Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 75


__ADS_3


Kenneth Pov


Beberapa menit yang lalu. Tepat saat aku menggendong Jenny pergi meninggalkan kamar dan berjalan di lorong.


“Bagaimana aku harus memanggil? Paman atau om?” tanyanya gadis kecil dalam dekapanku dengan nada polos.


“Daddy? Kurasa itu cocok. Bagaimana?”


“Tapi sebutan itu buat ayahku.”


“Iya, aku ini ayahmu. Jadi kamu bisa panggil aku Daddy.”


“Kamu mau menikah dengan mommy?”


Langkah kakiku terhenti sejenak. Entah apa yang aku rasakan saat itu, senyumku tiba-tiba lepas begitu saja.


“Iya,” ucapku singkat sembari melanjutkan langkah.


“Tidak boleh!” Pekik Jenny membuatku tercengang kaget.


Dia memanyunkan bibir dan melipat tangan, tatapannya begitu tajam, sedang memandangiku.


“Kenapa?” tanyaku mencoba berbicara dengan santai kepadanya.


Gadis kecil ini hanya diam membisu. Bibirnya masih manyun, tapi matanya tak lagi menatap tajam ke arahku.


“Aku gak akan bawa mommy pergi jauh dari mu. Kita akan hidup bertiga. Bagaimana?”

__ADS_1


Dia masih diam membisu, tertunduk dengan raut wajah sedih. Aku mengira, gadis kecil ini takut jika aku merebut ibunya.


Dengan hati-hati aku menurunkan Jenny. Lalu, berjongkok agar mampu mengimbangi tubuh kecilnya.


“Kamu tidak menyukaiku?”


Dia tetap diam dan hanya menggeleng pelan. Sebenarnya, apa yang gadis kecil ini pikirkan?


“Suka,” ucapnya dengan nada lirih dan hampir tak bisa ku dengar. “Jenny suka, tapi ....” Kalimatnya terpotong, kepalanya semakin menundung dengan dalam.


Anak sekecil ini, sebenarnya sedang memikirkan apa? Dia bilang suka, tapi gak ingin aku menjadi ayahnya.


“Sudah sudah! Ayo kita bermain!”



Waktu berlalu begitu saja. Jenny cukup senang bermain di playground. Menghabiskan hampir satu jam bermain bersama bola warna-warni. Begitu bahagia, sampai-sampai melupakan luapan rasa sedih yang baru saja aku ciptakan.


“Uncel, Jenny lelah.”


“Oke, aku akan mengendongmu ke kamar.”


Anak ini selalu bisa berterus terang. Lapar, juga bilang lapar. Lelah, juga langsung bilang lelah. Bahkan perasaan tentang suka atau tidak suka, dia juga bicara dengan terus terang. Sifatnya yang seperti ini, tidak mirip dengan ibunya.


Jenny menyandarkan kepalanya di dada. Tepat saat itu, ada sebuah letupan perasaan bahagia. Perasaan manis yang tak bisa dijabarkan dengan gamblang. Sangat menyenangkan.


Apa seperti ini rasanya menjadi seorang ayah?


Perasaan ini ... sangat menyenangkan.

__ADS_1


“Uncel ...”


“Eemm”


“Jenny bisa main seperti tadi, kalau Jenny memanggilmu Daddy?” Jenny berkata tanpa mengangkat kepalanya, dia terus bersandar dengan manja.


“Tidak! Kamu bisa bermain tapi tidak setiap waktu. Jenny masih harus tidur siang, dan nanti harus pergi ke sekolah.”


Dia menengadah, menatapku dengan mata yang setengah sayu, memasang wajah manja dan ... terlihat cukup imut.


“Kalau nanti, Jenny bermain sampai lupa waktu, Jenny harus tidur di gudang?”


Kaget, tentu saja. Kenapa dia bisa berpikir tempat dan hukuman seperti itu? Kia gak mungkin akan hukum Jenny seperti itu kan? Atau pengasuhnya?


“Jenny takut, tempatnya gelap.” Jenny kembali menyandarkan kepalanya.


“Jenny pernah tidur di gudang?”


“Paman tua itu marah, lalu ... nenek bawa aku tidur di tempat gelap dan ....” Kalimatnya terdengar berat dan tertahan di akhir. Setelah menunggu lama, Jenny tak melanjutkannya dan justru tertidur dengan pulas dalam dekapanku.


Pikiranku mulai menerka, mencoba menebak. Sebenarnya masalah apa yang mereka hadapi?


Tenang saja, Nak. Aku akan membuat kalian berdua bahagia apa pun yang terjadi. Jangan takut!



Bab selanjutnya OTW (Oksek Tunggu Wae)


Nih yang orang jawa pasti tau 🤭

__ADS_1


Jangan lupa ritual wajib. Gak ada ritual gak lanjut!!! 🤭 #othormaksa


__ADS_2