
Setelah pembicaraan singkat dengan Julius dan Rey. Kenneth memutuskan untuk kembali ke apartemen bersama Kia dan Jenny. Membawa dua orang terpenting dalam hidupnya itu, pergi meninggalkan mansion besar milik Julius.
"Setidaknya kita perlu berpamitan padanya." Kia mencoba membujuk Kenneth yang menggandeng tanganku.
"Tidak perlu. Dia terlalu sibuk."
Kia melepaskan cengkraman Kenneth dan menghentikan langkahnya. Kenneth pun ikut berhenti, kemudian menoleh kebelakang memandangi Kia.
"Kennt …." panggil Kia mesra. "Aku istrimu kan?"
Pertanyaan dari Kia membuat Kenneth tersentak kaget. "Tentu saja kamu istriku," jawabnya. "Sayang, kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?"
Kia menghela napas panjang, lalu berkata, "Meski kita sulit menjalin hubungan dengan orang tua, setidaknya biarkan aku menghargai keluargamu."
Mata yang berbinar membuat Kenneth tersadar akan hal penting dalam berkeluarga. Meski dua orang itu sepakat menjalani kehidupan rumah tangga tanpa campur tangan keluarga, tetap saja mereka harus menghargai keluarga masing-masing.
Dua sudut bibirnya meninggi. Lalu, mengangsurkan tangannya untuk membelai kepala Kia sambil mengangguk.
"Baiklah. Ayo kita temui dia."
Mereka berjalan bersama saling bergandengan tangan untuk berpamitan dengan Julius. Pria tua itu pun tanpa keberatan menemui mereka, bahkan sempat mengecup kening Jenny dan menguap kepalanya.
"Sering-seringlah main ke sini." Julius menatap Kia dan tersenyum.
__ADS_1
"Baik."
Setelah berpamitan, mereka pun pulang dengan raut wajah bahagia. Kenneth berhasil membawa Jenny pulang, dan Kia mendapatkan restu dari Julius. Hal apa yang lebih membahagiakan dari itu?
"Kia, aku mencintaimu!" Kenneth menoleh memandang wajah Kia.
Satu bulan berlalu tanpa terasa sejak mereka bertemu ayah kandung Jenny. Kini, sudah waktunya gadis itu tinggal bersama ayah kandungnya. Kenneth pun secara khusus mencarikan apartemen untuk Feng Yu yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Jenny sudah terbiasa dengan Bibi Yu, jadi biarkan dia menjaganya," ucap Kia yang kemudian memperkenalkan Bibi Yu padanya.
"Kamu yang lebih mengerti Jenny, untuk sentara, aku akan merepotkanmu."
Kia samar-samar tersenyum sambil mengangguk. Wanita itu jelas tidak keberatan jika direpotkan dengan urusan Jenny.
"Kita bisa punya sendiri kalau kau mau," ucap Kenneth ketika melihat Kia memegang boneka mainan Jenny.
"Aku keberatan!" seru Kia lantang.
"Kenapa?"
"Kamu belum lulus, Kennt! Mana ada ceritanya dosen dinikahi mahasiswanya?"
Kenneth menyeritkan alisnya, dengan wajah kesal, dia mendorong tubuh Kia hingga wanita itu jatuh di atas sofa. "Karena belum ada, kita yang ciptain saja!" Kenneth dengan binaal membuka kaos yang dia kenakan, lalu mulai meraih bibir kecil kemerahan milik Kia.
__ADS_1
Nakal, kau sama nakalnya seperti empat tahun lalu. Dasar, pria brengsek!
Setelah pergulatan lidah yang membabi buta, Kenneth menarik bibirnya dan memindahkannya ke leher jenjang Kia. Mengendus, menjilat, dan meninggalkan ruam kemerahan.
"Aku masih perlu mengajak besok!" protes Kia tak terima saat Kenneth ingin meninggalkan jejak lebih banyak.
"Kalau begitu, biar ku tinggalkan ke tempat yang tidak terlihat!"
Entah sejak kapan, semua kain yang menempel di tubuh kedua ya telah di tanggalkan. Kia bahkan tidak menyadari, ketika tubuhnya tiba-tiba dikungkung oleh sang suami yang siap menerjangnya dengan brutal.
"Aku mencintaimu, Kia. Selalu mencintaimu!"
"Hemmm ... aku tahu!"
...Kia dan Kenneth pamit undur diri...
...Terima kasih sudah menyimak kisah rumit kami....
Baca juga karya terbaru Othor. Ranjang Tuan Lumpuh.
__ADS_1