Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 8


__ADS_3

Kenneth pov


Duduk di barisan paling akhir, tanpa ada seorang pun yang duduk di barisan itu. Membuatku semakin leluasa saat menatapnya.


Ini kah wanita malam itu? Yang menemaniku bermain dengan gila?


Baru saja datang langsung menyapa para muridnya, lalu menjelaskan beberapa kata dan tidur. Pantas saja di juluki dengan Dosen Gila Seksi. Blush putih yang memperlihatkan belahan itu ....


Aku ingin merobek pakaiannya dan menganti dengan baju yang lebih tertutup.


Sial! Dia memang menggoda.


Dari bagian lain tentang si Dosen Gila, aku lebih tertarik dengan materi yang dia ajarkan hari ini. Simpel tapi menjelaskan inti dari semuanya. Bahkan gaya mengajar yang seperti ini, hampir seperti dosen di Stanford.


“Hei, you!” Wanita itu menjentikkan jarinya dan memandang ke arahku.


Tunggu! Apa dia sedang memanggilku?


“Kenapa malah menoleh? Aku memanggilmu!” serunya dengan suara lantang, hingga membuat beberapa mahasiswa menoleh.


Wanita ini! Pertama kali bertemu setelah tiga tahun, tapi sudah membuatku malu setengah mati. Lihat, bagaimana aku menghukummu nanti.


Dia berjalan mendekat, langkah kakinya yang tegap membuatku sedikit tertantang. Aku berdiri tegap dan berjalan menghampirinya.


“Siapa nama kamu!” tanyanya dengan nada ketus.


“Kenneth.”


Jarak di antara kami hanya sekitar dua langkah. Jarak yang begitu dekat ini, membuatku dapat melihat jelas ke dalam matanya. Sorot mata yang tegas, dengan kewaspadaan yang cukup. Wanita ini, pembawaannya sedikit berbeda dari tahun itu.

__ADS_1


“Bawakan buku yang ada di meja!”


Apa? Aku yang seorang Presdir ini biasanya menyuruh, bukan disuruh.


Wanita ini ....


Ckckck, lihat bagaimana aku akan membalasmu nanti.



Kenneth mengambil beberapa buku tebal yang ada di atas meja, berjalan mengikuti Kia yang lebih dulu keluar ruangan. Terdengar beberapa pembicaraan yang membuat kelas menjadi ricuh. Jelas sekali Kia mendengar itu, tapi ia tak peduli.


“Kamu bukan mahasiswa High College!” cetus Kia.


Kenneth menoleh, melihat wanita di sampingnya berjalan dengan angkuh.


Kia menghentikan langkahnya, kemudian menoleh, membuat Kennt langsung berhenti di tempat. Dua mata Kia menyipit, bersamaan dengan alisnya yang juga mengerut. Dia tak percaya dengan apa yang dikatakan Kennt.


“Mahasiswa baru?” Kia menatap Kennth sejenak, sebelum akhirnya kembali berjalan menuju ruang dosen.


Mereka berdua menjadi bahan pembicaraan saat melewati koridor. Lelaki dengan kemeja putih yang di balut sweeter rajut, berhasil menarik perhatian para wanita.


“Wah, dia ganteng sekali.”


“Dari angkatan berapa dia? Apa dia satu fakultas dengan kita?”


Gemuruh kekaguman dari para kaum hawa membuat telinga Kia semakin risih. Ia pun terpaksa mempercepat langkahnya agar cepat sampai di ruang dosen.


Kia menarik kursi dan duduk di atasnya. “Taruh di meja!” Kia membuka laptopnya, memasukan kode akses kampus. “Siapa nama lengkap mu!” tanya Kia.

__ADS_1


Kennt mencondongkan tubuhnya ke arah Kia. “Kenneth Lee,” ucap Kennt di dekat telingga Kia.


Jemari lentik Kia bermain dengan cepat di atas kyboard berwarna putih. Menjelajah data mahasiswa untuk memastikan kebenaran dari ucapan Kenneth.


Begitu menekan tombol Enter, seluruh informasi data Kenneth muncul. Kenneth yang melihat layar laptop Kia tersenyum.


“Hem!” Kia menutup cepat laptopnya. “Kamu pernah kuliah di Stanford tapi hanya sampai semester empat, kenapa harus mendaftar di semester awal?” Kia menoleh. Dengan cepat Kenneth menegakkan kembali tubuhnya.


“Sudah lama cuti, jadi harus terpaksa menggulang. Lagi pula, fakultas yang aku pilih berbeda dengan sebelumnya.” Kenneth melirik, melihat Kia yang menatapnya dengan pandangan yang tajam.


Kia menghela napas lalu berbalik dan membuka kembali laptopnya. “Kenapa datang hari ini? Kelas pertamamu di mulai besok!”


“Baru selesai mengurus administrasi dan jalan-jalan di sekitar kampus sebentar. Tak sengaja masuk ke kelas, jadi ....” Kenneth membungkuk lagi. “Apa ini bisa di sebut jodoh, Miss Kia?”



Kia Pov


Dia hanya lebih tua dariku satu tahun saja. Tapi kenapa dia terlihat begitu muda? Bahkan hampir setara dengan umur mahasiswa di sini. Apa wajahnya menolak tua?


Dia yang sedang membungkuk, dan menjatuhkan wajahnya tepat di hadapanku. Membuatku melihat dengan jelas bulu matanya yang lentik.


Bulu mata ini, bahkan lebih lentik dari seorang wanita yang memakai maskara. Beberapa menit pandanganku jatuh pada ketampanannya.


“Heemm!” Aku menarik mundur kursi setelah tertegun beberapa saat. “Kelasmu dimulai besok, jangan terlambat!”


Dia tak menjawab, hanya tersenyum singkat lalu pergi meninggalkan ruangan.


Tadi itu, seperti suasana familiar yang pernah kurasakan. Suaranya, sedikit tidak asing. Dimana aku pernah mendengarnya?

__ADS_1


__ADS_2