
Senja telah lama menghilang di bumi bagian barat, sejak beberapa jam yang lalu. Kini, kota besar itu hanya ada kegelapan, dengan cahaya lampu se-pinggir jalan yang menerangi.
Kia sedang duduk sofa, memandangi laptop sembari menikmati secangkir teh hangat. Mata dengan bulu lentink, sesekali melirik ke samping. Memandang seorang gadis kecil yang telah ia besarkan sendirian, selama beberapa tahun dengan penuh cinta. Meski kenyataannya, gadis itu bukan darah dagingnya.
Bunyi 'clak' dari pintu yang dibuka dari luar, membuat dua orang kompak menoleh bersamaan.
"Daddy!" Seru Jenny langsung berlari menghampiri Kenneth.
Kenneth mengangsurkan kedua tangannya, menangkap tubuh gadis itu dan menaikkannya le atas sambil berputar.
"Kau merindukan daddy?" tanya Kenneth memeluk Jenny.
"Eemm. Jenny, lindu Daddy!" ucapnya manja.
Kia yang sejak tadi melihat mereka berdua, menaikkan dua sudut bibirnya. Ada perasaan bahagia dan juga haru, yang datang tanpa permisi.
"Daddy sudah datang, ayo kita makan malam," ajak Kia bangkit berdiri.
Duduk bersama Kenneth dan Jenny, membuat Kia merasakan rasanya memiliki sebuah keluarga. Kehangatan dan kebersamaan yang sudah lama tidak pernah dia rasakan, kini kembali ia rasakan.
"Pada hari yang cerah …." Kenneth memulai sebuah 'cerita sebelum tidur' untuk Jenny.
Dia duduk bersandar, memegang buku cerita sambil memangku Jenny. Bercerita tentang dongeng kuno berjudul Putri Salju dan 7 Kurcaci. Dua orang itu seperti ayah dan anak. Kenneth pun terlihat begitu menyayangi Jenny.
Kenneth baru keluar dari kamar Jenny setengah jam kemudian, dan langsung menghampiri Kia yang sedang duduk mencatat sesuatu.
__ADS_1
"Sedang apa?" tanyanya mengangsurkan tangan ke leher Kia dari belakang.
"Oh, aku coba menyesuaikan jadwal." Kia buru-buru menutup jurnalnya.
"Jadwal?"
"Iya. Aku mengatur ulang jadwalku," jawab Kia.
"Kenapa? Kamu mau punya banyak waktu denganku?"
Perkataan Kenneth membuat Kia tertawa. Lalu, melepaskan tangan yang sejak tadi memeluknya dan berdiri. "Terlalu PD itu gak baik!"
Dua sudut bibir Kenneth meninggi, memandangi Kia yang sedang mengerai rambutnya, kemudian masuk ke dalam kamar. Tanpa di suruh, lelaki itu mengekor di belakang Kia. Mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Kamu mau apa?" tanya Kia tiba-tiba berbalik ke belakang.
"Ah … Kennt! Ka-kamu mau apa?"
"Buat adik untuk Jenny!" bisiknya di telinga Kia.
"Ta-tapi … Kenneth …."
Kia belum menyelesaikan kalimatnya, namun Kenneth sudah membungkam mulut Kia dengan bibirnya. Membuka pagar gigi dengan daging tak bertulang. Terus melum'at dan melum'at, tanpa membiarkan Kia menarik napas panjang.
"Emm … mmm."
__ADS_1
Puas dengan bibir Kia, Kenneth mulai menyusuri setiap jengkal tubuh Kia dengan mulut. Sementara, tangan kanannya melingkar di tengkuk leher, sedangkan tangan kirinya asik membuka tali temali yang saling mengikat di pundak.
"Kennt, jangan … eemmgh." Kia berusaha memberontak, hendak melepaskan diri. Namun, pelukan erat Kenneth membuatnya kesusahan.
Bibir Kenneth telah sampai di perbatasan gunung himalaya. Setelah meninggalkan beberapa jejak di kaki gunung, ia memutuskan untuk naik sampai ke puncak. Menikmati ujung gunung berwarna pink mempesona.
"Kennet, aku lagi … mmm, ahhh," dessahnya kasar kala lelaki itu mulai menghisap ujung gunung miliknya.
"Kia, aku merindukanmu,"
Jemarinya mulai turun, bersiap menyusuri belahan hutan amazon yang sebenarnya tidak begitu rimbun. Namun, saat tangan nakal itu ingin menerobos masuk selembar kain yang membungkus, Kia cepat-cepat menghentikannya.
"Tu-tunggu, Kennt!"
"Kenapa?"
"Aku … aku lagi … emm ha-haid!"
Mata Kenneth langsung membulat penuh. Merasakan senjata yang sudah berkedut, siap memasuki sarang, tiba-tiba harus berbalik arah. Membuat kedutannya langsung naik ke kepala.
Sial! Waktunya gak pas banget!
...||...
...||...
__ADS_1
TBC