
...Kia Pov...
...|...
...|...
Rasa-rasanya, aku tadi tertidur saat membacakan dongeng untuk Jenny. Iya, ingatan terakhir berhenti saat mataku sudah terasa cukup lelah, bahkan aku merasa, dongengku tadi melantur entah kemana.
Perlahan mengerjapkan mata, menatap Jenny masih tertidur pulas di sampingku, dan juga ....
Ada tangan hangat bertengger nyaman di perut, membuatku reflek menoleh.
Rupanya, dia sedang tertidur lelap. Lelaki yang beberapa jam yang lalu menjadi suamiku.
Ahh, aku sudah gila ....
Kejadian itu melintas cepat, menembus tempurung kepala, dan menyalakan lampu terang di dalam sana. Seperti sedang memberiku kepingan ingatan saat itu, juga, saat di kamar mandi barusan.
Oh, ****! Aku beneran gila!
Aku segera bangkit, setelah merasa malu dengan tindakanku saat itu. Berjalan sedikit menjauh dari dia, dan menatap kaca tinggi yang ada di tembok.
Ruam merah yang katanya tanda cinta, terlihat jelas di leher, pundak, bahkan di dada.
Dia beneran buas! Kia, kamu main-main dengan siapa, sih? Haih —
Mau mengomel juga percuma. Lebih baik buat teh untuk menenangkan diri.
Tunggu!!
__ADS_1
Memenangkan diri dari apa? Siapa yang butuh menenangkan diri?!
Ah bereng sek! IQ dan EQ ku mendadak jeblok gara-gara dia!
Sudah mendumel dalam hati cukup lama di depan cermin, pada akhirnya juga menuang teh panas untuk merilekskan diri. Ya, sedikit kafein dalam teh setidaknya bisa membuat pikiranku sedikit jernih dan tenang. Hemm — sedikit.
Jika cinta itu penyakit, maka obatnya adalah menikah.
Pepatah kuno itu mengingatkanku tentang apa yang terjadi padaku. Cintakah — sayangkah?
Mungkin, aku terlalu nyaman bersamanya. Dia satu-satunya lelaki yang bisa aku andalakan kapan pun dan lebih dari siapa pun.
Mungkin, rasa ketergantunganku juga mengambil andil dalam masalah ini. Namun hal yang lebih penting, ada jiwa yang sudah lama kosong dan sendirian. Juga hati yang haus perhatian dan kasih sayang.
Saat tiba-tiba telaga kering itu mendapatkan kucuran hujan setelah sekian lama, siapa yang tidak terlena?
“Melamun apa?” Dua tangan tiba-tiba bertengger di pundak, berbarengan dengan tubuhnya yang menempel dari belakang.
“Kamu mau aku jawab seperti apa?”
“Jawaban yang membuat hatimu puas, karna gak ada hal penting selain itu.”
Sudut-sudut bibirku meninggi tanpa sadar. Dia benar-benar gak peduli tentang nyaman atau tidak. Semua hal baik baginya hanya tentang aku.
Kuharap, ini bukan khayalanku sendiri.
“Mommy ....”
Panggilan dari Jenny membuatku menoleh, dan secala naluriah mendorongnya lagi.
__ADS_1
“Ya, Sayang. Lapar gak? Mau makan?” tanyaku mencoba menghindari lelaki yang lebih buas dari buaya darat.
“Jenny bisa makan ayam goreng di sini?”
Baru saja ingin menjawab pertanyaan Jenny, eh- sudah keduluan sama dia.
“Kata petugas hotel, ada street food di dekat sini. Mau coba?”
Mendengar itu, Jenny jadi lebih bersemangat, bahkan cukup antusias dari biasanya. Sebenarnya, aku masih pengen rebahan menikmati ranjang empuk. Yah, gimana lagi, Jenny memang selalu buat aku gak bisa nolak.
“Oke, mommy siap-siap dulu.”
Cahaya rembulan memantul di atas kolam ikan yang ada di depan toko serba ada. Langit terlihat begitu cerah dengan taburan bintang gemerlap. Angin sepoi berhembus sesekali, menggoyangkan dedaunan. Suasana seperti ini, adalah malam yang di dambakan Kia. Malam dengan langit cerah tanpa hujan salju, juga suasana hangat.
Sepasang suami istri berjalan beriringan dengan bahagia. Menikmati langkah demi langkah yang terasa cukup romantis.
“Di sini, olahan sea food cukup murah.” Jelas Kenneth.
“Ada cumi, gurita, dan teman-temannya. Yang extream juga ada.” Lanjutnya lagi.
Kia berpikir sedikit lama, matanya fokus melihat kobaran api di atas penggorengan. Lantas membuatnya menebak kata extream yang di maksud suaminya.
Pengennya maraton eh, mata udah gak bisa di kondisikan 😂
Lanjut besok pagi dah ya. Jan lupa sajen dan ritualnya!!!
__ADS_1