
Kenneth berdiri di ruangan dengan penerangan minim yang dihasilkan oleh standing lamp. Tangannya fokus memegang ponsel, sorot matanya memincing tajam, sudut bibirnya menurun. Ekspresi seperti itu, hanya diperlihatkan saat ia sedang kesal.
"Berapa kemungkinan menang?" tanyanya kepada seseorang melalui panggilan telepon.
"Tipis. Bagaimanapun, mereka keluarganya. Sangat sulit untuk bisa 100 persen menang."
Kenneth menghela napas panjang sambil memijat pangkal hidungnya.
"Dia punya tim pengacara yang hebat. Kenapa gak coba minta bantuannya? Gimana pun, kamu cucunya."
Perkataan dari Andreas justru membuat kepala Kenneth semakin pening. Tanpa berkata apa pun, ia mengakhiri panggilan. Kemudian, berjalan menghampiri Kia yang tertidur pulas.
Dia duduk di pinggir ranjang, menatap wajah istrinya yang sedu sedan. Dibelainya pipi Kia dengan lembut sambil berkata, "Jenny akan kubawa pulang. Kamu tenang saja, Kia."
Hari semakin larut, bahkan menjelang pagi. Namun Kenneth, masih duduk mengamati laptop yang ada di atas meja. Mencari sesuatu demi membawa Jenny kembali ke pelukan sang istri.
Di Tengah keputusasaan yang hebat. Kenneth akhirnya menyerah dan menghubungi Julius.
"Aku ingin meminjam tim kuasa hukum," ucapnya singkat, padat dan langsung pada intinya.
Sekalipun ia menjadi presdir, memimpin ratusan anak cabang, hotel dan beberapa bisnis milik Julius. Namun Tim Pengacara adalah bagian yang tidak bisa Kenneth sentuh sembarangan.
"Cucu bereng-sek! Kau menghubungiku jam 3 pagi cuma bilang ini?" umpat Julius jengkel.
"Aku mohon, Kek."
Untuk kali pertama, Kenneth memohon dengan sungguh-sungguh. Membuat Julius hampir tidak bisa meneruskan amarahnya.
"Jelas-jelas dia bukan anak kandung," batin Julius mendengus kesal.
__ADS_1
"Aku punya syarat," ucap Julius.
"Katakan." Kenneth berdiri, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana sambil berjalan menatap jendela.
"Biarkan anak itu ikut ayahnya."
Perkataan Julius membuat mata Kenneth membulat penuh. Julius jelas tahu, tujuan cucunya menghubungi dia hanya untuk mengambil kembali Jenny. Lantas, kenapa Julius justru menyarankan Jenny kembali pada ayahnya?
"Jangan bercanda!"
"Kalau begitu, tinggalkan mereka berdua."
Persyaratan Julius lagi-lagi membuat kepala Kenneth pening. Dia seperti didorong paksa menuju jalan buntu. Baru saja berdamai dengan Kia, bagaimana dia bisa meninggalkannya?
"Diammu, aku anggap sebagai jawabannya." Julius mempertegas ucapannya. Seakan syarat yang dia ajukan bukan hal yang main-main.
"Sepakat!"
Pada akhirnya, itu adalah keputusan yang diambil oleh Kenneth. Memilih berpisah dengan Kia demi membuatnya berkumpul dengan Jenny.
Aku bukan pria egois kan, Sayang?
Mentari merangkak naik ke atas, mendorong malam panjang yang tidak ingin dilewati oleh Kenneth. Nemun sangat ingin dilewati oleh Kia.
Kia mengerjapkan matanya perlahan, membiarkan mata indahnya membiasakan cahaya yang masuk.
"Pagi, Sayang." Kenneth meninggikan sudut bibirnya, menyapa Kia yang masih mengerjap malas.
"Hmmm, selamat pagi."
__ADS_1
Kenneth yang sejak semalam duduk di pinggiran ranjang., langsung menjatuhkan diri dan memeluk tubuh Kia dengan erat. Menenggelamkan kepalanya di dada sang istri dengan manjanya.
"Pagi-pagi sudah manja," ucap Kia dibalasi dengan pelukan yang semakin erat.
"Kia …." panggil Kenneth lirih, hampir tidak dapat didengar Kia.
"Emm, ada apa?"
"Aku ingin mati di pelukanmu," goda Kenneth.
"Kamu mabuk, Kennt?"
"Iya, aku mabuk cintamu."
Diantara aku dan Jenny, siapa yang sekiranya kamu pilih, Kia?
Ahh … pertanyaan seperti itu jelas konyol sangat konyol. Bagaimana aku bisa membuatmu memilih diantara kami?
-TBC-
Zafrina Mendadak Nikah
Karya : Emma Risma
Terjebak dalam Friendzone membuat Zafrina dan Zico nyaman satu sama lain. keduanya sama-sama memiliki perasaan lebih namun mereka ragu untuk mengungkapkannya.
Rian papi Zafrina dan Zafa kakaknya berniat membuat kedua sahabat itu saling mengakui perasaannya, tapi suatu kejadian justru membuat Zafrina dan Zico dipaksa menikah.
__ADS_1