Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 24


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾...


Kenneth Pov


Selesai pelajaran terakhir, aku segera pulang. Namun, di tengah jalan mobilku mogok. Aku menghubungi Sam dan meminjam motornya. Meninggalkan mobilku agar bisa segera di ambil oleh orang kantor.


Siapa yang sangka, usai mengantar Sam, dua orang mengikutiku di belakang tanpa alasan. Rencana mau bawa mereka ke markas yang lain, tapi sialnya aku yang celaka.


Pandanganku perlahan samar, dengan tangan yang sepertinya patah, bagaimana caraku berenang naik?


Ditengah usahaku yang mungkin sia-sia. Aku melihat seseorang berenang ke arahku. Tangan kecilnya dengan cepat meraih jaket kulit yang sedang ku pakai dan menariknya kuat-kuat. Ia membawaku naik ke permukaan dengan tubuhnya yang kecil.


“Hei! Sadar!” ucapnya kasar.


Nada suara ini, seperti tiga tahun lalu, juga sama seperti seseorang yang hampir setiap hari bertemu denganku. Mataku sudah terlalu berat, lenganku juga cukup sakit.


Sepertinya, aku akan mati.



“Hei! Hei!” Kia berusaha menyadarkan Kenneth yang sudah jatuh pingsan. Namun, usahanya sia-sia. Pertahanannya perlahan mulai goyah, ia merasa sangat lelah. Tidak mungkin jika membawa Kenneth berenang ke pantai yang jaraknya cukup jauh. Satu-satunya pilihan hanya membawanya ke pembatas. Berharap polisi yang ia panggil segera datang dan menyelamatkan mereka.


“Kennt!! Bangun!!” Kia masih berusaha membangunkan lelaki itu saat sampao di pembatas. Berharap lelaki itu sadar dan bisa merangkak naik ke atas. Namun hasilnya masih sama, Kenneth belum juga merespon.


Sudah setengah jam berlalu, tubuh Kia semakin mengigil merasakan dinginnya air laut yang tengah merendam seper-tiga tubuhnya. Bibirnya bahkan mulai membiru. Disaat rasa putus asanya, samar-samar ia mendngar sirine polisi.

__ADS_1


Seketika ia tersadar dan berteriak dengan kencang, “Di sini! Tolong!” Sirine semakin kencang didengarnya. Sepertinya harapan Kia untuk selamat sudah terpenuhi.


Seorang perugas mendongok ke bawah dengan senter di tangan. Petugas itu menyorot ke bawah, menyisir arah suara yang baru saja mereka dengar. Kia yang melihat sorot lampu dari senter langsung melambai.


“Di sana! Mereka ada di sana!” pekik petugas itu saat lampu senter yang ia pegang mendapati seorang wanita melambai.


“Nona, apa Anda cedera?” tanya petugas itu dari atas. Benar, pembatas itu memiliki jarak sekitar lima meter dari permukaan laut.


“Ti-tidak. Tapi teman saya terluka, mungkin patah tulang di tangan!” Nada Kia sedikit bergetar karena kedinginan.


Petugas segera membantu mereka naik ke atas dan mendapatkan pertolongan. Selimut tebal langsung mendarat di tubuh Kia. Paramedis menawarkan Kia untuk berbaring di brankar, tapi ia menolak. Kia lebih memilih duduk di samping Kennt yang tengah terbaring.


“Apa Anda tidak masalah duduk seperti ini?” tanya paramedis.


Pintu belakang sudah tertutup. Ambulance mulai bergerak dengan sirine yang menyala, memecah hiru pikuk jalanan dan bergegas menuju ke rumah sakit terdekat.


Setelah sampai, Kenneth langsung mendapat perawatan. Dokter mengatakan jika lengannya hanya mengalami retakkan, sehingga tidak memerlukan operasi. Mendengar itu hati Kia menjadi lega.


“Gak perlu operasi, cuma butuh pakai gips dan harus memperhatikan gerakan tangannya,” ucap dokter menjelaskan.


Kia mengangguk, memahami apa yang dikatakan dokter yang menangani mereka.


“Sedangkan Anda, Anda mengalami hipotermia ringan. Tidak ada cedera yang serius. Setelah ini, perawat akan membantu Anda.” Dokter melihat termometer.


Dua perawat perempuan datang, menutup gorden dan membantu Kia menukar pakaian yang basah dengan yang kering. Serta membantu Kia mengeringkan rambutnya juga. Sedangkan Kenneth, ia sudah dibantu oleh perawat lelaki untuk berganti baju.

__ADS_1


“Bisa saya meminta data diri kalian?” ucap perawat sembari memegang kertas dan pena.


Kia sempat celingukan, matanya menelisik, mencari sesuatu. Namun ditengah pencarian, ia tersadar. Tasnya berada di mobil saat ia menolong Kenneth.


“Aku lupa dengan tasku, kartu identitasku ada di sana!” ucap Kia dengan gugup.


“Tidak masalah, Nona. Anda bisa menyebutkan saja, juga dengan teman di samping Anda.”


Kia memberitau nama juga alamat tempat tinggalnya. Namun, ia sedikit kikuk saat memberitau identitas Kennt.


“Jadi Anda tidak mengenalnya?” tanya perawat.


“Bukan, saya hanya tau namanya saja. Dia mahasiswa saya di kampus.”


Perawat mengangguk mendengar penjelasan Kia. Usai mencatat, perawat yang lain datang dan memberitau jika kamar rawat mereka sudah disiapkan. Perawat itu menjelaskan jika Kia dan Kennt terpaksa ada dalam satu kamar karena ruang rawat inap yang sedang penuh.


“Ngak masalah!” ucap Kia.


...🍃🍃🍃🍃🍃...


Gak tau kenapa, othor pengen Kia ngaku pacar. Tapi apalah daya 😂😂


Sudah ah, jangan lupa sesajennya 🙈


Like, Vote, Hadiah, Othor menerima semua itu kok.

__ADS_1


__ADS_2