Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 44


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾...


Kia Pov


Dari sudut tribun, aku melihat tatapannya yang begitu jelas. Entah kenapa, saat itu ada awan hitam yang tiba-tiba bernaung di atas kepala. Seakan sedang bersiap mengeluarkan sambaran kilat yang mengglegar.


Ayolah, Kia, dia gak semenakutkan itu. Lagian, ini juga idemu, kan? Pikirku mencoba menarik napas panjang. Sampai pada akhirnya, lelaki itu datang menghampiriku. Mengambil kaleng soda yang baru ku teguk sedikit. Lalu ....


“Anda berani selingkuh? Lihat gimana aku menghukummu nanti!”


Kata yang ia biskkan langsung menjalar seperti aliran listrik. Membuat degup jantungku berdetak sedikit lebih cepat.


Aku gak lagi takut, kan?


“Kia ....”


Panggilan Jeffrans langsung membuyarkan lamunan konyolku.


“Sory, aku, tadi ....” Lidahku mendadak kelu, tak mampu berkata-kata. Jef hanya tersenyum, lalu mengajakku pulang.


Benar-benar seperti pasangan yang ketahuan selingkuh. Perasaanku campur aduk tak menentu. Moodku langsung buyar begitu saja. Bahkan saat Jef menghiburku di mobil, aku hanya menangapi dengan senyum palsu.


“Jef, sory buat yang tadi. Sebenarnya aku ....”


“Kamu jadiin aku tameng karna pengen menghindari anak itu, kan?”


Bukan terkejut, aku hanya tertunduk malu. Gimana pun, Jeffrans bukan seperti orang asing yang baru aku kenal. Dia bahkan lebih tau sifat dan kepribadianku.

__ADS_1


“Kamu istirahat, gih!”


Tatapannya masih begitu lembut, sama seperti dulu. Anehnya, aku justru gak tertarik. Sebaik apa dia, sudah jelas aku tau.


“Thanks, Jeff.” Aku lebih memilih menutup pintu, dan tidak melihat punggungnya menghilang.


Ku lempar tas jinjinh itu ke sofa. Lalu pergi ke kamar Jenny untuk melihatnya. Gadis kecil dengan rambut yang sedikit ikal, sedang tertidur dengan botol dot yang hampir kosong.


“Anda sudah pulang, Miss?” Bibi Yu berbicara dengan nada lirih.


“Iya, Anda sudah bisa pulang, Bi.”


Betapa beruntungnya aku. Begitu dibuang, lalu terjebak dalam malam kelam. Langsung dikelilingi orang baik, salah satunya Bibi Yu. Yang sudah mengikutiku dan membantu merawat Jenny dengan baik.


Aku langsunh mandi usai Bibi Yu pulang. Baru selesai memakai bathrobs, bunyi bel terdengar beberap kali. Apa Bibi Yu tertinggal sesuatu? Pikirku saat itu.


Gerakan yang begitu cepat, membuat tubuhku terpojok di dinding. Dua tanganku dikunci dengan satu cengkraman kuat ke atas kepala. Yang paling parah, dia mendaratkan bibirnya tanpa permisi.


Netra mataku menelisik, lelaki ini nampak tak asing bagiku. Ciuman ini ... aku juga pernah merasakannya. Apa dia Kenneth?


Aku mencoba berontak, satu tanganku berhasil lepas dari cengkramannya. Dengan cepat ku dorong tubuhnya menjauh. Gerakan tadi membuat topi yang di pakainya jatuh.


Di bawah cahaya lampu yang begitu terang. Wajah bernilai sepuluh plus plus itu bersinar tanpa cacat. Wajah lelaki yang tadi memberiku ancama di tribun.


“Apa kau gila?” Nada marah yang berusaha kutahan. Berharap Jenny tetap pulas dalam tidurnya.


“Dengar! Aku gak pernah main-main tentang hubungan ini, Kia!” Ku tatap dua manik mata yang memancarkan keseriusan. “Aku suka, aku mencintaimu! Apa kamu tau?” Perkataannya membuatku tertegun sesaat. Aku gak bisa mikir apa pun. IQ-ku seketika anjlok.

__ADS_1


Dia berjalan mendekat. Membuatku mundur beberapa langkah. Sampai akhirnya, aku tersudut lagi. “Kia, aku mencintaimu! Taukah itu ....”


Dia mendaratkan satu ciuman lagi. Namun kali ini berbeda dari yang sebelumnya. Hangat dan begitu menggoda. Seolah menarik jiwaku perlahan. Membuat ragaku begitu patuh, mengikuti segala trik darinya.


Perlahan melepaskan pangutannya, beralih ke bagian lain yang lebih sensitif. “Hentikan ....” pintaku berusah menahan gejolak yang mulai membara.


“Aku ingin menghukummu!” Napasnya terdengar jelas di telingaku. Sedikit memburu dan ... hangat.


Satu tangannya bermain di antara sela-sela, menembus bagian inti dari sebuah kata ‘nikmat’. “Jangan! Stop, please!”


Dia mengabaikan permohonanku dan terus memainkan jarinya dengan tempo yang tak dapat ku jelaskan. Dengan bibir yang berpindah lagi ke bagian yang lain. Gerakan yang lembut, dengan tempo yang tepat. Membuatku jatuh dalam jurang kedustaan. Mau menolak, tapi daya pikat lelaki ini begitu kuat.


“Je-Jenny sedang tidur. Berhentilah! Aku mohon!” rengekku dalam dekapan harmoni cintanya.


“Sa-sayang, please!”


Dia menghentikan kecupan yang ku kira tak berujung, juga gerakan tangannya. Netranya menatapku yang terengah-engah.


Kemudian ....



Kia : Mau bilang enak, malu sama yang baca. Gimana dong thor 🤭😂


Aku cut ah 😂 biar nangung 🤭


Jan lupa ritual dan sajennya 😘😘

__ADS_1


Othor mo cari wangsit sama bang John 🙈


__ADS_2