
Kia ...
Kia ...
Kamu sangat cantik ...
Kia ...
Rayuan dan godaan mulai keluar dari mulut Kenneth. Sesekali bibirnya berpindah, dari buah ranum berwarna peach, loncat ke leher jenjang dan bibir Kia. Membuat banyak sekali ruam merah di tubuh putih nan mulus.
“Jangan di tahan, aku ingin dengar suaramu!”
“Bodoh!”
Kenneth mengukung Kia dalam dekapannya, dengan cepat melepas celana pendek polos tanpa motiv, dan mengeluarkan jamur King Oyster yang tubuh besar dan juga gagah.
“Dimana pikachu milikmu?” Goda Kia saat melihat lelaki itu melepas boxer polos yang cukup ketat.
“Di rumah, aku takut dia mengeluarkan kekuatan petirnya sembarangan dan membuatmu lemas.”
“Sialan! Kau Tyran lokal!”
Kenneth menyerengit, menatap wajah Kia yang berada di bawah tubuhnya. Lalu, secara sigap memperkenalkan jamur kebanggannya pada lembah putih berwarna pink.
“Lokal? Kamu pernah lihat lokal yang sebesar ini?”
“Ugh- Ahh - Oke oke! Kau Tyran import!” Pekiknya menahan serangan langsung. “Lebih pelan sedikit, apa kau maniak?”
“Sayang, dia baru masuk dan belum bergerak!”
“Kamu menipuku?”
Kennt mulai menggerakkan pinggul, perlahan, namun pasti. Rasa ngilu pada bagian sentisif membuat Kia mendesah, sesekali mengigit bibir bawah, dan menancapkan kuku tajamnya di pundak Kennt.
__ADS_1
“Bisa pelan dikit gak sih?” Gerutunya melihat wajah lelaki yang berada di atas tubuhnya memerah.
“Siapa suruh kau punya lembah yang enak.” Kenneth mengusap bibir Kia, sebelum akhirnya menerobos masuk ke dalam dengan lidahnya.
“Kamu manis sekali Kia. Seluruh tubuhmu manis, apa golongan darahmu O?” Bisiknya.
“Bukan! Jadi selama ini kamu ... vampir?”
Kenneth sudah kehabisan cara merayu Kia. Rasa emosi dan jengkel membuat Kia merasakan serangan yang lebih kuat.
“Argh — hah — hah. Itu sakit!” Reflek dengan serangan King Oyster yang tiba-tiba, Kia menampar pelan wajah Kenneth.
Alih-alih marah, dia justru menarik tangan Kia. Membuat Kia duduk di atas tubuhnya. “Kamu yang ambil alih kemudi deh!”
...Kia Pov...
“Aku gak ahli!”
“Gak masalah, taruh kedua tanganmu disini!” Dia menaikkan tanganku di atas dadanya. “Gerakkan bagian pinggulmu saja, gak perlu seluruh tubuh.”
Sebenarnya, ini juga bukan pertama kali aku melakukannya. Hanya saja, ini pengalaman pertama saat aku berada dalam alam sadar. Berada di atas kemudi dan mengendalikannya sesuka hati.
Perlahan, rasa ngilu yang sedikit perih itu berubah, menjadi suatu rasa yang menakjubkan. Seperti ektasi yang bikin candu, menginginkannya lebih dan lebih.
“Bagus, kamu mulai menikmatinya, Sayang.”
Ada hal di luar akal yang menurutku itu munafik. Yeah, aku memang mulai menikmatinya, merasakan setiap gesekan, kedutan nikmat dari dalam yang memicu perasaan tak terjelaskan.
“Jangan melihatku!” Seruku saat mencoba menutup matanya.
“Aku ingin melihat wajah klimaxmu!”
__ADS_1
Dia gila, atau aku yang gak waras. Tidak, tidak, jelas-jelas aku yang keluar dari batasanku sendiri. Trauma tahun itu, cih, mungkin aku sudah bisa berdamai sekarang.
“Kenapa kamu belum keluar juga! Aku sudah lelah!” Gerutuku lagi.
Dia tersenyum, menyerigai, seolah puas, atau mungkin sedang mengejekku. Pada akhirnya, setelah mendengar omelanku, dia bangkin dan merubah posisi lagi. Menyuruhku untuk membungkuk dan ... menyerangku dengan berutal.
“Agh - Kennt!”
“Masih sakit? Bukannya tadi sudah menikmati dengan baik?” Godanya lagi.
Sungguh sial, karena diserang dari belakang, aku jadi tidak bisa melihat ekspresi wajahnya dengan baik. Entah, itu sebuah sindiran atau hal baik yang lain.
“Sudah tiga gaya, kamu mau berapa lama lagi!”
“Pelan begini, mana bisa keluar?”
Saat itu, aku ingin sekali memakinya, mendorong tubuhnya dan menginjaknya sampai jadi adonan kerupuk.
“Lima menit, harus selesai dalam lima menit!”
“Ughh ....”
Aku mengira ini akan sesakit sebelumnya. Jelas-jelas gerakannya cukup kencang dan intens, tapi kenapa ... aku bisa menahannya.
Perasaan luar biasa itu muncul lagi, membuat kakiku menjadi kelu. Bahkan, aku bisa merasakan kedutan yang cukup kuat dari dalam. Aku, gak bisa lagi menahannya. Enak atau sakit? Sakit atau enak?
“Kia, ka-mu cantik, ughhh ...”
Tiba-tiba ada sejumlah pasukan bara kuda memegang obor, menembus ke bagian sensitif, membawa rasa hangat yang menjalar. Beberapa kecupan ia sematkan di punggung, sebelum akhirnya merebahkan diri bersama dan saling memeluk.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
Like mana like!!!!
__ADS_1