Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 103


__ADS_3

Matahari baru saja masuk ke peradapannya. Langit di luar, terasa lebih gelap karena bulan tak bersinar, bahkan bintang pun tak ada yang nampak. Kia juga baru saja selesai mandi usai beres-beres rumah. Melihat langit yang suram, Ia buru-buru mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Kenneth.


“Kamu mau makan apa?” tanya Kia mesra.


“Mau makan kamu, boleh?” Goda Kennt.


“Boleh ... perlu saos tomat atau mayonais?”


“Wasabi boleh?”


“Pedas dongg?”


Sudut-sudut bibir Kenneth meninggi. Membayangkan banyak hal yang ingin ia lakukan dengan Kia saat pulang nanti.


“Aku pulang sebentar lagi. Aku makan apa pun, tapi aku lebih suka kamu.”


Dua orang itu seperti anak muda yang baru saja merasakan kasmaran di hati. Saling menggoda satu sama lain ketika jauh. Namun saat dekat, kadang seperti serigala bertemu kelinci. Entah, siapa yang memakan siapa?


Rasa tak sabar membuat Kenneth bekerja lebih keras. Mengerjakan beberapa dokumen mangkrak agar bisa segera pulang. Tak lupa, ia mampir ke toko kue dan membeli beberapa potong untuk istri dan anaknya.


“Jadi ... apa yang kamu masak?”


Tangan-tangan besar itu melingkar, membelit tubuh ramping Kia dari belakang. Sesekali mengigit telinganya, gemas.


“Kamu menganggu aku masak, Kennt.” Kia meneliat geli, saat bibir Kennet terbuka, lidah nakal itu menjulur, menjilat daun telinga Kia. Seakan menyentil bagian terdalam yang samgat sulit dia redam.


“Kennt! Aku mau masak!”

__ADS_1


“Pesan antar aja, yuk?”


Kia berbalik, mendorong tubuh Kenneth dengan cepat. “Ngak mau!” Pekiknya, kemudian melanjutkan memasak.


Kenneth hanya bisa menghela napas kasar dan mengalah. Dari pada menahan hawa panas yang di pancarkan istrinya, ia lebih memilih pergi ke kamar dan melihat Jenny.


Kenneth terlihat asik saat bermain dengan Jenny. Beberapa kali menatap putri kecilnya, ia merasa ada yang aneh. Jenny, terlihat tidak mirip sama sekali dengannya. Kenneth merasa curiga, apakah Jenny benar-benar anaknya?


Satu jam berlalu, Kia memanggil Kenneth dan Jenny untuk makan malam. Mendengar panggilan istrinya, Kenneth buru-buru membuang keraguan dalam hatinya. Ia menggendong Jenny keluar dan menikmati makan malam bersama.


Seperti keluarga kecil pada umumnya. Tanpa kemewahan, hanya kesedarhanaan, tetapi mampu membuat mereka bahagia. Momen seperti ini, Kenneth sangat merindukannya. Duduk bersama keluarga, menikmati makan malam, lalu setelah itu menonton serial televisi bersama. Bercengkrama membahas banyak hal, menceritakan hari berat yang ia lalui.


Tiba-tiba sudut mata Kenneth berair. Membayangkan betapa bahagianya jika keluarganya seperti itu. Namun, itu hanya anggan yang tak bisa ia gapai.


“Ka-kamu kenapa?” tanya Kia melihat sudut mata suaminya berair. Ia buru-buru mengusap, tetapi Kenneth menahan tangannya.


“Siapa? Beraninya kamu merindukan orang lain?”


“Dia ... seorang wanita.” Sudut bibir Kenneth meninggi, melihat ekspresi cemburu dari istrinya. “Kalau sekarang, mungkin usianya 53 tahun. Dia ... ibuku.”


Wajah Kenneth berubah sendu. Ada kesedihan terdalam yang tak mampu di utarakan begitu saja. Melihat suaminya sedih, Kia segera memberinya pelukan hangat.


“Dia ... pasti sangat cantik. Apa aku bisa beremu dengannya? Aku belum bertemu keluargamu.”


“Cantik ... aku gak bisa membandingkan dirimu dengannya.” Kenneth kembali tersenyum sembari menutup mata. Membayangkan Kia berdiri di samping sang Ibu.


“Aku akan memperkenalkan kalian besok.”

__ADS_1


“Beneran? Ngak terlalu cepat?”


Kenneth tersenyum. Lalu, menyikap rambut Kia ke belakang sambil menggelang pelan. “Ngak, besok waktu yang pas.”


Tangan besar nakal itu berhenti di dagu Kia. Perlahan mengarahkannya ke mulut serigala yang siap menerkam. Kia dengan cepat menyadari keberadaan Jenny. Kemudan mendorong suaminya yang sudah haus dan berdiri.


“Ka-kamu mandi sana!”


“Jenny, ayo tidur! Sudah malam!”


Kenneth menghela napas lagi, melihat Kia yang kabur dengan langkah seribunya. Alih-alih mengejar, ia justru mengambil handuk dan pergi mandi. Mempersiapkan diri untuk bertempur kembali melawan penjajah. Iya, penjajah hatinya.


Kia baru saja selesai membersihkan tempat tidur. Pada waktu yang sama, Kenneth keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang. Memperlihatkan roti sobek delapan lapis yang cukup menggoda.


“Hkemm ... air surgawimu netes tuh!”


Kia buru-buru mengambil tisu. Membersihkan air liur yang menetes keluar dari guanya.



Othor bawa yang baru nih.


Sama-sama punya baby loh.


Cuz buruan mampir. Rekomen banget.


Putri Cantik Milik Tuan Reymond.

__ADS_1


Punya kak Zafa.


__ADS_2