
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
“SAKIA SHEN!” Teriakan Kenneth membuat Kia dengan cepat berdiri dan duduk. Berlagak seperti kucing yang baru saja memecahkan mangkuk, tapi tidak merasa bersalah dan justru memasang wajah imut. Begitulah yang dilakukan Kia.
Kenneth dengan cepat membetulkan celananya yang sempat melorot akibat ditarik Kia. Ekspresi wajahnya sudah tidak bisa ditebak. Entah itu marah, atau malu. Hampir tidak ada bedanya diantara keduanya.
“Kamu marah ... Sayang?” Kia menatap Kenneth dengan wajah imutnya. Bahkan masih sempat mengedipkan mata, berusaha menarik perhatian Kenneth.
Lelaki itu akhirnya berjongkok, menatap Kia dengan senyum menyerigai dan bertanya, “Marah?”
Instingnya wanitanya bereaksi, memberikan sebuah sinyal merah tanda bahya. Sekonyong-koyong ia mengangsurkan tangannya ke leher dan memeluk Kenneth.
“Kamu marah bagian mana?” tanyanya. “Yang harus marah kan aku? Aku punya saingan yang licik!”
Kia masih terus menggomel. Sedangkan Kenneth justru terperanggah dengah sikap Kia.
Baru pertama sejak mereka respi berpacaran. Kia dengan inisiatif memeluknya seperti ini. Jelas dia tidak mau kehilangan kesempatan.
“Bisa diam sebentar gak?” ucap Kenneth.
Kia menghentikan ucapannya, kemudian mengangkat kepala hendak melihat wajah Kennt. Namun, dengan cepat lelaki itu mendorong kepalanya lagi. Tangan kirinya mendekap Kia dengan erat. Membuat udara hangat di antara keduanya keluar.
“Kia, bisa gak, kita aku seperti pasangan yang lain? Aku gak peduli tentang masa lalumu, kamu ...” perkataan Kenneth terpotong oleh Kia.
“Aku salah, harusnya gak bahas itu sama kamu, tapi ... pikachu itu beneran lucu looh!” Kia terkekeh pelan, membuat dahi Kenneth berkerut.
__ADS_1
“Kayaknya kamu bahagia?” Sudut-sudut bibirnya terangkat. Simpul senyum menyerigai itu, Kia jelas melihatnya.
Kia menghentikan tawanya, “Aku?” Ia melepaskan pelukannya, menatap lawan bicaranya dengan tatapan heran.
Kenneth Pov
Waktu dia bahas itu, sebenarnya aku gak marah. Kecewa, mungkin iya, tapi gimana pun, lihat dia langsung lari ngejar aku itu hal yang membuatku puas. Namun, ternyata dia masih memberiku kejutan yang lain. Entah apa yang membuatnya hilang keseimbangan sampai jatuh.
Lagian, aku juga kenapa sih tadi milih boxer ini?
Harusnya kan aku pake Batman atau si petir, Thor. Pikachu mana ada gagah-gagahnya?
Alih-alih marah, begitu lihat tingkahnya seperti itu, aku jadi gak tega. Yah, bisa dibilang, dia lolos kali ini!
Berharapnya, dia meraih tanganku dan tersenyum manis. Namun kenyataannya lebih pahit dan getir dari pare. Dia berdiri begitu saja dengan wajah riang, “Ayo!” serunya tanpa peduli uluran tanganku.
Sabar Kenn, sabar!
Akan ada saatnya untuk balas dendam!
Aku meliriknya, melihatnya makan dengan suasana hati yang riang. Benar, dia seperti kucing yang baru saja memecahkan vas mahal. Bukan merasa bersalah, justru memasang wajah imutnya, lalu pergi begitu saja setelah majikannya luluh.
Cih, benar-benar kucing yang imut!
“Kenapa diam aja? Ayo makan!” ucapnya santai menatap ke arahku.
__ADS_1
Haih!! Wanita ini, aku beneran gak tau harus nunjukin sisi yang mana sama dia. Kadang begitu angkuh, kadang seperti anak kecil, dan menjengkelkan!
Aku duduk di sebelahnya, mengambil mangkuk mie yang ternyata sudah dingin. Secara otomatis, naluri presdir sombongku keluar. Aku mengambil mangkuknya dan meletakkannya di meja.
“Kamu ngapain sih?” Serunya protes.
“Mienya dingin. Aku pesenin lagi!”
“Boros! Lagian, siapa suruh kamu lama di kamar mandi? Mana kuahnya udah dicampur sama mie!” Omelnya tanpa jeda.
Apa semua wanita kalau sudah mengomel seperti ini? Bicara terus tanpa kenal titik, koma, bahkan lupa mengambil napas?
“Kamu gak tau, nahan ... nahan ... itu gak baik!”
Haruskah kujelaskan secara gamblang bagian ini? Dia dan kalian gak mungkin salah paham sama ‘nahan itu’ yang aku maksud?
Kan lucu pikachu bang, comel comel bawa petir segede gaban 🙈😂😂
Bang, tengah malem jan buat orang traveling ngabisin duit deh!
Dah lah, othor mo semedi nyari wangsit!
Jangan lupa sajen dan ritual wajibnya yak 😘
__ADS_1