
Angin semilir masuk ke dalam ruangan. Membawa hawa dingin yang cukup menusuk kulit. Mata lelaki itu tajam bagai elang, menatap Kia yang baru saja mengejeknya. Tak terima, tentu saja.
Ia melangkahkan kaki, menukul mundur mangsa hingga langkahnya terhenti oleh dinding. Dengan tatapan datar, ia menaruh tangannya di dinding. Mengunci musuh agar tak dapat meloloskan diri.
“Ngepet?” Satu sudut alisnya naik. “Aku gak suka kata-kata itu. Aku lebih suka ....” Kenneth melangkah lebih dekat. “Disebut simpanan dosen cantik!” Napasnya yang hangat begitu terasa saat ia berbicara tepat di telinga Kia.
Tubuh wanita itu tiba-tiba merinding. Entah karena udara dinginc atau karena napas Kenneth yang terasa hangat. Kenneth menjilat cuping Kia yang tengah memerah malu. Membuat Kia memejamkan kuat-kuat dan mengangkat pundak.
Geli, begitu yang ia rasakan.
Kenneth menjadi semakin nakal. Bibir tipisnya sempat mengukir senyum menyerigai, sebelum akhirnya pergi menjelajah.
“Ja-jangan! Hentikan! Kita masih di kampus!” Rintih Kia.
Kenneth menarik bibirnya dari leher jenjang Kia. “Oh, jadi kalau di rumah, boleh?” Tatapannya begitu menggoda, dengan simpul senyum puas.
Kia menarik bibir ke dalam dan mengigitnya.
“Pertanyaan yang begitu menjebak. Kenneth sialan!” umpatnya.
Sesegera mungkin ia mendorong tubuh Kenneth, kemudian keluar dengan cepat. Kenneth berbalik, menatap punggung itu yang perlahan pergi meninggalkannya. Wajah puas lelaki itu tak dapat ditutupi lagi.
Kenneth Pov
Aku ini udah kek anak kecil sih? Baru berhasil menggodanya udah sesenang ini. Jelas-jelas, dulu gak perlu menggoda, wanita mana yang gak jatuh di pelukanku?
__ADS_1
Cih!
Baru berjalan beberap langkah, tiba-tiba dalam ingatanku melintas sebuah ingatan. Tentang perintah menyelidiki Jenny yang baru kuturunkan pada Ziko kemarin. Juga tentang ....
Ponselku!
Mataku membelakak. Teringat ponsel yang aku simpan di saku mantel.
Agh sial! Semoga Tania atau Ziko gak menghubungiku di sana. Bisa gawat kalau Kia sampai tau.
Cari dia sekarang juga rasanya gak etis. Mending biarin dulu, deh. Aku coba cari pinjaman ponsel dulu.
Sebentar berpikir mau pinjam ke siapa. Aku tiba-tiba ingat seseorang. Segera saja pergi ke ruang dekan. Namun saat di tengah jalan ....
“Kenneth!”
Aku menoleh, melihat Sam berlari kecil menghampiriku. Sepertinya aku masih cukup beruntung mengenai ini.
“Hah?”
“Ponselmu! Aku pinjam sebentar.”
Aku tau IQ anak ini cukup tinggi, hanya saja EQ-nya sedikit rendah. Cih, aku menyayangkan itu. Jika keduanya seimbang, mungkin aku bisa menempatkan dia di kantor.
Sam merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan memberikannya padaku. Tanpa basa basi lagi, langsung saja aku menghubungi Ziko.
“Ziko ....” sapaku lirih
__ADS_1
“Pe-Pe ....”
“Cukup!” Nadaku sedikit meninggi, berusaha menghentikan perkataan Ziko.
“Beritau Tania dan yang lain, jangan menghubungiku dulu!” Berbicara dengan nada rendah sambil memijit kening. Entah kenapa, keningku tiba-tiba berdenyut.
“Pon-Ponselku, ponselku dibawa wanita itu!”
Ziko terdiam sejenak. Membuat kepalaku semakin berdenyut. Saat ini, harapanku cuma satu. Sekretaris lancang ini, gak akan mangukur batas sabarku.
“Ah, jadi lagi disita pacar. Saya mengerti, Bos!”
“Di Alhambra, sepertinya butuh ....” Gertakku yang langsung dipotong.
“Anda tenang saja! Saya akan melaksanakannya!” Selanya dengan nada cukup tinggi.
Punya dua Tangan Kanan, tapi kenapa semuanya makin lancang sama bos sendiri? Aku ini kurang galak, kah?
Aku menoleh, melihat Sam yang dengan tenang menungguku selesai menelfon. Ya, aku akui, dalam hal ini, dia masih punya batas kesopanan untuk gak menguping.
“Thanks, Sam!” Aku menyodorkan ponselnya.
Sam hanya mengangguk dengan sudut bibir yang terangkat. Ia merengangkan tangan cukup cepat, lalu meletakkan satu tangannya di pundak.
“Ayo, jam berikutnya udah mulai!”
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1
Sajen sajen ....
Bab selanjutnya segera meluncur 🛬🛬🛬