
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Kenneth menurunkan kakinya, membetulkan blezer bermotif kotak dengan gaya cool. Ia berjalan sengan rasa percaya diri yang tangguh. Gaya yang seperti itu membuat kaum hawa tertarik.
“Wah, ganteng sekali!” seru salah seorang wanita.
“Apa dia mahasiswa di sini?”
“Sepertinya begitu!”
Angin berhembus semilir, membawa udara sejuk di sekitar kampus High Collenge. Sinar mentari membias jatuh, memancar tepat wajahnya. Seolah memberi tahu penduduk bumi tentang malaikat tampan yang turun ke bumi.
Deru kekaguman itu tersorak dengan lantang, bahkan sampai ia memasuki kelas. Kenneth masih acuh dan tak peduli. Duduk di barisan ke empat dengan dua gadis menjadi pilihannya.
Dua gadis yang ada di samping Kennt saling berbisik satu sama lain. Seorang wanita cantik dengan perawakannya yang kecil, menatap dengan pandangan penuh kagum. Kenneth yang sedikit risih menoleh, membuat dua pasang mata mereka beradu pandang sejenak, dan akhirnya berakhir oleh kehadiran dosen.
Kenneth mulai bosan, bahkan ia menguap secara sengaja saat mengikuti pelajaran. Baginya, pelajaran-pelajaran itu sudah tidak berguna, karena ia sudah mempraktekannya langsung di lapangan.
Dua jam berlalu sedikit lebih lama, akhirnya pelajaran yang membosankan berlalu. Kenneth berdiri dan mengambil tasnya. Tiba-tiba seorang wanita mendorong temannya dan menabrak Kenneth.
“Hai, sorry ya. Aku Kimmy.” Ia mengulurkan tangan, bermaksut mengajaknya kenalan.
Namun, si angkuh Kennt hanya menoleh sekilas, lalu pergi begitu saja. Meninggalkan dua gadis yang masih kagum dan tepesona dengan ketampanannya.
Kenneth pov
Apa disini ngak ada yang gaya mengajarnya sama seperti dia?
Pelajaran tadi terlalu membosankan. Bahkan materi yang disampaikan ngak berbobot.
Haaah! Saat seperti ini, aku merindukannya.
__ADS_1
Baru beberapa langkah berjalan keluar, tiba-tiba ponselku berdering. Nama Tania tertera jelas di layar ponsel.
“Katakan!” pintaku usai menekan tombol hijau.
“Apa Anda ada waktu? Sekitar sepuluh menit,” nada Tania sedikit gusar.
Ku lihat arloji yang melingkar di tangan, waktu menunjukkan pukul 12.15. Harusnya sudah waktunya istirahat.
“Ada!” jelasku.
Masalah perusahaan menjadi hal yang kupikirkan jika mendapat panggilan dari Tania. Benar saja, Tania ingin menghubungkan panggilan video agar aku bisa mengikuti rapat.
Hela napasku sedikit memanjang. Saat berada di kampus seperti ini, dimana aku harus mencari ruangan kosong yang tenang?
Beruntung, saat berjalan aku melewati ruang kelas yang kosong tanpa seorang pun.
“Oke, sambungkan video. Aku akan siap dalam satu menit,” ucapku sembari masuk ke ruang kelas yang kosong.
Bergelut dengan dunia bisnis, lalu kembali ke kelas. Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan semua ini mulai sekarang.
Rasa-rasanya migrainku kambuh!
Sekilas, aku melihat gestur tubuhnya yang temgah melintas di depan kelas. Migrainku seakan hilang seketika. Aku segera keluar dan mengikuti langkahnya.
Gaun indah dengan blazer hitam, memperlihatkan dengan jelas kaki jenjangnya yang mulus. Wanita ini berjalan dengan gaya yang angkuh, sama sepertiku.
“Hai, Miss,” sapaku.
Dia menoleh, melihatku sebentar sebelum akhirnya kembali melihat ke depan. “Kamu lagi?” jawabnya datar.
“Sepertinya kita berjodoh. Bukan begitu?” godaku.
Ia meninggikan satu sudut bibirnya, “Cih!” helanya lirih. Raut wajahnya berubah sedikit memerah, serasa mempertegas bush on tipis yang tertoreh di pipi.
__ADS_1
Kia masuk ke dalam ruang kelas lebih dulu, diikuti Kenneth yang mengekor di belakang. Pembicaraan kecil mulai terjadi diantara mahasiswa yang lain, membuat telinga Kia terganggu.
Dengan sengaja ia menjatuhkan tumpukan buku yang sejak tadi dibawanya, tepat di atas meja. Suara keras dari buku yang jatuh membuat beberapa mahasiswa diam menciut. Seketika ruangan menjadi hening tanpa suara.
Melihat sikap Kia yang seperti itu, Kenneth tersenyum sedang. Dengan santai ia duduk dan kembali menatap wanita yang sedang emosi itu.
Hampir semua mahasiswa sibuk dengan buku dan juga catatan mereka, tetapi itu tidak terjadi pada Kennt. Ia justru sibuk melihat Kia yang tengah mengetik.
Kia yang merasa kesal karena diperhatikan, langsung melempar penghapus. Namun sayang sekali, Kenneth menangkapnya dengan cepat. Ketangkasan itu bahkan membuat beberapa mahasiswa bertepuk tangan.
“Dia! Dia!” batin Kia sangat kesal.
“Kemana kamu melihat!” bentak Kia.
“Kearah mana aku harus melihat tentunya!” Nada Kennt mengejek.
Kia merasa direndahkan oleh Kennt di depan mahasiswanya. Amarahnya semakin memuncak dan ingin membuat Kennt malu. Kia berdiri, lalu berjalan ke meja Kennt, meletakkan satu tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya.
“Oh, begitu! Saya merasa kamu sudah paham dengan materi yang saya berikan. Jadi, bisakah kamu mengurainya di depan. Agar teman-teman yang lainnya paham!” Kia mengucapkannya dengan lembut.
Kenneth merasa tertantang. Lelaki itu berdiri, lalu berjalan ke depan dan menjelaskan materi yang disampaikan Kia sebelumnya. Pembawaannya yang lugas, juga berwibawa.
Sepertinya Kia salah dalam menghukum Kenneth. Ia lupa, jika lelaki itu pernah bersekolah di Stanford. Materi seperti ini, dia lebih dulu memahaminya, bahkan menerapkannya langsung.
“Jadi, bagaimana, Miss Kia?” Kenneth menoleh, menatap Kia yang sejak tadi terperanjat melihat cara Kenneth berbicara.
“Ehmm. Duduk!”
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Sekian dulu ya, moon maap agak telat upnya.
__ADS_1
*Pokoknya jangan lupa Like **👍🏻*