
Tiga hari ini, hidupnya seperti roda. Sedetik berada di atas kebahagiaan yang nyata, dan sedetik kemudian berubah. Setiap perubahan yang terjadi, hanya ada Kenneth yang dapat diandalkan. Bahkan bahunya selalu siap menjadi tempat bersandar.
Kia masih bengong tak percaya. Perkataan Kenneth, sebenarnya menjurus kemana?
“Jangan menggodaku, Kennt.” Kia melepas tangan Kenneth dan pergi ke kolam air panas yang berada di balik kamar. Kenneth secara nalar mengikuti Kia, menarik tangan dan menghentikan langkah kakinya.
“Jangan menghindar! Aku serius!”
Sudah tidak dapat mengelak lagi. Kia menatap wajah Kenneth cukup serius, tetapi hatinya masih belum yakin tentang itu.
“Cara apa untuk membuktikan perasaanku padamu?”
Cara apa? Lelaki itu langsung datang begitu mendapat panggilan dari Kia. Saat sedih, tangannya hadir menyebar kehangatan. Cara apa lagi untuk membuktikan perasaannya?
Kia berpikir dengan keras.
Kebisuan Kia membuat Kenneth pasrah dengan keadaan. Mungkin caranya salah, atau langkah ini terlalu tiba-tiba. Pelan-pelan ia melepaskan tangan Kia, berusaha membuat sudut bibirnya terangkat meski terpaksa.
“Maaf, aku terlalu tiba-tiba. Gak seharusnya aku maksa kamu.”
Perlahan Kenneth berpaling, tetapi saat kakinya melangkah, Kia bergerak dengan cepat. Meraih tangan lelaki itu dan memeluk tubuhnya.
“Aku butuh waktu untuk berpikir, kenapa kamu buru-buru pergi?” Kia menelan salivanya pelan. Lalu, mendaratkan bibirnya di mulut Kenneth, menjulurkan lidah, menerobos masuk ke dalam.
__ADS_1
Kali ini, Kia berinisiatif memberikan ciuman yang begitu mesra. Bahkan sampai membuat lelaki itu tak berdaya. Sekujur tubuh menjadi lemas, seluruh persendian mati rasa.
Kia melepas panggutannya perlahan, saat napas sudah mencapai titik ujung. Namun, Kenneth merasa belum puas, secepat mungkin menangkap pipi Kia, lalu melahap habis bibir kecil nan tebal itu dengan rakus. Tak peduli dengan napas Kia yang memendek, dan terus menjelajah ke dalam.
“Kuangap ini sebagai jawabanmu!”
Napas Kenneth berhembus hangat di pipi Kia, membuat rona merah di wajahnya terlihat lebih jelas. Kenneth mendekap tubuh Kia, dengan lembut berbisik di telinganya. “Kia, aku mencintaimu. Kamu harus tau ini!”
Jantung Kia mendadak menggebu-gebu tak karuan. Dia tak dapat menjelaskan alasannya kenapa, karena dia sendiri juga tidak tau. Satu yang mungkin dapat dijabarkan, itu adalh perasaan bahagia yang tidak terkira.
Kia mengangguk, dengan malu-malu menjawab, “Ya, aku tau.” Dia membiarkan Kenneth memeluknya sedikit lebih lama, hanya sedikit, saat waktunya sudah semakin lama, dia mulai protes. “Sudah cukup, lepaskan!”
“Gak mau!” Kenneth mempererat dekapannya.
Kenneth diam membisu, justru semakin mempererat lagi dekapannya. Kia menghela napas panjang, lalu memanggilnya dengan mesra.
“Sayang ... cepat lepas!”
Jelas itu adalah kalimat perintah, tetapi saat terdengar di telinga Kenneth, menjadi sebuah kalimat rayuan tanpa tanda seru. Dua sudut lelaki itu terangkat, lalu pelan-pelan melonggarkan dekapan tangannya.
“Ayo cepat berkemas!”
Tidak perlu memakan waktu yang lama, karena memang tidak membawa banyak barang. Selesai Cek Out, mereka sudah siap kembali ke kota.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan, Kia tiba-tiba teringat tentang Phuket.
“Tiket pesawat, kamu sudah pesan?” tanya Kia penasaran.
“Baru boking, belum bayar. Gak terlambat kalau mau cancel.”
Setelah mendengar pembicaraan Kia dengan mamanya, Kennt sedikit banyak sudah menetahui permasalahan wanita itu. Sehinga, dia memilih untuk sedikit menyimpang agar wanitanya tidak merasa terbebani.
“Siapa yang mau cancel? Pesan untuk besok!” ucap Kia lantang.
Kenneth menoleh sesaat. Dia tak percaya jika Kia mengabaikan mamanya dan lebih memilih untuk berlibur. Namun keputusan yang Kia buat, juga adalah keinginan terdalamnya. Bagaimana pun, Kia layak bahagia menikmati hasil jerih payahnya selama ini.
“Baik, Sayang!”
Yang Votenya nganggur ....
Kia dan Kennt siap menampung.
Sajen dan ritual jangan sampe lupa.
Othor mau pergi nyari wangsit sama si kembar
__ADS_1
🐷🐷 😂😂