Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 65


__ADS_3


Kenneth pov


Mataku terbelalak. Seketika menyadari ada hal penting yang terlewat. Untung, IQ cerdas ini langsung memberiku beberapa potongan memori yang terakhir. Hingga pada akhirnya, aku segera beranjak dengan pikiran yang sedikit linglung.


Mengamati keadaan sekitar yang sepi, membuat degup jantung berdetak lebih kencang.


Apa dia pergi?


Dia meninggalkanku begitu saja?


Aku berusaha mencarinya, di kamar mandi. Namun nyatanya, ruangan itu kosong. Apartemen ini gak sebesar mansion Lee. Duduk di ujung ranjang saja sudah bisa melihat hampir ke semua sudut.


Dia beneran pergi?


Aaassshhh ... sial!


Aku mengacak-acak rambut dengan putus asa. Gimana ngak putus asa, lagi enak malah ketiduran.


Sendi kakiku menjadi lemas, dengan putus asa terperosot dan duduk bersandar tembok. Pandangan yang masih lurus, menatap daun pintu dengan harapan yang besar.


Hingga akhirnya ....


Tak pernah menyangka, aku mendengar suara kunci yang terbuka. Handel pintu perlahan bergerak dan pintu itu terbuka sedikit.


“Kenapa kamu duduk selonjoran kaki di lantai?”

__ADS_1


Seorang wanita masuk begitu saja. Dia berdiri mengibas salju yang menempel di coat miliknya. Berdiri dengan begitu cantik. Membuatku langsung berdiri dan berlari mengapainya. Memeluk tubuhnya dengan Coat yang setengah basah.


“Ngapain sih ka ....?!”


“Diam sebentar!” Selaku dengan nada memerintah.


Iya, ini perintah, bukan permintaan. Seperti anak kecil yang baru saja di tinggal ibunya. Lalu, merengek dan minta peluk setelah bertemu.


Aku, seperti anak kecil?


Biarlah! Lagi pula, aku sangat senang.


“Le-lepas!” Aku merasakan sedikit dorongan setelah beberapa saat memeluknya.


“Kamu dari mana?”


Aku dapat mendengar ocehannya meski dia sibuk berkeliling. Menaruh coat di gantungan dan menata beberapa bahan ke dapur.


“Oh, aku lihat uang lima puluh dolar di atas nakas. Aku mengambilnya untuk belanja beberapa bahan. Angap aku hutang sama kamu.”


Hu-hutang katanya? Apa dia bercanda denganku?


Aku melihatnya mengikat rambut dan menggulung lengan bajunya. Leher jenjang itu, beberapa masih terlihat ruam merah yang tak bisa di tutupi. Entah kenapa hal seperti ini justru dapat menyentil ga-irah. Jelas jelas, dulu aku sering meninggalkan beberapa tanda juga pada wanita lain. Namun saat melihat tanda itu, aku jadi jijik. Seperti menyesali apa yang sudah aku perbuat.


Namun wanita ini memberiku kesan yang berbeda. Dia tak pernah membuatku bosan, atau merasa risih setelah menyentuhnya. Selalu punya kesan manis yang tertinggal, begitu manis sampai membuat mabuk.


“Kenapa bahas hutang sama pacar sendiri? Itu gak etis, tau ngak?”

__ADS_1


Aku mengangsurkan tanganku ke di antara pinggulnya dan meletakkan ke duanya di perut. “Kenn, aku lagi pegang pisau!” Serunya mengangkat tangan kanan, menunjukkan pisau tajam dengan ujung yang begitu lancip.


“Gak bisa panggil yang romantis sedikit, gitu?”


“Jadi, mau mau dipanggil apa? Sayang, Cinta, Kekasihku, atau mendiang?”


Mendiang? Dia kira aku sudah mati?


“Cuek begini, apa aku kurang puasin kamu?”


BRAK!


Mataku terfokus melihat pisau yang sudah mendarat, membelah bawang bombai menjadi dua. Entah sejak kapan pisau itu di layangkan. Gerakannya cukup cepat dan akurat. Mataku bahkan belum sempat memperhatikannya.


“Gimana kamu muasin aku tadi?”


Dia menoleh, dengan pisau yang sengaja di perlihatkan. Tersenyum dengan licik dan tatapan yang begitu tajam.


Aku jadi ingat tentang suatu hal yang begitu penting. Jamur King Oyester milikku yang begitu gagah perkasa. Membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya ku bayangkan.


Membuat bagian itu tiba-tiba ngilu ....



Hemmm jamur tak bertulang 😂


Apalah daya, othor cuma pernah merasakan jamur karena telah lama menunggu. Setelah bertahun-tahun akhirnya di tinggal nikah. Yaa, seperti itu rasanya jamur 😂😂

__ADS_1


Dah, jangan lupa sajen dan ritual wajib.


__ADS_2