Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 45


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾...


Kenneth Pov


Ada yang haus, tapi ngak pengen minum. Lapar, tak tapi ngak pengen makan nasi. Maunya menikmati dia. Wanita yang napas sedang terengah-engah. Dengan bagian lain yang basah.


Saat dia memanggilku dengan nada mesra seperti itu. Sekujur tubuhku bergetar, seperti baru menerima sinyal. Amarah yang tadinya membumbung juga perlahan padam.


“Gak peduli jika itu ayah Jenny, jangan dekat laki-laki lain. Ingat itu!”


Manik matanya menatapku begitu dalam. Entah dia mengerti yang aku ucapkan atau masih berada dalam bayang semu penuh makna. Kutarik pinggang yang tak begitu kecil itu, agar lebih dekat denganku. Lalu mendaratkan satu ciuman yang kukira akan ditolaknya.


Rasa yang begitu manis, mana mungkin aku sia-siakan?


Melihat dia yang seperti ini. Sepertinya aku gak perlu pergi ke ahli sihir untuk membuatnya patuh.


“Jangan seperti itu lagi, oke!” ucapku lembut usai melepas panggutan.


Dia mengangguk dengan patuh. Meski tertunduk, aku dapat melihat rona merah di wajahnya sedikit jelas. Momen pertama saat melihat kucing yang tadinya galak, menjadi patuh dan menurut.


“Aku belanja beberapa bahan. Bisa masakin aku gak?” pintaku tanpa malu-malu.


“Oke!” Dia masih tertunduk malu.


Cuma bisa tersenyum puas saat lihat reaksinya. Aku jadi ingat waktu kecil, saat ayah menghukumku. Cuma bisa menjawab dan mengangguk dengan patuh.


Kucium kening itu, lalu pergi ke kamar mandi. Namun sebelum menutup pintu ....


“Miss....”


Panggilanku sempat membuatnya terkejut, dan menurunkan tangan dari wajah yang tersipu malu.


“Jangan pedas, ya.”


“O-oke!” Dia mengambil kantong belanjaan yang ku jatuhkan di dekat pintu dan pergi ke dapur dengan cepat.


“Salah tingkah, kah?” Begitu tebakan yang muncul di pikiranku.


Aku lekas menutup pintu, karena ada yang perlu ditenangkan sebelum menikmati hidangan makan malam. Sabar tuan besar, akan ada saatnya kamu menikmati perjamuan. Ketika saatnya tiba, aku akan membuatmu bahagia dan puas.

__ADS_1


Begitu keluar dari kamar mandi, langsung di sapa oleh bau harum yang begitu menggoda. Juga, seorang wanita cantik yang sedang sibuk memasak. Pikiranku jadi berkelana. Membayangkan kehidupan rumah tangga yang sederhana tapi bahagia.


Kupeluk tubuh itu dari belakang. Aku langsung merasakan hentakan kaget yang ditimbulkan dari reaksinya. “Ka-kamu ngapain?” tanyanya berusaha melepas tanganku.


“Perlu bantuan gak?”


“Du-duduk saja! Ini hampir selesai!” Dia masih mengeliat, berusaha melepaskan diri.


Baiklah, kali ini aku mengalah. Lagi pula, aku juga gak bisa pegang pisau dan bergelut di dapur. Dari pada nanti malah bikin malu.


Baru sebentar menikmati drama di televisi. Dia sudah meletakkan beberapa lauk di meja.


“Sudah siap, makanlah!” ucapnya yang kemudian berlalu pergi.


Tak terima dengan sikap acuhnya itu. Aku langsung menarik tangannya. Membuat wanita itu berbalik badan seketika.


“Temani aku!”


Dia tak menjawab, hanya melempar tatapan gak sukanya padaku. Bukan Kenneth Lee kalau harus takut dengan tatapan seperti itu.


“Aku kenyang!” serunya mengibaskan tangan.


Baru bilang seperti itu, suara dari dalam perutnya sudah protes. Aku hanya menaikkan satu sudut bibir. Melihat wanita yang tadi menolak dengan suara lantang, kini justru tertunduk.


“Oke, aku temani!”


Inisiatif mengambil mangkuk dan sumpit, lalu duduk di kursi tanpa diperintah. Hal yang seperti ini, jelas aku sangat puas.


Duduk dengan baik, dan mulai mencicipi masakannya. Trauma masih ada saat itu, tapi entah kenapa, tanganku seolah tak peduli dan langsung mendaratkan daging dengan bau yang begitu menggoda ke dalam mulut.


Cuma bisa berkomentar satu kata, ‘wow’.


Bukan cuma cantik dan se-xy, tapi juga pandai memasak. Wanita seperti ini, jelas harus jadi rebutan. Namun yang aneh, kenapa dia masih lajang sampai sekarang?


Aku melihatnya mengambil bubuk cabai yang ada di meja. “Kenapa kamu tuang di nasi?” tanyaku saat melihat dia menuang bubuk itu di atas nasi.


“Aku gak bisa makan maknan yang hambar!”


Ha-hambar kata dia? Dia gak lagi nyindir aku yang gak bisa makan pedas, kan?

__ADS_1


“Dia ayah Jenny?” tanyaku langsung pada masalah yang mengganjal di hati.


“Bukan!” jawabnya acuh.


“Lalu?”


“Cuma fans!”


“Dimana ayah Jenny?” Ucapanku membuatnya menghentikan gerakan sumpit. “Kamu lajang dan belum menikah.”


Dia meletakkan sumpitnya dengan kasar ke atas meja. “Kamu lagi slidiki aku!” Tatapannya begitu tajam. Seperti induk singa yang melindungi anaknya.


“Ngak. Seluruh kampus tau jika kamu belum menikah. Sepertinya mereka gak tau soal Jenny.”


Dia membuang wajahnya sesaat, lalu kembali menatapku.


“Dengar! Dari awal itu memang salahku, karena sudah bertaruh. Aku juga sudah menepati taruhan itu kan. Bisa gak, kamu gak bahas masalah pribadiku?”


Mendengar itu membuat hatiku sedikit ngilu. Terlepas dari taruhan, memang sudah sejak awal aku ingin memilikinya. Taruhan hanya sebatas jebakan untuk mengikat dan membuatnya suka padaku. Namun nyatanya, aku salah persepsi.


“Miss, perasaanku padamu itu tulus. Mau ada taruhan atau engak. Dari awal emang udah suka.” jelasku berusaha berbicara baik-baik dengannya.


“Bisa gak, aku masuk dalam hidupmu? Jadi suamimu, jadi ayah Jenny. Gak peduli gimana kamu dulu dapetin Jenny.”


Dia memandangku dengan tatapan ragu. Memang, aku tak tau alasannya tetap melajang sampai saat ini. Apa dia belum mendapatkan lelaki yang menerima masa lalunya? Atau menerima seorang ibu dengan anak?


Atau mungkin ....



Ada yang tegak tapi buka tiang 🙈😂


Duh, pikiran othor berkelana naik kuda. Menjajahi lembah menaiki gunung. Mengapai tombak gede 🙈


Othor lagi bahas adventure loo ya 😏


Dahlah!


Jangan lupa, sajen 😌😌

__ADS_1


__ADS_2