Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 49


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾...


Kia Pov


Ada perasaan yang begitu menyakitkan. Seperti pisau sedang mencabik hati dan perasaanku.


Kenapa? Kenapa hatiku terasa sakit mendengarnya?


Perlakuan yang begitu manis, bercampur dengan perkataan pahit yang cukup getir. Ke duanya jelas ngak balance.


Saat tangan itu membelai dengan lembut. Jelas ada getaran yang tak menentu. Membuat degup jantungku semakin kencang. Merasakan segala perasaannya tersalurkan dengan baik.


Tapi kenapa? Kenapa?


Dia pergi usai memberiku tanda cinta. Berpaling dan memakai topinya, lalu perlahan pergi.


Hatiku berteriak “kejar” dengan kencang. Namun kakiku justru tak terorganisir dengan baik. Bahkan keegoisanku menolak telak.


Kia, kamu gak mungkin jatuh cinta kan?


Kejar kalau emang cinta!


Pastikan kalau jatuh lagi, kamu gak terluka dan masih bisa bangkit!


Segera kututup pintu. Secepat mungkin berlari mengejarnya. Netra mataku melihat pintu lift sudah terbuka, dan dia sudah masuk ke dalam.


Apa aku akan gagal?


Kenneth, jika pintu itu tertutup sebelum kakiku sampai. Maka takdir ini bukan milikmu!

__ADS_1


Tiga ...


Dua ...


Tubuhku jatuh dalam dekapnya. Dengan deru napas yang tak karuan. Meraih dua pipi itu, lalu mendaratkan sebuah kecupan.


Kia, ini adalah pilihanmu. Apa pun itu, segala konsekuensinya, kamu sudah harus siap.


Dia melepaskan topi dan menaruhnya di atas kepalaku. Kurasakan dekapannya semakin erat, juga ciuman ini .... Perlahan membuatku tenggelam. Melupakan segala ego juga prinsip yang sudah kususun rapi selama tiga tahun.


“Ini pilihanmu, Miss?” tanyanya usai aku melepas panggutan itu darinya.


Dasar bodoh! Apa aku harus menjelaskannya secara gamblang?


Aku terlalu malu, bo doh!


Kubenamkan wajahku dalam dekapnya. Tak mau wajah merahku ini terlihat olehnya.


Tangannya meraih dua pipi, mengangkatnya ke atas. Membuat dua mata kita saling bertemu, menatap satu sama lain untuk sesaat. Sebelum akhirnya, aku mendorong dagunya. Membuat lelaki itu mendongakkan kepalanya dengan paksa.


“Jangan lihat aku, please!” pintaku dalam hati.


Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Suaranya membuatku bergerak secepat mungkin melepaskan tangan. Ini momen yang sudah aku tunggu. Segera berlari keluar dan kabur dari serigala berbulu domba ini.


Namun, gerakanku kalah cepat. Ia menarik tanganku dan mengenggamnya begitu erat.


Ah, sial!


Ia membenamkan topi yang ku pakai. Membuat wajahku setengah tertutupi oleh ujung topi. Lelaki ini, seperti tau apa yang aku inginkan.

__ADS_1


“Aku sudah bilang, aku gak akan memaksa atau mengekangmu!” bisiknya tepat di telingaku.


Hal yang paling diinginkan wanita dari pasangannya adalah pengertian. Begini saja sudah buat satu senyumku mengembang tak terkontrol. Dia belajar dari siapa?


Tanpa kusadari, lift sudah berada di lantai dasar. Sepertinya memang sudah waktunya kita berpisah cukup sampai di sini.


“Kamu hati-hati!” ucapku tanpa memandang wajahnya.


Sumpah, beneran gak berani menatapnya. Bukan karena takut, hanya terlalu mengakui jika sudah kalah dari awal.


Dia hanya diam saat orang yang berdiri di depan kami pergi. Bahkan sampai pintu lift kembali menutup, ia masih tak beranjak.


“Bukannya mau pulang?” Lirikku sedikit.


“Masih ada hal lain yang ingin aku bicarakan.” Ia menekan tombol lantai dengan tatapan mata yang terfokus padaku.


“A-apa?”


Lift baru berjalan melewati lantai sepuluh. Tepat saat itu, telingaku mendengar samar-sama sebuah panggilan. Sontak saja langsung menoleh ke arahnya.


Lelaki itu tertunduk dengan senyum malu. Tak lupa gaya mengaruk kepala yang sebenarnya tak gatal.


“Puft!” Mulutku sudah tak bisa menahan tawa lagi mendengarnya. Tanpa kusadari, dia meraih tangan dengan cepat, dan membuatku terpojok.


“Ketawa gitu, seru ya?”



Apa itu panggilan dari alam?

__ADS_1


Tebak menebak dulu lah 😂


Jangan lupa sajennya 😘


__ADS_2