
...||...
...||...
Selesai berbicara dengan Julius, Kia tak langsung keluar dari coffee shop. Ia masih duduk di sana, menghabiskan secangkir Latte yang masih hangat.
Dia … sesuai dengan nama dan ketenarannya. Hal apa yang tidak bisa ditutupi dari orang kaya?
Kia bangkit berdiri usai menghabiskan secangkir latte, lalu mengambil kembali belanjaannya dan kembali ke apartemen.
Baru keluar dari pintu, tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh seseorang, dan membuatnya masuk ke dalam mobil. Gerakan yang cepat membuatnya tidak sempat menghindar dan hanya mampu berteriak.
"Si-siapa kamu? Apa yang kamu lakukan?" teriaknya berusaha memberontak.
Seorang pria tanpa permisi menyandarkan kepalanya di pundak Kia sembari berkata, "Diam sebentar, aku mohon."
Mendengar suara yang tidak asing, Kia pun menoleh. Memandangi pria lancang yang bersandar di bahu dan sedang menutup mata, adalah Kenneth. Pria yang dua bulan ini tidak terlihat batang hidungnya.
Kia hanya bisa mendengus kesal sambil melipat tangannya. "Kalau mau tidur, bisa di rumah!"
Namun perkataannya tidak mendapat respon. Pada akhirbya, wanita itu hanya bisa menghela napas pasrah.
"Hei, kamu," ucap Kia kepada seorang supir yang berdiri di luar sambil membuka kaca.
__ADS_1
"Iya, Nyonya."
"Ada apa dengan dia?"
"Tuan Muda baru saja selesai rapat di Ingris dan langsung terbang pulang. Begitu sampai, tuan muda menunggu Anda keluar dari supermarket."
Keluar dari super market? Jadi, dia tau kalau kakeknya menemuiku?
Kia kembali menutup kaca, lalu menghoyangkan pundaknya untuk membangunkan Kenneth.
"Bangun, aku tau kamu tidak tidur!" seru Kia.
Namun, lelaki itu tidak membuka matanya atau bergerak sama sekali. "Bangun atau aku tinggal pergi!"
"Jangan, jangan pergi!"
"Kia, kita masih bisa hidup bersama kan? Aku gak peduli Jenny anak siapa, selagi ia lahir dari rahimmu, dia sudah jadi anakku."
"Kia, aku gak bisa tanpamu. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku."
Kia menarik napasnya dalam-dalam, lalu tersenyum. "Kennt, Jenny juga bukan anakku!"
Pernyataan Kia kembali memberi kejutan besar bagi Kenneth. Tidah heran, kalau dia langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Kia.
__ADS_1
"A-apa maksudmu?"
"Dua bulan setelah malam itu, aku baru tau kalau aku hamil. Dokter bilang, kandunganku lemah dan harus banyak istirahat. Tapi …." Kia tertunduk dengan ekspresi tertekan.
"Karena aku keluar dari rumah, aku harus bekerja ekstra untuk membayar sewa juga kebutuhan. Sehingga, anak itu … hanya bisa bertahan di bulan ke tujuh."
Hasil dari kejadian empat tahun lalu, nyatanya tidak hanya membuat Kia kehilangan kesuciannya, tapi juga memberikan kenangan yang buruk. Meninggalkan rumah, bekerja siang hingga malam, dan harus kehilangan anak yang sedang di kandungnya.
Tidak ada komentar atau pertanyaan yang keluar dari mukut Kenneth. Dia justru memeluk Kia dan meminta maaf.
"Jangan bersedih. Aku berhutang maaf padamu, semua itu salah ku. Kalau saja aku bisa lebih cepat dan menemukan kalian … maaf, Kia."
Apa yang harus dimaafkan? Semua sudah terjadi dan telah berlalu. Luka itu juga perlahan sembuh seiring dengan waktu yang berlalu.
"Hidupku gak sepenuhnya semenderita itu. Semua berkat ibu Jenny. Dia memberiku semangat dan juga kehidupan. Aku berhutang padanya, Kennt. Berhutang pada Jenny."
Kedua mata Kia menjadi basah tanpa sadar kala membahas tentang Jenny dan ibunya.
Sebenarnya, apa yang telah terjadi 3 tahun lalu? Kenapa Kia berhutang pada gadis sekecil itu? Dan kemana orang tua Jenny?
...||...
...||...
__ADS_1
TBC