Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 74


__ADS_3

Kia Pov


Ruangan ini benar-benar istimewa. Seperti rumah di film jepang. Hanya saja, di sini masih menggunakan ranjang yang besar, juga sofa. Aroma cendana, berpadu dengan bunga sakura, menyebar di hampir setiap sudut. Aku bahkan bisa menciumnya begitu berada di balik pintu kamar.


Juga, pemandangan kolam air panas yang menyejukkan mata dan pikiran. Semua terasa begitu komplit tanpa ada yang bisa di tawar.


Jelas-jelas, beberapa jam yang lalu, hatiku terlalu patah, bibirku terlalu kaku meski hanya sekedar tersenyum tipis. Namun sekarang ....


Sekitar beberapa menit yang lalu. Kenneth berbisik dengan nada yang begitu lembut. Ingin membawa Jenny jalan-jalan ke luar, dan membiarkanku menikmati kolam air panas ini lebih dulu.


Aku berdiri di pinggir kolam. Sudut-sudut bibir ku meninggi tiba-tiba. Mengingat setiap kata yang dia ucapkan. Wajah yang tadi dingin, mendadak merasakan serangan panas dari ubun-ubun. Menjalar ke wajah, turun ke dada dan menyebar ke setiap sendi.


“Biar aku yang jaga Jenny. Air panas di sini beneran alami, jadi, nikmati waktumu!”


Perkataan itu ... aahh ... Kenneth sia lan!


Kulepas bathroobs yang membalut tubuh, lalu melangkah masuk ke dalam kolam. Sengatan hangat yang sangat nyaman, merambah naik menetralkan panas yang sempat menyengat ujung jemari dan ubun-ubun.


Rasa hangatnya menyebar begitu seluruh tubuhku masuk ke dalam. Perasaan yang sempat mengganjal, rasa sakit yang bagai anak panah. Seolah dipaksa untuk keluar.


“Sepertinya, aku harus berterima kasih padamu,” ucapku lirih sembari mengambil air dengan dua telapak tangan.


“Kalau gitu, ucapkab dengan baik!”


Suara yang begitu akrab, terdngar jelas dari belakang telinga. Suara yang begitu jelas, membuatku menoleh dengan cepat.


Netra mataku membulat. Melihat dia berjongkok tepat di belakangku. Tak lupa dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


“Kamu ngagetin aja!”


Dia berdiri, sudut-sudut bibirnya terangkat. Seperti rubah dewasa dengan senyum licik saat mendapatkan mangsa. Dengan cepat aku menyilangkan dua tanganku ke dada, menutupi gumpalan daging yang sering membuat orang lupa diri.


“Matamu lihat kemana!”


Bibirnya tak bergerak, tetap dengan senyum licik. Justru matanya bergerak memincing tajam melihatku.


Aku seperti menjadi mangsa seekor rubah licik.


Dengan gaya yang masih sombong, perlahan melepas kait sabuknya. Lalu, melepas kancing kemeja satu per satu.


“Kamu mau apa?!”


Gerakannya begitu cepat. Tiba-tiba kemeja yang melekat di badan sudah terlepas. Begitu juga celana panjang yang hanya menyisakan celana pendek yang tak begitu ketat, juga tak longgar.


“Tu-tunggu!” Cegahku menghentikannya dengan tangan. Namun dia tak merespon dan berendam di samping.


“Kamu harusnya tunggu aku selesai!”


“Kolam ini cukup untuk lima orang. Dipakai sendiri, itu egois!”


Pria ini! Dengan santainya melepas baju, lalu ikut berendam bersama seorang gadis. Sebagai pria tampan, harusnya dia punya malu!


Cih!


“Dimana Jenny? Kamu bilang mau jaga dia?”

__ADS_1


“Sedang tidur dengan nyenyak— Kia, apa aku boleh mengajukan satu pertanyaan?” tanyanya.


“Katakan!”


“Dulu, gimana kamu mendidik Jenny? Aku selalu lihat jadwalmu, kamu selalu mengajar dari pagi sampai sore.”


Kenapa dia tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu?


“Pada dasarnya, dia anak yang cukup pandai dan pengertian. Cuma bilang ‘bermain yang lain’, dia begitu mudah meninggalkan pisau di tangannya. Sejak saat itu, asal mulut gak berkata ‘jangan’ dia pasti akan menurut.” Aku menghentikan kalimat untuk menarik napas panjang.


“Waktunya kebanyakan dihabiskan bersama pengasuh, tapi dia selalu ingat pelajaran singkat yang aku ajarkan.” Aku menoleh, menatap lelaki itu dan melanjutkan.


“Bukankah itu jenius? Aku selalu mengira, ada jiwa orang dewasa yang memasuki raganya.”


“Bodoh!” Umpatnya kasar dengan nada mengejek.


“Lalu, ada apa denganmu hari ini?”


Pertanyaan selanjutnya membuatku tertegun. Seperti lem super yang dilempar dan mendarat di mulut. Membuat dua bibir saling melekat, tak dapat terbuka.


Masalah ini, bagaimana aku harus cerita?



Udah dua bab, masih mau lagi gak?


Sajen dan ritual jangan sampai lupa pokoknya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2