
...Kenneth Pov...
Hampir satu jam berkendara, akhirnya berhasil sampai di apartemen. Jujur saja, ada perasaan takut, resah, dan khawatir, yang sejak tadi mengusik hati. Namun, aku tak peduli, semarah apa pun dia, aku pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan. Termasuk mengakui perbuatan bejatku empat tahun lalu.
Ku buka pintu apartemen dengan buru-buru. Namun saat masuk, semua ruangan gelap, dan juga sepi.
"Kia, Sayang," panggilku.
Heran, tentu saja. Aku yakin, sudah menyuruhnya pulang sejak kelasnya berakhir. Kalau pun keluar, dia pasti kirim pesan terlebih dahulu. Lantas, kemana mereka?
Ku nyalakan lampu yang ada di ruang tengah, dan ….
"Oh, ****!" seruku kaget melihat Kia duduk di sofa dengan tatapan kosong.
"Ka-kamu kenapa gak nyalain lampu?" tanyaku menghampirinya.
Aku mendengarnya menghela napas cukup panjang, sebelum akhirnya memberiku sebuah pertanyaan yang sulit aku jawab.
"Apa tujuanmu?"
Sepanjang perjalanan, aku sudah merangkai kata-kata mutiara sebagai jawaban atas pertanyaan yang mungkin ia lontarkan. Namun, hal yang pertama dia tanyakan justru membuatku terdiam beberapa saat.
"Kia, Sayang," panggilku lirih berusaha membujuk sembari memegang tangannya, tapi ditepis begitu saja.
Sebagai lelaki yang sudah berstatus sebagai suami. Aku memilih duduk bersimpuh di kakinya. Bagaimana pun, ini semua juga kesalahanku karena sudah menipunya.
"Dengar, tujuanku menikahimu hanya ingin hidup bahagia bersamamu, dan juga Jenny," jelasku menatap matanya, meski ia tak menatapku.
__ADS_1
"Maaf, aku menipumu dari awal. Terutama tentang identitasku. Aku sedang diterpa masalah, beberapa dewan menuntut calon presdirnya agar mempunyai ijazah sarjana. Jadi, aku masuk ke kampus dengan identitas mahasiswa."
"Kamu tau arah pembicaraanku?" tanyanya singkat.
"Ngak, aku hanya ingin membicarakan semuanya dari awal. Memberimu penjelasan agar kamu tau sebelum bertanya."
Kutatap wajahnya yang terlihat sembab seperti habis menangis. Entah, pukulan sebesar apa yang baru saja aku layangkan untuknya. Semua ini salah, memang sudah salah sejak awal, dan aku menyesali kebohonganku.
Pada akhirnya, aku mulai menceritakan semuanya.
Terlahir di sebuah keluarga kaya, juga penerus perusahaan besar dan terkemuka. Termasuk sebuah kutukan bagiku. Sejak kecil harus dituntut menjadi lelaki yang cerdas, mampu menghadapi segala persoalan yang diberikan guru. Mampu menerapkan ilmu bisnis, perdagangan, jual beli, di usia yang masih belasan.
Waktu main di batasi, waktu belajar cukup panjang, segala les, kursus, bahkan etika di perjamuan pesta. Dan hal yang memuakkan adalah pernikahan yang diatur.
"Kia, aku menyukaimu, sejak awal, sejak pertama kali kita bertemu empat tahun lalu."
"Empat tahun lalu?"
Pada akhirnya, ceritaku sampai pada titik terberat di hidupnya. Malam dimana dia ternoda dengan paksa oleh ku, hingga mengandung dan melahirkan Jenny sendirian.
Sampai pada titik ini, hatiku seakan rapuh. Lebih rapuh dari pada menceritakan kisah kecilku yang penuh tekanan. Namun, aku tetap harus menjelaskan semuanya.
"Kota kecil itu … hotel Kingstone kamar nomor 5096."
Mata Kia membulat penuh dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia mencengkram rambut diatas telinga dengan kedua tangan, sambil berjalan mondar mandir.
"Ngak, gak mungkin. Itu pasti bukan kamu!" gumamnya seolah tidak percaya.
Aku pun langsung berdiri, mencoba menenangkannya dengan memegang kedua pundak.
__ADS_1
"Kia, sorry. Aku melakukan sesuatu yang buruk padamu malam itu. Maaf, telah membuat dirimu dan Jenny melalui hari-hari yang berat."
Dua tangannya mendorong tubuhku dengan cepat, hingga mundur beberapa langkah.
"Jadi, kamu menikahiku karena Jenny? Kamu mendekatiku karena malam itu?"
Aku kehabisan alasan. Sebagian ucapannya memang benar, semua karena Jenny, karena anak itu. Namun, aku sudah lebih dulu terpesona dengannya sejak malam itu.
Lalu, bagaimana aku menjelaskannya?
Alih-alih menjelaskan, aku lebih memilih menenangkannya dirinya dulu yang sudah terguncang. Kutarik tangannya dan langsung mengecup bibir tebal nan kecil. Lalu menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Meski beberapa kali tubuhku di usir keluar dengan dorongan.
Menurut kamus berumah tangga, cara terampuh menenangkan istri adalah memberinya kecupan, kecupan dan celupan. Jadi, aku harus mencoba lebih sabar saat dia menolak.
Benar saja, perlahan dia mulai luluh dan berhenti mendorongku. Kini, hanya pukulan-pukulan ringan yang dilayangkan ke dada, serta gigitan lembut di bibir.
Puas dengan luapan kekesalannya, ia mulai menyandarkan keningnya di dada kiriku sambil terisak. Serta, tangan yang masih terus memukul ringan dada sebelah kanan.
"Kau pikir Jenny anakmu? Dia bukan anakmu, Ken. Dia bukan anakmu!"
Pernyataan ditengah isak tangisnya, membuat bibirku menciut. Bahkan kedua sendi kakiku lesu tak bertenaga.
Jenny, bukan anakku?
...||...
...||...
TBC
__ADS_1