Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 109


__ADS_3

...||...


Kia langsung pulang usai menyerahkan laporan ke ruang dekan. Sedangkan Kenneth, dia memutuskan pergi ke rumah kakeknya, Julius. Mengingat sudah berbulan-bulan ia tidak kembali ke rumah megah milik kakeknya.


Hari masih terang saat mobil tua yang dia kendarai masuk ke pekarangan rumah. Melihat mobil klasik milik tuan muda, seorang pelayan buri-buru berlari masuk ke dalam.


"Tuan Besar, Tuan Muda kembali," ucapnya kepada seorang kakek tua berjenggot putih, yang duduk menikmati teh.


Julius menaruh cawan teh ke atas meja, lalu meraih tongkat hitam yang ada di samping sofa. Sembari menunggu cucu yang dianggapnya durhaka itu masuk ke dalam. Tatapan tajam bagai pedang, langsung dilayangkan ke arah Kenneth. 


Namun, cucu durhaka itu justru berjalan tanpa beban dan rasa bersalah. Mengabaikan tatapan mematikan dari kakek dan duduk di sofa, tepat di depan Julius.


"Aku mau kopi!" Pintanya kepada pelayan yang berdiri di samping Julius.


Pelayan itu sontak melirik, ingin melihat respon Julius. Lama dilirik, tuan besarnya tidak merespon apa pun. Itu menandakan, tidak ada masalah jika ia melayani tuan muda.


"Baru ingat pulang?" tanya Julius ketus, menatap cucu lelakinya sedang melahap anggur yang ada di atas meja.


"Aku sibuk!" jawabnya singkat tanpa menatap Julius.


Urat di leher Julius langsung meregang usai mendengar jawaban Kenneth. Bagaimana tidak, ia jelas tau keseharian Kenneth yang jarang pergi ke kantor. Mana mungkin kesibukan kuliah bisa menyita waktunya? Julius berpikir, cucunya hanya sibuk bersenang-senang dan menghabiskan uang.


Tongkat kayu berwarna hitam legam, langsung ia hentakkan ke tanah dengan wajah marah yang  dapat terlihat cukup jelas. "Sibuk apa? Kau bocah tengik, hanya tau bersenang-senang saja kan?"


"Perusahaan gak ada masalah, si tua-tua keladi itu juga gak bergerak. Menurutmu, itu ulah Rey?" Kenneth menjawab tanpa emosi sedikit pun, dan justru melirik dengan tampang mengejek.

__ADS_1


Sedangkan respon Julius, justru terlihat menelan salivanya kasar, dan menyembunyikan rasa gugupnya. Tentu saja itu karena Ken menyebut nama Rey, karena dia adalah salah satu orang tangan kanan Julius yang ditugaskan untuk memantau Kenneth.


Julius mengira, dirinya sudah bekerja serapi mungkin agar cucunya tidak mengetahui keberadaan Rey. Namun nyatanya, mata Kenneth justru lebih jeli dari dugaan Julius.


Kenneth langsung berdiri usai puas mempermainkan Julius, dan berjalan hendak pergi ke kamar. Namun langkahnya diikuti Julius yang langsung ikut berdiri. 


"Kau mau kemana?" tanya Julius masih dengan nada ketus.


"Kamar!"


"Turun dalam satu jam, kita perlu menghadiri pesta perusahaan Alaro!" Suara Julius meninggi, seakan memperjelas bahwa kalimatnya adalah perintah mutlak.


"Kau tahu, perusahaan itu berpotensi besar untuk kita, kau harus datang!" lanjutnya.


Kenneth hanya melambai sebagai ucapan setuju akan ajakan Julius. Melihat respon kurang ajar dari cucunya, Julius hanya bisa menghela napas lega. Setidaknya, cucunya yang kurang ajar itu mau untuk hadir ke pesta.



Saat itu, waktu masih menunjukkan pukul lima lebih delapan menit. Sebuah mobil Rolls Royce hitam, terlihat berhenti di ujung karpet merah yang dibentang di depan pintu masuk lobby utama.


Julius mengeluarkan tongkat hitamnya, beriringan dengan kaki kirinya keluar dari mobil. Lalu, disusul Kenneth yang keluar dari pintu lain, sembari membetulkan lengan kemejanya. 


Beberapa pemburu berita langsung mengerumuni keduanya. Mencerca mereka dengan beberapa pertanyaan perihal bisnis. Julius dan Kenneth terlihat kompak  dan akur saat menjawab pertanyaan dari para wartawan.


Pada waktu yang sama. Mobil berlogo BMW, berhenti tepat di belakang mereka. Seorang gadis yang dikenal dengan nama Rebecca, turun dari mobil dengan gaya nyentrik nan glamor. Gaun merah dengan punggung terbuka, juga belahan yang memperlihatkan kaki putih mulusnya. Seakan mampu menggoda mata siapa pun yang melihat, tapi tidak berlaku bagi Kenneth.

__ADS_1


Sorot mata Rebbeca langsung fokus menatap Kenneth dan Julius, yang memang berdiri tak jauh darinya. Melihat pria yang selalu dianggap tunangan, gadis itu langsung datang menghampiri mereka.


"Hallo, hallo! Maaf aku datang terlambat, Sayang," sapanya melambai ke arah wartawan dan langsung menggandeng tangan Kenneth.


Mendengar kata sapaan Rebecca kepada Kenneth, awak media tentu saja menjadi heboh. Mereka langsung menyodorkan mic kepada Rebbeca.


"Apa benar Anda tunangan tuan Lee?"


"Kapan kiranya kalian bertunangan?"


"Ini kabar baru yang mengejutkan!"


Kenneth masih berusaha menjaga emosinya di depan wartawan, meski dia berusaha menepis tangan Rebecca yang membuatnya risih. Pada waktu yang sama, gadis itu lebih dulu menjawab "Ya" dengan percaya dirinya. Di tambah lagi, Julius mempertegas pernyataan Rebecca kepada wartawan, seakan-akan hubungan itu benar.


"Ah, benar, mereka akan segera menikah dalam waktu dekat!" 


Kamera langsung disorot ke wajah Kenneth yang terlihat masam. Membuat Kenneth mendengus kesal sembari melirik Julius. Ada tekanan emosi yang meluap di wajahnya, hingga membuat Ken. menepis tangan Rebecca dan mengambil mikrofon salah seorang wartawan.


"Dengarkan baik-baik dan catat ini. Aku, Kenneth Lee, sudah menikah, dan istriku, bukan dia!"


Begitu selesai berbicara, ia mengembalikan mikrofon kepada wartawan dengan kasar, lalu pergi ke dalam tanpa memperdulikan dua orang itu. Beberapa wartawan sempat terbengong atas pernyataan Kenneth  Sedangkan Julius yang mendengar itu, pun langsung geram dan menyusul cucu brengseknya. 


Hanya tersisa Rebecca, yang kini mulai diburu pertanyaan dari wartawan. Malu, tentu saja. Kenneth sudah mengumumkan status pernikahanya, sedangkan Rebecca masih menganggapnya tunangan dan mengumumkan dengan percaya diri.


...||...

__ADS_1


...||...


TBC


__ADS_2