
Suaranya begitu serak, sebisa mungkin menguatkan tenaga untuk membuka mulut dan berbicara. Memaksa air matanya untuk tak menetes atau bahkan berkaca-kaca. Namun pada akhirnya, mata itu tetap memerah.
“Tunanganmu, baru saja menelfon!”
Wajahnya datar, rasa marahnya berusaha ditekan. Kenneth melihat wanita yang berdiri di hadapannya itu begitu dingin. Bahkan lebih dingin dari pada salju yang baru saja turun.
Kia berbalik, langkahnya begitu ringan menyusuri lorong. Kenneth terperanjat beberapa saat. Menyusun kata dan alasan untuk menjelaskan pada Kia. Begitu sudah mendapatkan ide, Kia sudah masuk, tapi pintu belum sepenuhnya tertutup.
Sesegera mungkin lelaki itu berlari, menahan pintu dengan satu tangannya. Namun Kia tak memperhatikan, pintu itu menjepit tangan Kenneth hingga lelaki itu berteriak. “Ah!”
Kia menoleh, melihat pintu terdorong dari luar. “Sayang, kamu lagi cemburu ya?” Nadanya begitu fasih, seakan tak ada beban apa pun, tak ada rasa bersalah yang terpancar. Justru raut wajah mengejek yang bisa Kia lihat.
Kia berbalik, tak memperdulikan lelaki itu. Melempar tas jinjingnya ke sofa dengan kasar, lalu mengambil air minum.
“Dia bukan tunanganku!”
Perkataannya terdengan lantang dan penuh percaya diri, membuat Kia menghentikan tegukannya, tapi bibirnya masih terdiam menghimpit pinggiran gelas. Setidaknya perlu beberapa detik, sampai Kia menaruh gelas di atas meja.
“Aku gak ada ayah atau ibu, hanya punya kakek. Dia memaksaku menikah dengan seorang wanita.” Kenneth menyandarkan tubuhnya di dinding. Menatap Kia yang memandangi gelas.
“Dia bukan gadis baik. Pernah diam-diam menjebakku tidur dengannya. Aku tak suka, tapi kakek memaksa.”
__ADS_1
Kia tertunduk sesaat, lalu, dengan mantap menatap Kenneth yang berdiri di depannya.
“Jadi, kamu udah gak perjaka?”
Tatapan Kennteh berubah datar, satu sudut alisnya meninggi. Ia tak percaya Kia akan mengajukan pertanyaan seperti itu.
“Engak!” jawab Kenneth acuh.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tak enak. Raut wajahnya begitu masam. Terlalu engan untuk menatap wajah Kia.
Lelaki itu dengan mudah menerima segala kemungkinan yang terjadi pada Kia sebelumnya. Namun, apa seperti ini balasannya?
Kia kembali memandang gelas dengan air yang sisa setengah. Alih-alih mengalihkan pikirannya yang lari entah sudah mengunjungi berapa negara, ia justru mengambil gelas dan langsung meneguk habis isinya.
Suasana menjadi dingin selama beberapa saat, bukan karena penghangat ruangan yang belum dinyalakan. Mungkin lebih karena keadaan yang tiba-tiba mencengkam. Pertanyaan dengan niat bercanda, tapi menjadi begitu sensitif di telinga Kenneth
“Hari ini, aku gak masak!” Kia masih terlalu engan menatap Kenneth. Nada bicaranya sedikit kasar, tak ada rasa bersalah.
“Iya. Aku datang bukan minta makan. Hanya ....”
Perkataannya tertahan, oleh gelombang kecewa yang baru saja diciptakan Kia. Kenneth tersenyum dengan masam, melihat dua pasang kakinya yang masih memakai sepatu.
__ADS_1
“Nyalakan penghangatnya dan istirahatlah lebih cepat!” Kenneth berbalik, bersiap melangkah pergi. Namun, baru berjalan dua langkah, ia berhenti. Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan kotak.
“Ini untukmu dan Jenny!” Kenneth meletakkannya begitu saja di atas meja.
Kia tak menoleh, juga tak mengucapkan apa pun. Bahkan tak melihat bayangan lelaki itu yang perlahan pergi. Mendapat perlakuan Kenneth yang tak biasa. Iaenyadari ada yang salah dan akhirnya tertunduk penuh penyesalan.
Harusnya, dia tak berkata seperti itu.
Alih-alih mengejar, ia lebih tertarik dengan kotak yang baru saja di letakkan Kenneth dia atas meja. Penasaran, sudah pasti.
Ia meraih kotak merah pekat yang berbentuk lonjong. Lalu, membukanya dengan hati-hati. Dua pasang gelang yang begitu cantik berwarna perak. Satu pendek dan satu lebih panjang. Ia mengambil salah satu yang lebih panjang. Di keduanya terdapat tiga inisal nama yang saling menyambung.
Kia melonggo begitu memahami inisal huruf, ia bahkan menggunakan tangannya untuk menutup bibir yang menganga. Kagum, terkejut, bercampur menjadi satu.
“Aish! Dasar mulut lecek!”
Sajen sajen ......
Ritual wajibnya jangan sampe lupa. Hari ini othor ketiduran. Belum sempet nyari wangsit 🙈
__ADS_1