
...🐾🐾🐾🐾...
Kia tertunduk, menatap mangkuk yang berisi sedikit nasi. Yang tadi perutnya lapar, sekarang jadi terlalu engan untuk menyentuhnya.
“Hubungan dosen dan mahasiswa ....”
Perkataan Kia tertahan oleh dorongan jari telunjuk Kenneth.
“Kamu boleh merahasiakan semua ini. Gak anggap aku pacar di hadapan mahasiswa lain juga boleh!”
“Aku pikirin dulu!” Kia menepis tangan Kenneth. Lalu berdiri dan menaruh mangkuk di dalam wastafell. “Kalau pulang jangan lupa tutup pintu!”
Wanita itu lebih memilih menghindari desakan Kenneth dengan pergi tidur. Tak membiarkan lelaki yang umurnya berbeda satu tahun dengannya, mendesaknya lebih lama lagi.
“Satu minggu, Miss. Jika tak ada jawaban, aku anggap setuju!” Nada Kennth sedikit tinggi.
Kia Pov
Aku tuh bukan gak mau buka hati. Bukan gak mau pacaran dan terima laki-laki lain. Cuma masalahnya tuh Jenny. Jarang ada orang tua yang membiarkan anak lelakinya berkencan dengan seorang ibu satu anak. Terlebih, tujuanku masih tentang lelaki itu. Jelas gak bisa.
Pening, desakan lelaki itu membuatku pening. Aku akui pesona dan daya pikatnya bukan main. Hanya saja ....
Haruskah aku membuka hati? Setidaknya biarkan dia coba.
Aarghh!!!
__ADS_1
Aku merebahkan diri di ranjang. Berharap bisa tidur sesaat, lalu dapat ilham untuk memberinya jawaban. Namun, pikiranku tertahan pada adegan yang begitu klise.
Ciuman yang entah kenapa masih bisa kurasakan. Dekap tubuhnya, bahkan sentuhan yang membuat jiwaku hampir melayang. Masih terasa membekas, seolah sedang merayu.
“Apa aku gila?!” gumamku kesal. Kuraih bantal dan meletakkannya di atas kepala. Berusaha terlelap apa pun yang terjadi, sampai pada akhirnya ....
Detak jam dinding dapat kudengar begitu jelas. Mataku perlaha terbuka, menyingkirkan bantal yang berada di atas kepalaku.
“Aku ... ketiduran, kah?”
Kulirik jam dinding sudah berada di angka satu. Aku segera beranjak, untuk melihat sosok yang tadi numpang makan dirumah. Ku lihat ruang tamu sudah sepi. Wastafell juga bersih, tak ada piring kotor di sana. Netra mataku sampai pada secarik kertas yang ada di meja.
->Masakanmu enak, sayang. Hadiah aku taruh di kulkas!
Notes yang singkat dan jelas. Lelaki itu, kesini paling suka minta makan. Apa dia kekurangan?
-> ini gak seenak buatan kamu. Makan jika perutmu lapar! Ingat maag mu!
Baca ginian, kok malah buat senyumku terlepas begitu saja. Perhatian yang basa-basi begini, kenapa justru membuatku tertarik?
Dari pada menerka-nerka. Aku lebih memilih memanaskan makanan itu ke dalam microwife.
“Semua gara-gara dia, makan malam gak bisa tenang. Jadinya tengah malam malah lapar.” Umpatku kesal.
Setelah ditunggu-tunggu, timer itu akhirnya berbunyi. Langsung saja kubawa ayam koloke yang masih hangat itu.
__ADS_1
Sekaleng soda dan juga drama favorit menjadi teman makan malamku hari ini.
Satu suapan kecil baru saja mendarat, dan netra mataku langsung terbelalak.
Daebak! Ini enak, bahkan lebih enak dari buatanku! Apa mulut lelaki itu mati rasa?
Suasana malam yang identik gelap dan sunyi. Sepertinya sedang tidak berlaku di tempat yang sedang Kenneth kunjungi. Suara dentuman musik yang begitu menggoda telinga. Bercampur dengan nyala lampu yang bermain menyorot para penikmat musik. Bau alkohol yang begitu menyengat hidung. Tempat ini, tentu tidak asing.
Seorang pelayan membuka pintu room, begitu melihat Kenneth berjalan mendekat.
“Silakan, Tuan!”
Kenneth masuk, ke sebuah ruangan dengan beberapa wanita yang sedang menari dengan busana tipis. Memanjakan beberapa pemuda lajang yang ada di hadapan mereka.
“Kau datang juga, Kennt!”
Hemm, bang Kennt ....
Kalau nakal, othor jewer nih yeee
Othor sedang berduka, hari ini hanya bisa UP satu bab 🙏🏻
__ADS_1
Terima kasih untuk pengertiannya.
Jangan lupa sajen wajipnya ☺️