Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 61


__ADS_3

...๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ...


Hujan salju turun semakin lebat. Beberap jalanan sudah tertutup salju. Bahkan sebagian sudah di tutup karena tak dapat dilalui. Suhu pun menurun dengan cepat, bahkan sudah mendekati angka dua derajat.


Kenneth mengendong tubuh Kia, merebahkannya ke atas ranjang yang hanya berukuran 160 x 200 itu. Lelaki itu masih dengan buas menelisik setiap inci tubuh kekasihnya. Kia hanya bisa mengigit bibir bawah saat lelaki itu mulai menghisap.


โ€œStop! Kennt!โ€


Ucapannya hanya masuk dan keluar begitu saja. Napasnya sudah memburu, menahan panas yang membuatnya sesak hingga terengah-engah.


Kenneth tersenyum sinis, ia merebahkan tubuhnya dan memeluk Kia. โ€œAyo tidur!โ€ ucapnya santai.


Kia melonggo mendengarnya. Lelaki itu dengan buas menyalakan api, lalu, tanpa rasa sengan langsung menutup mata dan mengajaknya tidur.


Namun, wanita itu tak dapat berkata apa-apa. Pikirnya, dari pada membuat gajah mengayunkan belalai, lebih baik untuknya segera menutup mata dan tidur.



Kenneth pov


Siapa yang sebenarnya menyalakan api? Siapa juga yang memadamkannya?


Sabar Kenn, setelah ini kamu dapat menikmati sepuasnya.


Baru beberapa menit, wanita ini sudah tertidur dengan cepat. Sepertinya, dia benar-benar lelah.


Aku menarik tangan dengan hati-hati agar tak membuatnya bangun. Perlahan turun dari ranjang lalu pergi ke meja kerja.

__ADS_1


Di hadapanku, ada dua Macbook yang tengah menyala. Satu membuka email masuk, satu lagi lagi rapat video. Seskali, netra mataky melirik, melihat wanita itu yang tidur dengan pulasnya.


Ingin sekali aku mengerutu. Kok bisa, kesempatan bagus ini malah dipakai rapat video dan bahas kerjaan? Bukannya tidur di sampingnya sambil meluk, kan lebih enak?


Ku tengok jam sudah pukul dua. Tak terasa rapat begini saja bisa sampai dua jam. Belum lagi harus cek email dan laporan yang sudah menumpuk.


Kepalaku mendadak berdenyut. Alih-alih meneruskan, aku memilih menutup Macbook dan pergi tidur. Kembali memeluk tubuhnya, lalu berusaha menutup mata.


Aku merasa baru saja terlelap sebentar, saat telingaku sayup-sayup mendengar suara seorang wanita.


โ€œEmm ... iya, aku paham.โ€


Pecahan memory terkumpul tiba-tiba. Mengingatkanku pada kejadian semalam. Mataku langsung terbelalak. Seketika bangun dari posisi tidur dan menoleh ke sumber suara.


Dia sedang berdiri, satu tangannya memegang ponsel, dan yang lainnya berkacak pinggang. Sesekali memijat keningnya.


Raut wajahnya terlihat begitu lesu. Aku menjadi tak tega melihatnya. Langsung saja aku beranjak dari sana dan memeluknya dari belakang.


โ€œKenapa?โ€


Hela napasnya dapat ku dengar cukup jelas. Jika biasanya dia mendorongku menjauh, kali ini dia hanya diam dan menjadi gadis patuh.


โ€œSalju turun lebat semalam. Beberapa ruas jalan di tutup. Aku gak bisa jemput Jenny.โ€


โ€œKamu rindu dia?โ€ tanyaku.


โ€œIya, tapi bukan gitu intinya. Aku ....โ€

__ADS_1


Dia semakin tertunduk. Dari belakang aku gak bisa lihat ekspresinya dengan jelas. Jadi aku melepaskan pelukan dan memutar badannya.


โ€œGak mau cerita?โ€


โ€œAku cuma gak mau ngerepotin mama. Sejak kejadian itu, mama masih marah.โ€


Kuangkat sedikit dagunya. Dari situ, aku dapat melihat dengan jelas raut wajahnya.


Sedih, putus asa?


Mungkin itu yang tergambar di sana.


โ€œJadi, ibu mertua gak terlalu suka Jenny?โ€


Ia menepis tanganku dengan kasar dan membuang muka. โ€œSuka kok!โ€ Nadanya meninggi, terdengar sedikit percaya diri.


โ€œCuman, aku yang masih gak enak sama mama!โ€


Dia menoleh dengan cepat, menatapku sambil berkata, โ€œSejak kapan itu jadi mama mertuamu, hah?โ€ Ia melipat tangan. Nadanya sedikit tinggi. Begitu garang seperti sebelumnya.


Sejak kapan? Tentu saja sejak malam itu. Sejak kamu melahirkan Jenny untukku. Kamu gak akan pernah lepas dariku, selamanya.


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Iya iya yang punya ibu mertua ๐Ÿ˜


Jangan di pertegas napa bang, pan kasian yang jomloh ๐Ÿคญ๐Ÿคญ

__ADS_1


__ADS_2