
...๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ...
Hujan salju turun semakin lebat. Beberap jalanan sudah tertutup salju. Bahkan sebagian sudah di tutup karena tak dapat dilalui. Suhu pun menurun dengan cepat, bahkan sudah mendekati angka dua derajat.
Kenneth mengendong tubuh Kia, merebahkannya ke atas ranjang yang hanya berukuran 160 x 200 itu. Lelaki itu masih dengan buas menelisik setiap inci tubuh kekasihnya. Kia hanya bisa mengigit bibir bawah saat lelaki itu mulai menghisap.
โStop! Kennt!โ
Ucapannya hanya masuk dan keluar begitu saja. Napasnya sudah memburu, menahan panas yang membuatnya sesak hingga terengah-engah.
Kenneth tersenyum sinis, ia merebahkan tubuhnya dan memeluk Kia. โAyo tidur!โ ucapnya santai.
Kia melonggo mendengarnya. Lelaki itu dengan buas menyalakan api, lalu, tanpa rasa sengan langsung menutup mata dan mengajaknya tidur.
Namun, wanita itu tak dapat berkata apa-apa. Pikirnya, dari pada membuat gajah mengayunkan belalai, lebih baik untuknya segera menutup mata dan tidur.
Kenneth pov
Siapa yang sebenarnya menyalakan api? Siapa juga yang memadamkannya?
Sabar Kenn, setelah ini kamu dapat menikmati sepuasnya.
Baru beberapa menit, wanita ini sudah tertidur dengan cepat. Sepertinya, dia benar-benar lelah.
Aku menarik tangan dengan hati-hati agar tak membuatnya bangun. Perlahan turun dari ranjang lalu pergi ke meja kerja.
__ADS_1
Di hadapanku, ada dua Macbook yang tengah menyala. Satu membuka email masuk, satu lagi lagi rapat video. Seskali, netra mataky melirik, melihat wanita itu yang tidur dengan pulasnya.
Ingin sekali aku mengerutu. Kok bisa, kesempatan bagus ini malah dipakai rapat video dan bahas kerjaan? Bukannya tidur di sampingnya sambil meluk, kan lebih enak?
Ku tengok jam sudah pukul dua. Tak terasa rapat begini saja bisa sampai dua jam. Belum lagi harus cek email dan laporan yang sudah menumpuk.
Kepalaku mendadak berdenyut. Alih-alih meneruskan, aku memilih menutup Macbook dan pergi tidur. Kembali memeluk tubuhnya, lalu berusaha menutup mata.
Aku merasa baru saja terlelap sebentar, saat telingaku sayup-sayup mendengar suara seorang wanita.
โEmm ... iya, aku paham.โ
Pecahan memory terkumpul tiba-tiba. Mengingatkanku pada kejadian semalam. Mataku langsung terbelalak. Seketika bangun dari posisi tidur dan menoleh ke sumber suara.
Dia sedang berdiri, satu tangannya memegang ponsel, dan yang lainnya berkacak pinggang. Sesekali memijat keningnya.
Raut wajahnya terlihat begitu lesu. Aku menjadi tak tega melihatnya. Langsung saja aku beranjak dari sana dan memeluknya dari belakang.
โKenapa?โ
Hela napasnya dapat ku dengar cukup jelas. Jika biasanya dia mendorongku menjauh, kali ini dia hanya diam dan menjadi gadis patuh.
โSalju turun lebat semalam. Beberapa ruas jalan di tutup. Aku gak bisa jemput Jenny.โ
โKamu rindu dia?โ tanyaku.
โIya, tapi bukan gitu intinya. Aku ....โ
__ADS_1
Dia semakin tertunduk. Dari belakang aku gak bisa lihat ekspresinya dengan jelas. Jadi aku melepaskan pelukan dan memutar badannya.
โGak mau cerita?โ
โAku cuma gak mau ngerepotin mama. Sejak kejadian itu, mama masih marah.โ
Kuangkat sedikit dagunya. Dari situ, aku dapat melihat dengan jelas raut wajahnya.
Sedih, putus asa?
Mungkin itu yang tergambar di sana.
โJadi, ibu mertua gak terlalu suka Jenny?โ
Ia menepis tanganku dengan kasar dan membuang muka. โSuka kok!โ Nadanya meninggi, terdengar sedikit percaya diri.
โCuman, aku yang masih gak enak sama mama!โ
Dia menoleh dengan cepat, menatapku sambil berkata, โSejak kapan itu jadi mama mertuamu, hah?โ Ia melipat tangan. Nadanya sedikit tinggi. Begitu garang seperti sebelumnya.
Sejak kapan? Tentu saja sejak malam itu. Sejak kamu melahirkan Jenny untukku. Kamu gak akan pernah lepas dariku, selamanya.
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
Iya iya yang punya ibu mertua ๐
Jangan di pertegas napa bang, pan kasian yang jomloh ๐คญ๐คญ
__ADS_1