Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 21


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾...


“Gak nyangka ternyata bisa main basket juga!” seru Sam yang kemudian meraih pundak Kenneth.


Kenneth terlihat meninggikan ujung bibirnya sedikit, kemudian meraih handuk yang di berikan Sam. Keringat mengucur membasahi kening juga badannya. Ia segera mengusapnya, lalu ikut duduk di pinggir lapangan dengan yang lain.


Beberapa temannya sedang asik, membahas tentang mahasiswi dari fakultas lain yang di sebut-sebut sebagai Dewi. Salah seorang dari mereka menyodorkan ponsel itu pada Sam, “Nih, cewek yang kamu suka!” Ejek mereka dengan gelak tawa renyah.


Sam segera merebut ponsel itu dan menunjukkannya pada Kennt. “Lihat, bagaimana menurutmu?” tanya Sam.


Kennt melirik, melihat foto seorang wanita cantik yang sedang duduk di kursi. “Biasa saja!” jawabnya ketus. Jawaban itu sontak membuat Sam dan yang lain terperanggah sesaat.


“Ka-kamu bukan ... kan?” ucap Sam.


Ia merengutkan alisnya dan melirik dengan tatapn tajam. “Bukan tipeku. Aku gak tertarik kencan dengan mahasiswa!” ucap Kenneth sambil mengikat kembali tali sepatunya.


“Woah, jadi kamu suka gaya wanita kantoran begitu? Ck ck ck, bukan main seleramu!” Decak Sam menggoda. “Eh, mereka itu ya, lebih suka gaya CEO dingin dan arogan. Mahasiswa kek kita gini ....? Cih, dilirik aja engak!”


Kennt hanya meninggikan satu sudut bibirnya, seakan menelan telak kata-kata Sam. Mereka masih asik mengobrol, sampai tak terasa waktu sudah semakin sore. Niat Kennt untuk ke perpustakaan menjadi sirna dan memutuskan untuk kembali ke rumah.


Baru saja membuka pintu, tiba-tiba sebuah vas dari keramik melayang dan jatuh tepat di kakinya. Pandangan Kennt kemudian beralih pada sosok lelaki tua, yang sedang berdiri dengan satu tongkatnya.


“Ka-kek!” Sungut Kennt kesal.

__ADS_1


“Bocah tengik! Dari mana saja kau!” Nada Jullius meninggi. “Rebbeca menghubungimu sejak tadi!”


Perkataan kakeknya membuat moodnya mendadak berubah. Kenneth berjalan mendekati Jullius, dengan pelan berbisik padanya beberapa kata. Belum selesai mulut Kennt menutup, ekspresi Jullius berubah seketika. Dua matanya terbelalak lebar, dengan dahi yang menggerut.


Kenneth berjalan pergi meninggalkan kakeknya yang diam mematung. Ia berjalan masuk ke kamar, dan langsung pergi mandi. Menyegarkan peluh sisa bermain basket.


Rambutnya masih setengah basah, ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutup matanya. Perlahan terpenjada dalam rasa kantuk yang luar biasa.



Kia Pov


Jika dipikir-pikir, lelaki itu cukup baik padaku. Hubungan kita hanya sebatas guru dan murid, tapi dia rela menginap di rumah sakit untuk menjagaku. Bahkan menyiapkan baju dengan ukuran yang pas.


“Lupakan, Kia! Lupakan!” ucapku menepuk kening beberapa kali, berusah menyadarikan diri dari tipu daya lelaki.


“Miss Kia ....” Bibi Yu menepuk pundakku dari belakang. “Jenny sudah tidur, kalau begitu saya permisi,” ucapnya diakhiri senyum ramah.


“Oh, oke, Bi. Terima kasih sudah menjaga Jenny,” jawabku.


“Aih, ubahlah kebiasaan buruk itu dan pergi makan. Aku sudah masak beberapa lauk,” ucapnya lagi.


Sejak pindah, Bibi Yu yang paling mengerti aku. Dia cukup sopan, tapi di sisi lain bisa menjadi seorang kakak yang pengertian.

__ADS_1


“Tunggu!” Aku menarik salah satu tangannya. “Ayo makan bersama, Anda memasak banyak seperti itu, gimana aku makannya?” lanjutku memaksanya untuk menemaniku.


Di meja makan tersaji beberapa menu yang menggugah selera. Dia memang paling mengerti apa yang aku suka dan apa yang tidak. Memiliki orang seperti dia membuat bebanku berkurang cukup banyak.


“Udah tau punya maagh, tapi sering tunda makan juga gak sarapan. Miss Kia, tubuh Anda sedang memberi kode untuk cari pacar!”


Perkataannya membuatku tertegun sejenak, kemudian tersenyum datar sembari menikmati iga asam manis buatannya.


“Bibi Yu, kita baru mengenal beberapa tahun, tapi Anda cukup memperhatian aku.” Aku melihatnya menurunkan sendoknya dan memberiku senyuman getir. “Aku juga pengen punya pasangan, Bi. Hanya saja, Jenny butuh ayahnya.”


Aku mendengar hela napas dari wanita itu yang sedikit berat. “Jangan memaksakan diri. Jenny butuh ayahnya, seorang wanita juga butuh pasangan!” Ia kembali mengangkat sendok dan menikmati makanannya.


Jelas aku tahu maksud wanita ini, hanya saja aku yang terlalu egois. Aku menyembunyikan Jenny begitu rapat, tetapi juga ingin menemukan si pemilik kecebong itu.


Aahh ... jika aku menemukannya nanti, kupastikan mencincang habis miliknya itu!


...🍃🍃🍃🍃🍃...


Moon maap telat up 🙏🏻


Othor sedang tidak enak badan.


Jangan lupa Like’nya, mau kasih kopi, kembang, lope, atau vote, jelas boleh banget 😘

__ADS_1


__ADS_2