
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Kenneth pov
Kepalaku sudah semakin pening, jadi memutuskan pergi dari sana secepat mungkin. Gak ada protes yang keluar dari mulut mereka saat aku pergi. Kata-kataku ternyata berhasil juga membalikkan kapal seketika.
“Anda mau makan dulu? Sejak siang belum makan apa pun!” tanya Ziko mengekor di belakang.
“Jangan beri aku yang berlemak seperti kemarin!” pintaku.
“Baik!”
Ziko dan aku berpisah saat berada di depan lift. Aku merogo saku untuk mengambil ponsel. Mengingat saat rapat tadi, aku sempat mengubah ke mode silent. Baru membuka kunci, pandanganku di kejutkan oleh sesuatu. Dua pesan masuk dari si Dosen Gila. Tentu saja aku langsung membukanya, buat apa menunggu.
Tempo detak jantung sedikit cepat. Ada perasaan senang juga takut. Apa aku sudah menang?
Satu pesan kubuka, itu berisi file, dan pesan yang lain ....
\~ Untuk memperbaiki nilaimu karena sudah membolos beberapa hari. Selesaikan tugas itu sebelum liburan semester selesai \~
Membaca pesan darinya membuatku berdecis meremehkan. Gak tau, aku sudah menang, atau memang dia baik pada semua mahasiswanya?
Aku langsung merebahkan diri ke atas ranjang yang ada di ruang kerjaku. Ruang kerja yang menyatu dengan ruang istirahat. Dua ruang itu hanya dipisah tembok dengan pintu otomatis.
Kupandangi pesan itu lagi, berharap jika sikapnya yang seperti ini ditujukan khusus hanya untukku.
“Perlu tanya Sam gak?” pikirku.
Baru saja berpikir tentang itu, tiba-tiba Sam menghubungiku. Dering ponsel yang mendadak membuatku kaget dan tak sengaja ponsel yang kupegang jatuh tepat di wajah.
“Ah!! Sial!” Aku mengambil ponsel yang ada di wajahku dan melemparnya ke sisi lain. Mengusap wajah tampan ini yang terasa sakit.
Jangan sampai ini berbekas!
Terlalu takut, aku langsung berdiri dan menghadap cermin. Mengelus wajah yang ternyata baik-baik saja.
__ADS_1
“Kalau saja, ini sampe lecet!! Sam! Aku akan ingat namamu!”
Aku duduk di tepian ranjang, kemudian menjawab panggilan darinya.
“Kennt, akhirnya kau menjawab panggilanku!” ucapnya dengan nada terburu-buru.
“Tim basket kita kekurangan orang, bisa gak ...”
Anak ini, pengen apa langsung ngomong to the poin. “Gak bisa!” jawabku ketus.
“Ayolah, Kennt! Pertandingannya seminggu lagi, dan itu melawan anak fakultas sebelah.”
Hela napasku sedikit berat saat Sam selesai berbicara, tapi ajakannya ini ....
“Oke! Tapi beri tau aku sesuatu!” jawabku sedikit terpaksa.
“Apa itu?”
“Itu ... soal ... Miss Kia! Apa dia pernah memberi tugas pada mahasiswa yang absen kelasnya selama berhari-hari?”
“Miss Kia?” tanyanya lagi. Aku sudah gak sabar menunggu jawaban darinya, tapi anak ini justru berbelit-belit.
“Mmm, aku pernah bolos lima kali pertemuannya selama satu semester. Dia langsung memberiku nilai minus!” jawabnya dengan nada sedikit jengkel. Senyumku seketika melambung tanpa kendali. Tebakanku ternyata benar, aku sudah menang! Wanita itu jelas merindukanku!
“Dosen itu, bukan cuma cantik dan gila tapi juga sangat ...”
“Minggu depan, aku bermain di timmu!” kataku memotong kalimatnya dan langsung memutuskan panggilan.
Baru selesai berbicara, Ziko mengetuk pintu membawakan satu set makan siang yang sedikit terlambat.
“Jam berapa acaranya?” tanyaku.
“Jam 7, Tuan.”
“Kamu siap-siap kalau gitu!”
__ADS_1
Presdir David, pria paruh baya yang sukses menjajaki dunia perhotelan. Jika bukan Tania yang mengingatkan, mungkin aku sudah melupakannya. Orang yang pernah berjasa ketika aku baru menduduki kursi Presdir.
“Kau sudah menyiapkan hadiahnya? tanyaku saat membetulkan dasi di depan cermin.
“Sudah, Tuan.!”
“Oke, ayo berangkat!”
Mobil jenis Audi, salah satu kesukaan juga masuk dalam daftar koleksi, melaju cepat memecah padatnya jalanan ibu kota. Perlu satu jam lebih sampai mobil yang kami naiki sampai di lobi hotel.
Pembukaan acara berjalan seperti pada umumnya, gak ada yang spesial.
“Presdir Lee.” sapa pria paruh baya bernama David. “Wah, anak muda jaman sekarang wajahnya menolak tua semua, ya!”
“Sudah lama, Tuan David. Bagaimana kabar Anda?” kataku mencoba basa basi.
“Aku? Kamu bisa lihat sendiri, lemak di perutku sudah setebal apa?” jawabnya diakhiru gelak tawa.
“Kau di sini juga, Lee?” sapa seorang lelaki dengan segelas anggur di tangannya.
“Tuan, John. Apa kabar?” jawabku menjabat tangannya.
“Si Tua ini sepertinya beruntung. Tuan John ternyata bisa menghadiri acara ini.” sahut Tuan David yang juga menjabat tangan Tuan John.
“Kenapa? Anda gak berharap aku hadir?” balas Tuan John.
“Tidak tidak. Kalian mengobrol dulu, aku akan menyapa tamu yang lain.” ucap Tuan David yang sejak tadi di panggil oleh istrinya.
Aku kembali mengobrol dengan Tuan John juga beberapa pengusaha yang lain. Tak begitu lama, sampai akhirnya aku mendengar suara seseorang ....
Kia : Bang Kennt dimana?
Sabar ya Ki, babang Kennt lagi sibuk cari wangsit buat othor 🙈🙈 othor minjem dulu, bentar lagi ketemu kok 🤭
__ADS_1
Dah ah, othor mau cari wangsit sama si Kennt 😂
Jangan lupa ritual sama sajennya 🤭