemukan Kia tengah terbaring lemah tidak sadarkan diri. Pergelangan kakinya terbalut, tangan kanannya terlihat lebam, dan pelipis yang ditambal. 


Apa, yang sudah terjadi?


Langkahnya gontai mendekati Kia. Memandang luka-luka di tubuh Kia, membuat perasaan dan moodnya memburuk.


"Anda sudah datang?"


Suara samar seorang wanita, membuat lelaki yang menggenggam tangan Kia sontak menoleh dan spontan merespon. 


"Iya," ucapnya singkat. "Terima kasih, Bibi Yu."


"Dia ditemukan pingsan di tangga darurat. Aku kurang mengerti apa yang terjadi. Dia terus memanggil nama Jenny." Bibi Yu menjelaskan.


"Apa kalian bertengkar dan Anda membawa Jenny?" 


Pertanyaan Bibi Yu membuat mata Kenneth terbelalak lebar. Mereka jelas baik-baik saja, Jenny pun seharian bersama Kia.


"Kukira Jenny bersama dengan Anda?" Kenneth terlihat panik.

__ADS_1


"Tidak, Jenny tidak bersamaku."


Pikiran Kenneth semakin menjadi-jadi saat mendengar jawaban Bibi Yu. Rasa takut tak cemas mulai menghantuinya lagi. Namun, Kenneth tidak mau menebak-nebak terlalu lama, dan segera menghubungi Ziko untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi.


Belum sempat Ziko memberi kabar, Kia sudah lebih dulu sadarkan diri, dan berteriak memanggil nama Jenny. Membuat Kenneth buru-buru memeluknya dan menenangkannya.


"Kia tenanglah."


"Kennt, Jenny … dia dibawa pergi," ucapnya sesenggukan. "Itu mereka, mereka menemukan Jenny dan membawanya, Kennt. Jenny … anakku." 


Air mata Kia tumpah, membayangkan moment saat mereka mengambil paksa Jenny dan membawanya pergi. Perlu waktu lama bagi Kenneth untuk menenangkan Kia dan mendengarkan cerita darinya.


"Aku gak tau, Kennt. Aku gak tau mereka dari keluarga mana, tapi aku tau kalau itu ibu mertua Gea. Kami pernah bertemu dengannya, dan Gea terlihat ketakutan."


"Tenang, Sayang. Aku janji akan menemukan Jenny." 


Pada saat yang sama. Sebuah pesan dari Ziko, masuk dan menghiasi notifikasi di layar ponsel Kenneth. "Aku sudah menemukan mereka, Sayang." Kenneth melambaikan ponsel yang berisi pesan Ziko.


"Benarkan?" Wajah Kia menjadi bersemangat. "Ayo pergi menjemputnya kalau gitu!"


Hela napas Kenneth memanjang. Ia mengangkat tangan, lalu membelai kepala Kia. "Takutnya ngak mudah, karena mereka keluarga Jenny. Tapi aku akan berusaha membawa Jenny kembali pada kita."


"Janji padaku, oke. Mereka terlihat jahat dan arogan, aku takut mereka tidak akan menyayangi Jenny."


"Iya. Aku berjanji akan membawanya."


...||...


TBC

__ADS_1


__ADS_2