
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Kenneth pov
Entah sudah berapa minggu berlalu. Aku terlalu sibuk membenahi keuangan yang sempat kacau karena kejadian kebakaran kapan hari. Belum lagi harus menghadapi tekanan dari tua tua keladi juga kakek. Otakku serasa mau pecah!
Aku mengambil ponsel dari saku. Menatap pesan yang beberapa minggu lalu kuterima.
\~Aku, rindu? Mana mungkin\~
Hanya seperti itu, tapi sudah buat hatiku meraung kencang. Gak tau kenapa, aku ingin menantang diri sendiri. Bertaruh pada rasa percaya diri yang tinggi.
Dia pasti merindukanku!
Baru saja duduk menikmati secangkir Latte. Ziko datang dan memberiku undangan. “Tuan, ada undangan pesta ulang tahun perusahaan. Di kirim langsung oleh asisten Presdir David.”
“David?”
“Benar, salah satu kolega bisnis kita.”
Mencoba berpikir keras, sampai akhirnya aku mengingat siapa yang dimaksud Ziko. “Emm, aku sudah ingat!” Aku mengambil undangan yang baru saja ditaruh Ziko di atas meja, lalu membaca isinya.
“Hari ini Tania sibuk, jadi kamu temenin aku pergi,” ucapku melirik Ziko yang berdiri di sampingku.
“Baik, Tuan. Untuk rapat sore ini ... Anda mau hadir?”
Aku hampir melupakan masalah penting satu itu. Sebenarnya cukup malas harus duduk di antara tua keladi. Hanya saja, masalah ini memang harus segera diatasi, atau kakek tua itu akan menikahkanku dengan wanita tambalan.
“Iya, aku hadir. Siapkan saja satu set baju untuk pesta, kita berangkat dari sini langsung!”
__ADS_1
“Baik.”
Usai Ziko keluar, aku kembali sibuk dengan beberapa dokumen yang membutuhkan torehan tanda tangan. Duduk dengan tumpukan berkas, sampai gak terasa waktu semakin sore.
Apa waktu berjalan terlalu cepat hari ini? Atau aku yang terlalu malas menghadiri pertemuan itu?
“Tuan.” Ziko membuka pintu dan memunculkan kepalanya sedikit. Sekretasis satu ini semakin hari semakin gak tau sopan.
“Apa?”
“Itu ... mereka sudah menunggu!”
Sekarang aku tahu alasan Ziko hanya memunculkan kepalanya di ambang pintu. Pesan yang dibawanya ini, membuatku ingin merobohkan seluruh gedung.
“Masih setengah jam lagi dari jadwal. Mereka beneran gak sabar?”
“Ta-tapi, itu ...”
Aku berdiri dan menghela napas jengkel. Ziko sudah tau dengan baik gimana karakter para tua tua keladi. Jadi pasti paham apa respon mereka jika Ziko menyampaikan pesan dariku. Sepertinya memang aku harus menemui mereka lebih awal.
Ku tarik jaz yang ada di sofa, “Ayo pergi!” ajakku. Ziko membuka pintu selebar mungkin. Membiarkanku berjalan lebih dulu.
Ruang rapat hanya dibatasi kaca tebal, tapi kedap suara. Aku baru berjalan di depan ruangan dan sekilas melirih mereka yang sudah duduk dengan rapi.
“Sepertinya kalian udah gak sabar, ya?” tanyaku sambil duduk di kursi singasana.
“Hemm. Kami cuma gak mau telat, jadi datang lebih awal!”
Jawaban salah satu dari mereka ini membuat perutku tergelitik. Alasan seperti ini cuma berlaku buat bocah ingusan yang hanya tau menghisap lolipop.
__ADS_1
“Mulai saja, jangan banyak basa-basi!” kataku lantang.
Mereka mulai membicarakan tentang perkembangan, omset pendapatan juga terkait kerugian kemarin. Sampai pada akhirnya, mereka mulai menunjukkan taring satu per satu.
“Terkait kebakaran di JW, kami tau itu sedang diselidiki. Hanya saja ...”
“Kau lamban menangani masalah, juga teledor!”
Kulirik Ziko yang berdiri di sampingku sedang mengepal tangannya erat-erat. Sepertinya lelaki ini masih ada hati saat kinerja bosnya dipertanyakan.
“To The Poin saja! Kalian ingin aku mundur?” Aku meletakkan pena di atas meja dengan kasar. “Aku lebih suka kalian berkata langsung ke intinya. Berbelit-beli seperti tadi, aku gak suka!”
Mereka saling melirik satu sama lain tanpa mengucap sepatah kata pun. “Siapa yang akan kalian pilih kalau aku mundur?” lanjutku.
Seluruh mata langsung tertuju padaku, termasuk juga Ziko. “Aku bisa aja mundur.” Aku berdiri dari kursi. “Tapi aku penasaran, siapa yang mengantikanku?”
“Kuartal penjualan, statistik keuntungan, apa dia yakin bisa menyetabilkan ini dalam beberapa minggu usai dua hotel JW kebakaran, dan perusahaan mengalami rugi hingga empat juta dolar?” Aku melepas kancing kemeja, kemudain melonggarkan dasi.
“Jika ada, aku akan mundur sendirinya. Tapi ingat, orang itu juga harus bisa membuat pendapatan perusahaan naik di atas lima persen setiap tahun!”
Mereka saling menoleh satu sama lain. Sepertinya ucapanku berhasil membuat mereka berpikir dua kali untuk membuatku turun.
“Kalau gak ada lagi, rapat aku tutup!”
Pantengin terus, othor masih semedi cari wangsit 😂
Jangan lupa sajen dan ritualnya ☺️
__ADS_1