
Kenneth Pov
Napasku sedikit terengah-engah usai berlari dari tempat parkir. Membuka pintu kaca dengan list kayu, manik mata langsung menelisik sekitar. Mencari sosok wanita cantik yang mampu membuatku mabuk. Hingga, mataku terfokus pada seseorang.
Dia terlihat cantik. Sedang tersenyum pada sorang anak berusia dua tahun lebih yang duduk di atas meja. Tatap matanya begitu dalam. Bahkan bisa menengelamkan seluruh isi cafe, kecuali anaknya.
Saat berjalan mendekat, dia tiba-tiba menoleh, membuat pandangan kita saling bertemu.
“Kamu sudah datang?” Kata yang dia ucapkan terdengar penuh semangat, tapi bagi orang yang paham, dia sedang mengisyaratkan hal yang sebaliknya.
“Iya. Secepat yang aku bisa.”
Pandanganku langsung tertuju pada wajah yang sedikit bengkak, dengan sudut bibir yang terluka.
“Siapa yang menindasmu?” Nadaku meninggi, dengan lembut memegang dagu dan memperhatikan wajahnya. “Sakit gak?”
Dia tersenyum, dengan enteng menggeleng kepala. “Ngak, tapi ....” dia menunjuk dadanya “Di sini sakit?”
Senyumnya cukup palsu, tak cukup untuk membohongi seorang presdir sepertiku. Entah, dari mana dia belajar bermain ekspresi seperti ini.
Dia masih duduk dengan senyum yang menurutnya manis, dan aku masih berdiri menatapnya. Ingin sekali bertanya tentang masalah yang sedang ia hadapi, tapi ....
Alih-alih mengorek, aku justru memeluknya. Membenamkan kepalanya untuk merasakan roti sobek milikku. “Kamu boleh nangis kalau emang sakit. Saat bersamaku, kamu gak perlu pura-pura kuat.”
Saat berkata seperti itu, pandanganku tertuju pada Jenny. Gadis kecil yang asik menikmati susu kotak. Dia terlihat seperti anak yang patuh dan penurut, tak mau membuat beban ibunya.
__ADS_1
Satu tanganku mengelus kepala sang ibu, tangan yang satu lagi mengelus kepala anaknya. Moment ini, aku gak akan pernah lupa.
Dia menangis. Aku bisa mendengar isakan tangisnya yang coba ditahan, lengkap dengan napas berat yang tak beraturan.
Saat ini aku baru paham, seserius apa masalah yang ia hadapi. Wanita ini termasuk wanita tanguh, bahkan saat mendengar orang mencemooh dia. Dirinya masih cuek dan tak peduli. Namun, saat ini ....
Setelah beberapa saat, dia melepas tangan dari pinggangku. Sempat mengusap air mata, lalu menengadah ke atas melihatku.
“Di depanku, jadi dirimu sendiri. Mau marah, nangis ... lakukan dengan leluasa, oke.”
Dia tak menjawab dengan suara, hanya tersenyum dan mengangguk.
“Ayo pulang!” ajakku mengandeng tangannya.
Bisa kutebak, setelah kita keluar dari cafe, dan dia lihat aku bawa mobil mewah, dia pasti bakal tanya. Namun, itu cuma tebakan asal yang tak jadi kenyataan.
“Lapar gak?” tanyaku memecah suasana hening.
Dia tak menjawab, hanya menggeleng kepala tak bersemangat. Sepertinya, kepulangan dia kerumah cukup membuat dirinya tertekan. Sebenarnya, keadaan seperti apa yang dia hadapi?
Tiba-tiba, aku terpikir untuk memutar haluan sedikit dari rute yang seharusnya. Memarkir mobil di sebuah Resort.
“Kenapa kesini?” tanyanya.
Aku tak langsung memberinya jawaban, hanya membantunya turun dan mengajaknya masuk.
“Katanya, berendam di mata air panas bisa membuat tubuh relax, pikiran juga tenang. Duduk di sini, aku pesen kamar.”
__ADS_1
Hari ini, dia sangat patuh. Tanpa bertanya, ia hanya mengangguk dan menuruti perkataanku. Duduk dengan manis di lobi dan membiarkanku pergi ke resepsionis sendiri.
“Selamat datang, Tuan.”
“Beri aku kamar nomer 3434,” ucapku santai.
Dua resepsionis saling melihat satu sama lain. “Maaf Tuan, kamar itu tidak disediakan untuk umum. Kami bisa memberi Anda kamar yang lain.”
Aahh ... rasanya, aku melupakan hal yang penting. Segera ku rogoh saku dan menghubungi Zico. Meminta dia memberi tau manager Resort, jika presdir mereka ingin menginap.
“Selesaikan dalam lima menit, jangan lupa, suruh manager menaikkan gaji resepsionis yang bertugas hari ini.”
Usai menghubungi Zico, aku menghampiri Kia yang bermain dengan Jenny.
“Kamu ngak tanya apa pun?” ucapku usai duduk di sebelahnya.
“Soal apa?” Dia menatapku. Pandangannya datar, tanpa ekspresi di wajah cantiknya.
“Mengajakmu kesini ....”
“Udah jelasin kan tadi? Katanya berendam air hangat bisa membuat tubuh relax. Kebetulan, aku penasaran dan mau coba.”
Entah kenapa, mendengar jawabannya seperti itu, membuatku menebak banyak hal. Sejak kita bertemu tadi, sifatnya jauh berubah. Dia yang begitu keras kepala, bagaimana bisa jadi luluh dan penurut seperti itu?
Sajen Sajen ... Ritual Ritual ...
__ADS_1