
Awal tahun, kota Tiongkok masih menjadi kota yang begitu dingin. Meski salju tak turun, bahkan langit terlihat cerah, nyatanya, suhu di sana masih berada di 15 derajat. Setidaknya setiap orang masih memerlukan mantel dan sweeter mereka saat keluar rumah. Begitu juga sepasang pengantin yang baru turun dari pesawat.
Kenneth mengambil syal merah, lalu melilitkannya ke leher Jenny. Memastikan anaknya tidak akan kedinginan. Ia juga membantu Kia memakai mantel coklat kesukaannya. Keluarga kecil yang bahagia itu berjalan keluar menuju lobi penjemputan. Baru berdiri sejenak, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan. Kennt buru-buru membuka pintu belakang, lalu menaruh koper di bagasi.
“Kalian pulang dulu, aku masih ada urusan sebentar.” Kenn berbicara sambil merogoh saku dan mengambil dompet. Dari dalam mengeluarkan selembar kartu ATM dan memberikannya pada Kia.
“Kamu bisa pakai kartu ini untuk belanja makan malam, kalau capek bisa pesan.”
“Ini ....”
“Aku seorang suami sekarang. Yeah, meski aku seorang mahasiswa, aku juga bisa memberimu nafkah.”
Kia tersenyum senang mendengar ucap manis dari suaminya. Setelah membantu Jenny masuk ke dalam mobil, Ia meraih kerah mantel suaminya. Membantunya merapihkan baju sembari bertanya dengan manja.
“Kapan kamu pulang?”
“Kenapa? Belum berangkat udah rindu aja!” Goda Kennt.
“Cihh!!” Kia mendorong dada Kenn pelan.
“Aku pulang sebelum makan malam. Jaga diri ya, aku titip Jenny sebentar.”
Kata-kata manis nan romantis, terdengar sebagai bunga pembawa pesan. Kia pun tersentuh, terutama saat Kennt mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ciuman yang mendarat di kening.
__ADS_1
Wajah Kia memerah, ia buru-buru mendorong tubuh Keent dan masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati!”
Begitu mobil yang di naiki Kia dan Jenny melaju pergi. Sebuah mobil sport berwarna putih, berhenti tepat di depan Kenn. Seorang lelaki muda keluar dari sana dan membantunya mengangkat koper ke dalam bagasi, juga membantu Kennt membuka pintu.
“Gimana kantor?” tanya Kennt melepas kaca mata.
“Gak ada masalah, tapi kemarin ....”
Kennt mengambil berkas yang ada di atas dasboard. Matanya fokus sesaat, membuat Ziko tak mampu meneruskan ucapannya.
“Tania udah kasih tau. Besok pagi, suruh mereka semua datang menghadap!”
Mobil sport putih melaju dengan cepat. Masuk ke tempat parkir yang berada di lantai dasar. Ziko buru-buru membuka pintu untuk Kennt, lalu mengikutinya naik lift pribadi yang memang di buat khusus hanya untuk presdir.
“Selamat sore, Presdir.”
Kenneth berjalan dengan angkuh, dadanya membusung tegap. Meski hanya memakai kaos yang di balut mantel tipis dan pakai sendal, semua orang tetap tunduk.
“Dengar-dengar, Presdir baru saja datang dari liburan. Dia baru saja turun, dan lansung datang ke kantor. Dia ... pekerja keras.”
“Aku gak heran, kalau perusahaan kita bisa semaju sekarang. Presdirnya aja gila kerja.”
__ADS_1
“Tapi ... aku dengar, dia baru saja melanjutkan pendidikan sarjananya di dalam negri.”
Kenneth tahu, karyawannya sedang membicarakannya di belakang. Namun, dia bukannya marah atau memecat mereka semua, tapi benar-benar di abaikan.
“Sarah!” Suara Ziko terdengar mengelegar. “Perhatikan baik-baik stafmu! Jangan biarkan mereka makan gaji buta!”
Seluruh karyawan dibungkam pada saat itu juga oleh Ziko. Sebagi orang yang di percaya Kenneth, meski sedikit ngelunjak pada bosnya, ia tak pernah ingin orang lain menjadikan Kenneth sebagi bahan pembicaraan. Kecuali, dirinya dan Tania.
“Kenapa, Anda membiarkan mereka bicara tentang Anda?” tanya Ziko saat membuntuti Kenneth di belakang.
“Kenapa harus repot-repot membungkam kawanan anjing? Bukankah mereka punya pawang?”
Ziko menelan salivanya kasar. Sekian lama ia mengikuti seorang Kenneth, baru hari ini dia merasa kalah telak.
“Nyonya muda mengajari Anda banyak hal, Presdir. Dia dosen yang pintar!”
Balik lagi gaes. Kali ini othor bawa yang berbau-bau istri kedua. Jangan sampe ketinggalan, jangan lupa mampir.
“Aku, Madu Sahabatku.”
__ADS_1
Karya dari Ruth89