Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 94


__ADS_3

Kenneth terkekeh melihat ekspresi Kia. Baru kali ini dia berhadapan dengan gadis pintar yang dikira liar, tapi kenyataannya lebih polos dari sutera. Kenneth dengan cepat menarik tangan Kia dan membawanya berkeliling ke tempat yang dia sebut ‘Extream’.


Di bagian terdalam kawasan Street Food, berdiri beberapa tenda dengan meja yang penuh hidangan. Dari kejauhan hanya nampak sekelebat asap membumbung di atas hidangan. Dari aroma yang di cium Kia, dia merasa jika jajanan kali ini pasti lebih menggoda. Namun saat mereka mendekat dan melihat lebih jelas, Kia meremas kuat tangan Kenneth.


“Setelah ini, akan aku pastikan kamu mendapat perawatan!” Ucap Kia.


“Kenapa, aku gak sakit?”


“Kamu sakit, sakit jiwa. Lihat! Kepala buaya, potongan daging ular, biawak! Ugghh ....” Kia menahan rasa mual yang sangat ingin dia keluarkan dengan segera.


“Jalannya yang cepat! Aku mual!” Serunya galak.


“Oke oke!”


Kia cepat-cepat menarik Kenneth keluar dari zona zonk yang dia dapatkan. Dengan percaya diri yang tinggi, dia terus menarik tangan Kenneth dan mencoba memimpin jalan. Sampai akhirnya, mereka terbebas dari pemandangan Extream.



Di sudut jalan, sebuah kedai kecil dengan hiasan lampu neon, menyambut mereka dengan meriah. Bukan hanya lampu neon, musik bergendre akuistik juga turut memeriahkan. Kia memandangi toko itu sedikit lebih lama.


“Mau masuk?” tanya Kenneth.


“Kelihatannya gak bakal Zonk!”


Dua wanita cantik berdiri di depan pintu masuk, memakai kaus hitam dengan rok pendek yang sedikit berkibar. Menyapan dengan ramah dan penuh sopan santun.


“Matamu liat kemana!?” Cerca Kia tak sengaja melihat mata Kenneth yang tak fokus.


“Cemburu?” Goda Kenneth tak bersalah. “Kamu gak tau, di balik rok yang berkibar, ada jamur di dalamnya!”

__ADS_1


Kia langsung paham arah pembicaraan Kenneth, dan langsung menepuk punggung lelaki itu dengan keras. “Gila!” Umpatnya.


“Dari mana kamu tau? Kamu ngintip ya?” Lanjut Kia bernada menghardik.


Kenneth engan menjawab ejekan Kia. Ia lebih memilih tetap diam sambil mengandeng tangan istrinya dan masuk ke dalam. Kedai yang mereka pikir kecil, rupanya mempunyai halaman tersembunyi yang cukup luas di belakang, dan menyatu dengan pesisir pantai.


Kia setengah terkagum, menikmati pemandangan mata yang tak pernah ia jumpai. Bahkan ia sempat menyeletuk, “Pantai di Asia Tengara, semua terlihat seperti ini?”


“Hampir semua.”


“Hampir semua? Memang kamu pernah pergi ke pantai mana saja?”


Jawaban Kenneth seperti bomerang yang kembali pada dirinya sendiri. Beruntung saat itu ada seorang waiters yang datang untuk menawarkan menu, sehingga bisa mengalihkan perhatian Kia sejenak.


“Tom Yum, BanhTrang, Shirmp and Lopster. Dessert, i want, Banana Ice Cream, and Manggo Sticky,” ucap Kenneth kepada pelayan.


Kia sedikit jengkel, karena Kennt tidak memberinya kesempatan untuk memesan menu. Bahkan langsung menyuruh waiters itu pergi begitu saja.



Setelah perdebatan sedikit panjang, waiters akhirnya kembali dengan hidangan yang di pesan. Harum masakan langsung berbaur dan menyebar di hidung Kia. Bahkan, langsung menurunkan tingkat emosi yang tadi sempat meninggi. Kenneth yang melihat pun tersenyum puas.


“Jenny suka?” tanya Kennt.


“Enak, Jenny suka!”


Empat menu mulai di tambah sejak hidangan pertama di hidangkan. Sepertinya, Kia benar-benar menikmati hidangan murah yang cukup lezat, dan tidak mau melewatkannya lagi.


“Mau coba bir mereka?” tanya Kennet. “Katanya, bir, rum, dan arak beras mereka lebih enak dari punya kita. Pekat, tidak hambar dan cukup manis.”

__ADS_1


“Oh ya? Dari mana kamu tau?”


“Eemm, itu — bosku pernah bawa beberapa botol dan dia memberiku satu.”


Kia terlihat berpikir keras. Tak masalah baginya jika nanti lupa diri dan mabuk, tetapi dia harus menjaga Jenny.


“Toleransi alkoholku cukup baik, ada aku yang jaga Jenny.” Ucap Kennet seakan tau apa yang jadi pertimbangan Kia.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya mereka memesan dua botol bir dan satu kendi arak beras. Itu sangat berbeda di negara mereka, di Thailand, arak beras kebanyakan di simpan di dalam sebuah kendi yang terbuat dari tanah liat. Katanya, itu dapat menjaga kwalitas dan aromanya.


“Janji, aku cuma minum satu botol lagi. Beneran, gak bohong!” Bujuk Kia ketika dia mencoba merayu Kenneth untuk memesan botol ke sepuluh.


“Cukup, kamu sudah habis enam botol!”


“Satu lagi, oke! Aku janji!” ucapnya merayu. Kenneth cukup tegas menolak permintaan Kia, tetapi wanita itu tak habis akal. Kata orang, kecantikan dan rayuan wanita itu bisa menguncangkan seluruh negeri, termasuk hati para lelaki. Ternyata itu benar dan cukup efektif di praktekan.


Kia mencoba merayu Kenneth. Mengalungkan tangannya di leher dan satu tangannya lagi, asik bermain di dada bidangnya. “Sayang ... aku mau lagi, please!”


Nada memohon penuh pesona, meruntuhkan pertahanan Kenneth. Ia segera membopong Kia dan membawanya pergi secepat mungkin.


“Tania, malam ini jaga Jenny!”


Tania, assisten yang sejak tadi mengikuti Kenneth, dari awal keberangkatan, hingga makan malam. Juga, dua pengawal berbadan besar yang selalu menjaga mereka secara diam-diam.


“Jenny, mommy terlalu mabuk. Malam ini gak masalah kan, kalau kamu dijaga tante Tania? Dia ...”


“Jenny tau, Jenny juga gak akan ganggu Mommy and Daddy.”


Wajah Kenneth bertambah merah karena terharu. Untuk pertama kalinya, Jenny memanggilnya ‘Daddy’. Dua sudut bibirnya terangkat cukup tinggi, dengan santai ia berjanji akan menjaga mommynya.

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃...


Pertarungan sengit di mulai. Jangan lupa, like, vote, hadiahnya 💕💕


__ADS_2