Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 79


__ADS_3

“Masih mau liburan?”


Kenneth tiba-tiba membuka mulut dan berbicara santai.


“Ngak, sudah cukup. Aku ingin pulang.”


“Libur musim dingin, kenapa buru-buru pulang? Kapan lagi ada waktu santai bareng sama anak?”


Seketika, manik mata Kia membulat. Dia mulai memikirkan perkatan Kenneth. Sejak pindah, Kia sangat jarang menikmati waktu santai. Dia terus bekerja meski sedang libur. Tak peduli itu libur musim panas atau musim dingin.


“Sam memberiku banyak voucer hotel. Kita bisa pakai sepuasnya. Kalau bosan di sini, bisa pindah ke tempat lain.”


Kia meletakkan garpu dan menunduk. Memandangi secangkir susu yang masih hangat. “Berapa banyak?” tanyanya.


Kenneth pura-pura menghitung, “Emm ... lima, delapan ... mungkin sekarang tinggal sepuluh.”


“Benarkah?”


Jelas-jelas itu hanya alibi yang di buat Kenneth untuk membuat Kia percaya tentang adanya diskon. Lalu, bagaimana jika Kia meminta bukti tentang itu?


Namun Kenneth mengatasinya dengan santai dan tetap tenang. “Ayah Sam itu salah satu manager di perusahaan JW. Setiap bulan selalu mendapat jatah voucer dari atasan.”


“Dia begitu baik padamu? Memberikan itu cuma-cuma.”


“Hahaha! Kamu memandangnya terlalu serius. Masa berlaku voucer hanya sampai akhir bulan, dan lagi, dia sudah kalah taruhan. Dia itu picik!”

__ADS_1


Kia mendongak, memandangi Kenneth yang asik menikmati sarapan.


“Picik?” gumam Kennt dalam hati.


Ketika berhubungan dengan cinta, semua bisa jadi gila dan juga picik. Voucer itu memang benar adanya. Perusahaan di bawah naungan Kenneth selalu memberikan sebuah Voucer untuk para atasan setiap bulan. Namun, persoalan ayah Sam, Kenneth mengarangnya.


Lagi pula, Kia juga tidak akan mencari tau sampai sedetail itu, pikirnya.


“Voucer itu, apa bisa dipakai ke luar negri?”


Nada bicara Kia terdengar ragu. Ia bahkan tidak memandang Kenneth yang duduk di hadapannya dengan benar.


“Luar negri? Kemana kamu ingin pergi?”



Kemana aku akan pergi? Kemana?


Aku tak berani menatap matanya. Pertanyaanku tadi hanya sebuah keisengan belaka, tapi, saat dia bertanya kembali, aku jadi sedikit ragu.


Liburan? Jelas bukan jadi keinginanku saat ini, tapi jika boleh ....


“Selama itu di bawah naungan JW. Aku rasa voucer masih berlaku.”


Perkataan Kennt barusan membuat leherku tegak dengan sendirinya. Apa yang aku rasakan? Bahagia?

__ADS_1


“Kamu ingin pergi kemana?”


Kemana? Aku sendiri juga tidak tau. Aku hanya benci salju, benci musim dingin, tapi, aku bisa pegi ke mana?


“Di dunia ini, negara bagus mana yang gak punya musim dingin?”


“Asia Tengara, seperti Philipina, Singapore, Malaysia .... Kemana kamu ingin pergi?”


Dulu, aku selalu ingin pergi setiap kali musim dingin tiba. Kemana pun tujuannya, tidak menjadi masalah. Aku hanya tidak ingin mengingat rasa sakit yang muncul setiap musim dingin tiba.


Rasa sakit yang menusuk. Hawa dingin yang menembus tulang, merobek dan menyayat tubuh. Sudah bertahun-tahun terlewat, entah kenapa perasaan itu selalu muncul setiap musim dingin tiba.


Di usir begitu saja dari rumah. Tanpa mantel atau uang yang cukup. Berjalan di tengah hujan salju yang sangat dingin, dan juga, dalam kondisi hamil muda.


Sebenci apa aku dengan musim dingin? Tentu sangat benci. Namun, semua kebencian itu, harusnya aku limpahkan pada satu orang saja.


“Kia ....?”


Panggilannya membuatku tersadar. Membuyarkan kenangan pahit yang tiba-tiba mampir di kepala.


“Dari negara-negara itu, tempat mana yang ingin kamu datangi?” tanyaku yang masih engan memandang wajahnya.



Othor keasikan liburan 😂 sampai lupa sama bang Kennt🤭

__ADS_1


Yang penasaran Jenny anak siapa, abis mereka liburan othor mau bongkar. Jadi jangan lupa sama sajen dan ritualnya. 😘😘


__ADS_2