
Phuket, salah satu pulau di negara Thailand yang memiliki luas lebih dari 500 kilometer. Hampir 70 persen adalah pegunungan, sedangkan sisanya menjadi hutan dan perkebunan. Selain itu, juga mempunyai garis pantai dan laut yang menakjubkan.
Pesawat jenis boeing baru saja landing setelah satu jam lebih menggudara di langit Thailand. Mengantar 86 penumpang ke Phuket, termasuk Kia, Kenneth, dan Jenny.
“Apa kita sudah sampai, Uncel?” tanya Jenny.
Sinar mentari begitu terik dan hangat, saat mereka keluar dari pintu kedatangan. Kia mengeluarkan ponselnya, melihat layar ponsel yang otomatis mengukur suhu di sekitar. Pada waktu yang sama, Kenneth menjawab pertanyaan Jenny.
“Iya, kita sudah sampai.”
“Udaranya hangat, seperti musim panas di kota.”
“Jenny suka?” tanya Kia membelai rambut Jenny yang mengangguk penuh semangat.
“Bagus, ayo kita ke hotel.” Ajak Kia.
Baru saja melangkahkan kaki, sebuah mobil keluaran Jepang berhenti di sebrang jalan. Seorang lelaki berkemeja hitam turun, berlari kecil sedikit tertatih menghampiri mereka.
“Wellcome, Mr and Mrs Lee. Sorry, i’m late to pic up you.” (Selamat datan Tuan dan Nyonya Lee. Maaf, saya terlambat menjemputmu)
Sapanya dengan sopan sambil sedikit membungkuk.
“Oh, sorry, I forgot to introduce myself. I'm from Andaman hotel, you can call me Patt.” (oh, maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Saya dari hotel Andaman, Anda dapat memanggil saya Patt.)
__ADS_1
Lelaki itu menyodorkan selembar kartu nama. Tingkah lakunya cukup sopan, juga sangat ramah dan murah senyum.
“While here, I will be your driver and guide. If you need something later, you can contact me.” Lanjutnya lagi.
“Emm, Oke. Can we go to the hotel now? My wife and son are tired,” ucap Kenneth sambil menarik pundak Kia ke sisinya.
“Of course, Sir.”
Perjalanan dari bandara menuju hotel tak memakan waktu lama, kurang lebih empat puluh menit tanpa macet. Kenneth langsung pergi mengurus prosedur cek-in begitu sampai.
“Lelah gak?” tanya Kenneth saat Kia mulai kepo dan menghampirinya ke meja resepsionis.
“Eem, sudah cukup lelah. Kapan selesainya?” jawabnya manja.
“Hampir.”
“Oke, thank you.”
Kia yang melihat Kenneth menerima satu kunci card, mencoba bertanya.
“Cuma satu kamar?”
“Kenapa? Kita suami istri sekarang,” jawab Kenneth santai.
Jawaban Kenneth seperti kain yang menyumbat mulut Kia. Membuatnya diam tak dapat berkomentar ataupun mengerutu.
__ADS_1
...Kia Pov...
Beberapa jam yang lalu, iya, masih beberapa jam, belum lewat satu hari. Pikiranku berubah seketika pada menit-menit terakhir. Berlari seperti orang gila, masuk ke kantor catatan sipil dengan alasan konyol.
Mencari kartu penduduk? Hah, memang konyol.
Aku tak begitu ingat tiap detiknya seperti apa, tiba-tiba saja, suasananya berubah dengan cepat. Sudah selesai tanda tangan, sudah selesai foto, dan hanya dalam waktu setengah jam, buku nikah sudah ada di tangan.
Sekarang, mau mengelak atau menolak juga sudah terlambat, kan?
Dia, sudah menyandang status suami, dan aku sudah jadi istrinya. Haruskah aku menceritakan semua tentang kehidupan yang aku jalani dulu?
Tentang sebuah kesalahan, juga tentang Jenny.
Haruskah aku bicara terus terang padanya sekarang? Atau nanti saja? Paling tidak, selesai liburan.
“Mikirin apa?”
Suara berat khas seorang lelaki yang familiar di telinga, menyadarkanku dari pikiran panjang yang sedikit menganggu.
“Ah — gak ada, cuma lelah.”
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
__ADS_1
Bab selanjutnya meluncur .....