
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Infus di tangan Kia sudah di lepas, dia juga sudah berganti baju dengan pakaian yang di siapkan Kennt sebelumnya.
“Aku akan mengantar mu pulang!” ucap Kenneth santai sembari menikmati secangkir coffee.
Hela napas Kia terdengar berat saat mendengarnya. Ini mengingatkan beberapa menit yang lalu saat dia menolak mengambil baju dari Kenneth. “Jangan egois! Gak masalah kalau gak tertarik padaku, setidaknya pikirkan dirimu sendiri!”
Perkataan Kenneth seakan berputar di atas kepala dan akhirnya menyetujui tawaran lelaki itu. “Oke!” jawab Kia sedikit malu.
Senyum tipis tesungging di wajahnya, dia benar-benar puas dengan jawaban Kia. Ia menyeruput coffee sedikit, kemudian berdiri dan mengambil jas yang ada di sofa.
“Ayo!” ajaknya.
“Berapa tagihannya?” Kia merogoh tas, mengambil benda pipih yang ada di dalam.
Kenneth melirik, “Gak perlu. Menurutmu berapa tagian ruangan VVIP di rumah sakit ini?” Nada Kenneth sedikit mengejek juga tersimpan ke angkuhan di sana.
“Kalau begitu aku ngak sungkan lagi!” jawab Kia berusaha mengikuti gaya Kennt yang angkuh.
Kemarin malam, Keent menghubungi Ziko. Menyuruhnya mengantar mobil sedan yang biasa saja, juga membelikan baju yang seduai dengan ukuran Kia. Ziko benar-benar sekretaris yang bisa diandalkan. Tengah malam sebuah mobil dari merek Honda sudah terparkir, juga mengantarkan satu set pakaian.
__ADS_1
Lelaki itu, dengan sikap gentel membuka pintu mobil untuk Kia, bahkan membantu menutupnya juga. “Apa kamu gak mau mempertimbangkan soal tadi?” tanya Kennt tiba-tiba.
“Kamu masih mau membahsnya?” Kia menjawabnya dengan santai. “Aku ini sudah menikah!” lanjut Kia yang melipat ke dua tangannya.
“Gak masalah, istri orang juga oke. Ngomong-ngomong status yang tertera di biomu itu lajang, loh!” Kennth melirik, melihat Kia yang terperanggah dan menatapnya.
“Hegh! Kau terlalu licik juga ternyata,” ucap Kia.
Kennt meninggikan satu sudut bibirnya, “Terima kasih pujiannya.”
Dia hanya memoles wajah itu dengan bedak tipis, juga lipstik matte yang membuat wajahnya terlihat segar. Semuanya serba tipis, tapi kenapa justru terlihat cantik? Ia yang seperti ini terlihat lebih muda dari usianya.
“Kenapa ke basement?” tanyanya saat aku memilih melajukan mobil masuk ke basement.
“Aku ingin mengantarmu sampai di depan pintu! Bagaimana kalau nanti pingsan lagi dan ditolong orang jahat?”
“Terserah lah!” Ia memutar bola mata dengan sikap cueknya. Tak peduli apapun yang ia lakukan, bahkan sikap cuek dan dingin ini membuatku tepesona olehnya.
Aku mengikuti langkahnya, memasuki lift bahkan sampai di depan apartemen. “Sudah sampai, terima kasih sudah mengantar!” Dia membuka pintu dan bersiap masuk. Dengan cepat aku menahan pintu dengan kaki dan juga tanganku.
__ADS_1
“Tunggu! Seruku lantang. “Aku ... biarkan aku memakai toiletmu, sebentar saja!”
Ia mendorong tubuhku dengan kekuatan penuh, “Engak!” Serunya dan membantung pintu dengan cepat.
Ahh alasanku ini, sangat konyol. Sudah lah, lebih baik cepat pergi ke perusahaan itu!
Masalah begini harusnya Tania atau Ziko sudah bisa cari informasi. Hanya saja, aku khawatir akan semakin runyam jika wanita ini mengetahui semuanya dan mengetahui identitasku. Aku tidak mungkin ambil resiko untuk hal itu. Lagipula ini hanya laporan biasa, harusnya gak masalah jika pergi ke sana kan?
Aku segera turun, mengambil mobil dan mengendarainya. Pergi secepat mungkin memecah kemacetan kota yang belum juga terurai.
Ah sial! Gara-gara dia gak mau buka pintu, ini ... sudah sampai di ujung!!!
...🍃🍃🍃🍃🍃...
Botol mana botol!!!!!!
Tahan dulu bang, jangan sampai ngacir di celana, jangan bikin image kegantenganmu ini ambyar 🙈🙈🙈🙈
Jangan lupa Like.
*Othor juga menampung Vote kok **🙈 apa lagi hadiah 🤭*
__ADS_1