Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 57


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...


Salju masih turun memenuhi jalanan. Tak begitu lebat, namun cukup untuk membuat penduduk bumi engan untuk keluar.


Kia meletakkan gelang ke atas meja, secepat mungkin berlari keluar, mengejar kekasihnya yang tengah merajuk. Namun, lift sudah turun. Ia terlambat cukup lama.


Ia ingin mengumpat, tapi tiba-tiba pintu lift yang satu lagi terbuka. Hela napas terdengar, dengan sedikit uap yang terlihat.


Begitu lift terbuka di lantai dasar. Manik matanya sempat menelisik. Melihat ke arah basment, lalu ke pintu. Sampai pada akhirnya, sepasang manik kecoklatan itu mendapati punggung Kenneth yang berjalan keluar.


Kia berlari secepat yang ia bisa. Napasnya terdengar terengah-engah. Dengan cepat meraih tangan Kenneth yang sedang berjalan. Membuat lelaki itu menoleh dengan cepat dan menghentikan langkahnya.


Netranya menatap seorang wanita dengan napas yang tak beraturan, baju tipis tanpa mantel, bahkan hanya memakai sendal bulu yang sering dipakai di rumah.


“Ja-jangan pergi!” Pinta Kia dengan nada berat.


Salju tiba-tiba turun menjadi lebat. Udara dingin bertiup menusuk kulit. “Apa kau gila!” Kenneth menarik tangan Kia masuk ke dalam gedung Apartemen.


Tangan hangat yang sedari tadi tersimpan di saku, menyentuh telapak tangan Kia yang begitu dingin. Sangat dinggin bahkan lebih dingin dari sebongkah salju dari jalanan.


Tanpa bicara apa pun, Kenneth mengambil dua tangan Kia dan menyatukannya. Menutupi dengan dua tangannya dan mengosok-gosok. Berharap tangan wanita itu menjadi hangat.


“Gak bisa lebih ceroboh lagi, hah?!”


Keningnya berkerut, tatapannya tajam melihat Kia yang tertunduk. Badan wanita itu mengigil, udara dingin telah masuk mengoyak tubuhnya. Kenneth dengan marah menarik tangan kanan Kia, mengajaknya masuk ke dalam lift.


Hanya mereka berdua, berada dalam satu lift yang hanya berukuran 3 x 3 meter. Tanpa ada suara, tanpa ada kata. Kia hanya tertunduk, bagai anak kucing yang baru dimarahi induknya. Menengelamkan kepalanya dalam-dalam.


Begitu lift terbuka, Kenneth yang sejak tadi mengandeng tangan Kia. Langsung membawanya menuju Apartemen.

__ADS_1


Kia menatap raut wajah Kenneth yang entah sedang marah, cemas, atau kesal. Hanya meliriknya saja. Namun sudah dibuat merinding. Ia segera membuka pintu. Tubuhnya sudah merasa dingin tak karuan.


Namun ....


Beberapa kali dicoba, smart lock itu tak terbuka.


“Aku gak mungkin salah kode kan?” gumam Kia.


“Ada apa?” Kenneth menyandarkan satu tangannya ke tembok.


“Entah. Kuncinya udah betul, tapi ...”


Kenneth mendengus. Napasnya yang berat terdengar jelas di telinga Kia. Ada sensasi hangat, yang tiba-tiba menyapa daun telinganya.


Kenneth merogoh saku, dengan cepat menghubungi seseorang. Berkata untuk segera datang memperbaiki pintu. Namun tiba-tiba ...


“Gak bisa sekarang? Besok siang?”


Kenneth memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Lalu, berlutut dan melepaskan sepatunya. “Pakai ini!”


Kia tertunduk, melihat sepasang sepatu yang kebesaran itu berada tepat di kakinya.


“Untuk apa?” Nadanya begitu polos dan lirih.


“Kamu mau nunggu di sini sampai besok?” Kenneth menatap Kia. Raut wajahnya datar, tak terlihat kemarahan atau kecemasan di sana.


Kia berpikir sejenak. Dia akan tinggal dimana untuk malam ini? Ponsel dan dompetnya ada di dalam. Kalau ke rumah Bibi Yu, justru semakin merepotkan.


“Aku pinjam ponselmu sebentar!”

__ADS_1


Kenneth kembali merogoh ponsel dan menyodorkannya kepada Kia. Wanita itu dengan sedikit raut cemas, mencoba menghubungi seseorang. Dengan nada rendah, Kia menjelaskan situasi yang terjadi.


Kenneth melihat Kia mengangguk, dengan sedikit hormat. “Terima kasih, Ma.”


Usai berbicara, Kia mengembalikan ponsel kepada Kenneth. “Thanks!” ucapnya.


“Cepat pakai itu, udaranya semakin dingin!” seru Kenneth yang menjadi tidak sabar.


“Gimana sama kamu? Aku gini aja deh!” Matanya menatap sepasang sendal bulu yang sedang dipakai.


“Kamu cerewet banget!”


Kesabaran Kenneth mencapai batas. Ia berjongkok sekali lagi, lalu dengan paksa memakaikan sepatunya di kaki Kia. Sedikit kebesaran tentunya, tapi itu cukup membuat kaki Kia hangat.


Ia menyampirkan mantel di pundak Kia. Lalu mengandengnya pergi.


“Kunci mobilmu juga tertingal di dalam?”


Kia mengangguk. Sepasang orang dewasa itu, dengan cepat masuk ke dalam lift. Sang wanita memakai sepatu yang kebesaran, dan sang lelaki, memakai sendal rumah yang terlalu kecil. Dua orang dewasa itu tak protes, saling diam karena sudah di permainkan keadaan.



Dingin dingin diajakin ke kos, eh salah, apartemen ding 😂😂


Bakal ngapain mereka? Mana Jenney di titipin lagi.


Ini kalau si Jenney tau, pasti protes. “Dasar emak bapak lucnut” 😂😂


Sajen sajen ...

__ADS_1


Jangan lupa sajen 😌


__ADS_2