Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 64


__ADS_3

Salju kembali turun. Menambah tumbukan salju di jalanan, juga membuat suhu menurun dan menjadi lebih dingin. Sangat dingin, bahkan kucing pun engan keluar.


Pakaian Kia cukup berantakan, kancing sudah lepas dari pengaitnya. Memperlihatkan dua gumpalan daging tak bertulang yang begitu padat berisi. Dengan buah persik ranum, sangat menggoda.


Kia meremas rambut Ken yang sedang bersembunyi di antara dua pegunungan. Satu tangannya menemas selimut. Tubuhnya mengeliat sesaat, dengan napas yang terdengar naik turun.


Tiba-tiba, gerakan tangan Kenneth berhenti. Kia mulai mengatur napasnya sesaat. Sampai pada akhirnya, ia menyadari sesuatu.


“Hei, Ken!” Kia melepas cengkraman di rambut, dan membalikkan posisi kepala Kenneth.


“Ashh!!” Desisnya terdengar jengkel. Kia mendongak ke atas dan menutup mata dengan lengan kanan. Sudut-sudut bibirnya terangkat, mengukir simpul senyum yang menawan.


“Sekarang aku tau, nanggung itu rasanya ngak enak!”



Kia menekan-nekan pipi Kenneth dengan jari telunjuknya. “Hei, bangun! Tidur yang benar!” Namun, Kenneth tertidur begitu pulas dan tak meresponnya.


Hela napas Kia terdengar berat. Dengan sekuat tenaga mencoba mengangkat kepala Kenneth dari atas dadanya. Lalu, menjatuhkannya ke samping dengan kasar.

__ADS_1


Kia berdiri, raut wajahnya terlihat kesal. Memanyunkan bibir dan memincingkan matanya.


Menatap lelaki yang tidur nyenyak, terlihat seperti tanpa beban hidup.


“Biar, aku mati di atas ... hmmm.”


“Mati, Mati saja sana! Hemgh!” Kia menendang ranjang, kemudian berlalu pergi. Membiarkan kancing-kancing bajunya yang terlepas dan segera masuk ke kamar mandi.


Ia memandang kaca sambil memutar kran air. Membiarkan kran di washtafel memancurkan air hangat sedikit lebih lama. Hingga membuat kaca yang di hadapannya itu berembun.


“Kenapa jadi aku yang sensi?”


“Aku sudah gila!”


Tepat usai Kia menutup pintu kamar mandi. Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi. Ia menatap Kenneth yang masih tertidur pulas, lalu menatap pintu kembali. Perlu beberapa saat sampai akhirnya Kia memberanikan diri untuk membuka pintu.


“Paket untuk Tuan Kenneth.” Seorang kurir lelaki dengan jaket tebal, berdiri di depan pintu. Di pundaknya masih terlihat beberapa salju yang menumpuk setinggi dua centi.


“Terima kasih!”

__ADS_1


Kia segera menutup pintu usai mengambil dua paper bag besar. Matanya terfokus pada label yang tertera. Lews Butik. Sebuah butik dengan kwalitas pakaian yang terbilang bagus dan harga yang ramah di kantong.


Jiwa keponya bergejolak. Ia mengintip dua paper bag itu dengan raut wajah penasaran. Satu mantel tebal yang terlihat cukup hangat. Juga beberapa setelan baju, lengkap dengan dalaman.


“Apa dia beli untukku?” Kia menatap Kenneth.


Dia tak mau ambil pusing lagi. Dengan cepat mengambil baju dan celana, tak lupa dengan dalaman juga. Lalu segera menganti kemeja yang dipakainya.


Sudah semalam dirinya tinggal, tetapi ia baru menyadari sesuatu. Ada sebuah standing mirror di samping lemari. Juga beberapa jam tangan yang pikirnya itu imitasi.


Ia berdiri di depan cermin, memandangi dirinya dengan baju yang baru yang cukup cocok.


“Masa bodo kalau ini bukan untukku! Aku pinjam dulu sebentar, nanti baru kembalikan!”


Sudut-sudut bibirnya terangkat. Rasa puas terlihat jelas terselip di antara bibirnya.



Sajen dan ritual jangan lupa.

__ADS_1


Beberapa hari othor semedi gak dapet wangsit. Sepertinya othor butuh sajen 😭


__ADS_2