
Kia Pov
Aku terselamatkan. Kenapa tiba-tiba dia bicara hal konyol seperti itu? Untung saja mataku cukup jeli, bisa lihat taxi yang sedang mendekat. Kalau saja, kalau saja telah sedikit. Mungkin aku bisa mati di tempat.
“Pak, ke jalan ... ya,” ucapku pada seorang lelaki paruh baya yang mengemudi.
“Baik, Nona.”
Sudah hampir dua tahun. Pada akhirnya takdir dan waktu sama-sama mendorongku untuk masuk ke sana lagi. Rumah yang menjadi asing, sangat asing bahkan aku tak lagi mengenalinya.
Ini jadi mengingatkanku tentang kejadian tiga tahun lalu.
Ah ... ironis sekali.
“Aku gak pegang uang cash banyak. Ini ada seratus dolar. Simpan dulu buat jaga-jaga.”
Perkataan itu tiba-tiba terlintas, tepat di tengah gejolak ingatan tentang masa lalu. Membuatku merogoh saku mantel dan mengambil beberapa lembar nominal sepuluh dolar.
Dia begitu baik dan pengertian. Selama ini, bahkan memberiku beberapa hal baik. Hanya saja, aku masih jadi pengecut saat berhadapan dengan cinta, takut untuk mengulang lagi. Patah hati, ditinggalkan, dan terluka. Cinta kadang tak se-klise kelihatannya.
Namun ... memang apa salahnya memulai lagi?
Pada akhirnya juga tetap menikah kan? Gak mungkin kalau sendiri sampai tua, tapi pertama-tama, aku harus menemukan ayah Jenny dulu.
“Nona, sudah sampai.”
Perkataan sopir membuyarkan segala lamunan dan planing yang sudah kurancang. Netra mataku langsung tertuju pada rumah yang tak begitu megah juga tak terlalu sederhana.
“Ini, Pak. Terima kasih,” ucapku saat menyodorkan dua lembar uang sepuluh dolar.
__ADS_1
Kakiku masih engan melangkah maju, usai taxi yang aku naiki berlaku pergi. Rasanya seperti tertancap dan terpaku di sana. Sangat sulit bergerak maju. Sampai pada akhirnya, pintu rumah itu terbuka. Seorang lelaki yang lebig muda dariku keluar.
“Oh ... Ma, Pa, Sakia datang ....” Ucapan lelaki itu masih begitu kasar, bahkan sangat kasar di banding dua tahun lalu.
Seorang wanita paruh baya berumur setengah abad, keluar dari sana dan memukul ringan pundak lelaki itu. “Sopan sama kakakmu!” Perkataan yang keluar dari mulutnya begitu manis. Menurutku, itu lebih seperti pujian, bukan perintah.
Melihatnya mereka bertingkah seperti itu membuatku eneg, ingin rasanya aku mengambil Jenny dan membawanya pergi.
“Kenapa diam di sana? Masuk! Di luar dingin!” serunya kasar.
Mau ngak mau, akhirnya juga terpaksa harus masuk ke dalam.
“Gimana kabarmu? Gak pernah kasih kabar, tiba-tiba suruh jemput Jenny.”
Gak pernah? Cih!
“Pintuku bermasalah, kemarin mendadak banget. Aku masih ada kelas, Bibi Yu juga gak bisa jaga lebih lama.”
Netraku langsung tertuju pada seorang lelaki yang lebih tua dari Mama, lima tahun. Sedang duduk santai dengan cangkir yang entah apa isinya. Menikmati acara di televisi dengan santai, seolah tak ada beban hidup.
“Jenny, kemana?” tanyaku.
“Baru aja tidur. Dia tumbuh jadi gadis yang manis ya, mirip sepertimu.” Mama memperlihatkan senyum manisnya. “Duduk dulu, mama buatin teh dan cemilan kesukaanmu.”
“Iya.”
Aku melepas syal dan langsung merebahkan diri di sofa. Baru saja duduk menaruh pan-tat. Tiba-tiba seseorang berkomentar pedas.
__ADS_1
“Kamu itu, punya anak bukannya di urus malah di titipin ke orang.”
Perkataan bagai anak panah yang dilepaskan, melesat begitu saja menembus hati dan menancap kuat. Tanpa mata, tanpa perasaan, sama seperti ucapannya.
Dia, lelaki yang menikah sama mama setelah beberapa bulan berpisah dengan papa. Membawa seorang anak lelaki bersamanya, tinggal dengan nyaman di rumah yang dulu pernah menjadi saksi bisu perjalanan dua orang tuaku.
“Anda bicara kayak gini, gak salah kah?”
“Salah? Dimana salahnya? Punya anak harusnya dijaga, bukan titip sana titip sini.”
Ini orang, kalau ngomong ngak ada remnya kah? Cuma pedal gas sama kopling aja? Nabrak baru mampus, deh!
“Orang kalau ngangur ya gini, bisa berkomentar sesuka hati tanpa berkaca.”
Aku meliriknya, sengaja ingin tau ekspresi wajahnya saat aku menyinggung tentang dirinya yang menganggur dan hanya mengandalkan gaji mama sebagai guru.
“Ka-kamu!!” Nadanya meninggi, dan ekspresinya itu .... Hah! Aku puas.
“Sudah-sudah.” Mama datang menjadi wasit di saat seru. “Ini mama buat bakcang manis kesukaanmu.” Mama meletakkan bacang yang masih terlihat asapnya di atas meja.
“Kebetulan kamu datang, mama dan papa mau diskusi hal penting.”
...Nyonya Shen...
...🍃🍃🍃🍃🍃...
Gemes-gemesan dulu sama emak bapaknya neng Kia.
__ADS_1
Bab selanjutnya meluncur 🛬🛬🛬
Jangan lupa Sajen dan Ritual wajib.