
Satu pintu ruangan baru saja dibuka oleh Kenneth. Netra mata Kia pun langsung membulat kagum. Satu tempat tidur berukurang besar, dipisah papan kayu yang tertata rapi. Dibalik itu ada sofa-sofa empuk dengan televisi. Lalu, pemandangan kolam renang yang cukup besar, tersedia di balik pintu kaca.
Rasa lelah Kia seakan lenyap tak tersisa, terutama saat ia berjalan di tepi kolam tanpa alas kaki, melihat laut biru yang menyejukkan mata. Haparan reiligh bahkan menyempurnakan pemandangan menakjubkan ciptaan Tuhan.
Kenneth menurunkan Jenny, membiarkan gadis itu berkeliaran bebas ke seluruh penjuru ruang. Ia melepas sepatu, lalu datang menghampiri Kia. Membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu menyandarkan dagu di pundak Kia dan berkata,
“Tadi ada yang bilang lelah.”
Kia cepat-cepat mendorong wajah Kenneth, takut jika Jenny melihat kemesraan mereka.
“Jangan begini, Jenny lihat!”
“Kenapa?” Sinis Kennt. “Dia juga sudah lihat kamu dan aku membuat buku nikah.”
“Dia hanya anak kecil, tau apa? Kamu dan aku bergantian duduk di kursi, lalu seseorang memfoto kita, dan kemudian mengurus berkas sebentar.”
Kenneth menyeritkan alis mendengar alibi Kia. Dia menebak dengan asal, jika Kia tak mengetahui bahwa putrinya lebih pintar dari yang dia duga.
“Jenny.” Panggil Kenneth
Jenny dengan wajah polos datang menghampiri mereka.
“Bagaimana, kamu suka tempatnya?” tanya Kenneth basa basi.
Jenny mengangguk dengan antusias. Bahkan senyum yang terukir di wajahnya, bisa di baca dengan jelas. Kenneth berjongkok, menyelaraskan tubuhnya dengan tinggi Jenny.
“Kamu tau gak, tempat apa yang kita datangi sebelum pergi ke bandara tadi pagi?” tanya Kennt.
__ADS_1
“Tau, itu tempat untuk orang menikah kan?”
Dua sudut bibir Kenneth terangkat puas, sedangkan Kia justru mengangga dengan wajah tak percaya.
“Jadi, kamu juga tau kalau —“
“Uncel dan Mommy sudah menikah.”
Hati lelaki itu cukup puas mendengar jawaban Jenny, bahkan tertawa cukup kencang sambil mengusap ubun-ubun anak itu. Dia melirik, menatap Kia yang terlihat kesal.
Merasa dipermainkan, Kia segera menarik Jenny. Lalu, mendorong Kenneth hingga jatuh ke kolam dan kabur masuk ke dalam. Dia bahkan tak lupa menutup pintu kaca yang memisahkan area kolam.
“Sakia Shen!!” Pekik Kenneth.
“Siapa suruh kau membuliku!” Ejek Kia dari balik kaca.
Kenneth belum menyelesaikan kalimat, Kia sudah buru-buru pergi ke kamar mandi sambil menutup telinga Jenny. Bahkan, dengan lantang menggoyangkan sedikit pinggulnya untuk mengejek Kia.
Seusai membersihkan diri, mereka pun keluar dari kamar mandi. Melihat Kenneth yang basah kuyup berdiri di depan pintu, membuat Kia tak bisa menahan tawa dan mengejeknya.
“Cepat ganti baju sana!” ucapnya sedikit sinis.
Kenneth mencoba acuh, menahan amarahnya rapat-rapat, dan menyusun stategi yang bagus untuk nanti malam.
“Hati-hati tumbuh jamur di kakimu!” Goda Kia lagi.
Tak tahan mendapat cemooh yang terakhir, Kenneth menarik tangan Kia masuk ke dalam kamar mandi. Cepat-cepat menutup pintu dan membekap mulut Kia.
__ADS_1
“Jenny Sayang, kamu bisa pakai baju sendiri kan?” Nada Kenneth sedikit meninggi, berusaha berbicara dengan Jenny yang ada di luar.
“Mommy mau membersihkan jamur di kaki Uncel dulu. Kamu gak masalah kan?” lanjutnya.
“Ya, Jenny bisa!”
Kia memincingkan mata, berusaha melawan, tetapi kekuatannya masih kalah dengan tenaga Kenneth.
“Hati-hati tumbuh jamur? Hah — leluconmu cukup klasik, Sayang.” Kenneth melepaskan tangan yang sejak tadi membekap mulut Kia.
Begitu dilepas, Kia cepat-cepat kabur. Namun gerakannya cukup lambat, sehingga Kenneth kembali menangkapnya dan mengukung tubuhnya di tembok.
“Cukup main-mainnya, Jenny menunggu di luar!” Protes Kia tegas.
“Kau dengar sendiri tadi dia bilang apa?” Kenneth mendekatkan tubuhnya yang masih basah, bahkan menekan tubuh Kia.
“Baju — bajumu basah!” Kia mendorong dada Kenneth agar menjauh sedikit.
Satu sudut Kenneth meninggi, dengan dengusan kesal, ia melepas kausnya yang basah, dan meleparnya ke sembarang arah.
Otot otot kekar di lengannya terlihat, roti dengan delapan lapis, membuat air liur Kia hampir terjun bebas. Kia buru-buru membuang muka dan mengelap mulutnya, sebelum Kenneth melihat wajah terpesonanya itu.
“Ka-kamu mau apa?”
Kenneth menyerigai, seperti seekor rubah licik yang berhasil mendapatkan mangsa, menatap Kia yang gemetar takut.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Bab selanjutnya segera meluncur ...
__ADS_1