Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 34


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾...


Kenneth Pov


“Presdir, Lee.”


Suara dari Tuan David membuatku menoleh. Seorang wanita dengan dress plisket kombinasi membuatku tersentak tercengang kaget.


Kok bisa wanita ini?


“Pressdir Lee, kenalin, dia putri dari Erick Ardiansyah, pemilik perusahaan Ardi Group. Bagaimana, cantik bukan?” ucap Tuan David memperkenalkan wanita itu padaku. Wanita di sampingnya menaikkan satu sudut bibirnya dengan pose sedikit mengejek.


“Kenneth Lee!” Aku mengulurkan tangan dengan sedikit terpaksa. Berusaha menunjukkan sikap saling tak mengenal.


“Kimmora!” jawabnya anggkuh sembari menjabat tanganku. Di waktu yang sama, alunan musik terdengar begitu merdu memecah suasana. Beberapa orang sudah naik ke lantai dansa dan menunjukkan skil mereka.


Dengan gerakan cepat, aku menarik tangan wanita itu. “Kalau begitu gak masalah jika aku mengajaknya berdansa, kan?” tanyaku pada Tuan David.


“Tentu tidak, silakan silakan!”


“Apa-apaan sih kamu!” Dia mengeliat mencoba melepaskan diri.


“Jadi anak baik, oke!”


Aku membawanya ke lantai dansa. Menikmati alunan musik yang cukup indah dengan gerakan dansa yang ringan.


“Aku harap kamu bisa jaga mulut saat di kampus!” ucapku lirih tepat di telinganya.


“Kalau gak mau? Lagi pula aku juga gak ada keuntungan.”


Wanita ini ... rasanya aku sudah mencapai batas sabarku. Harus kuapakan dia?


“Apa penawaranmu?”

__ADS_1


Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya setuju untuk menjaga rahasiaku di kampus. “Untuk tawarannya, aku pikirin dulu!” ucapnya.


Gak masalah tentang itu, setidaknya dia sudah setuju. Namun tiba-tiba, heels yang dia pakai mendarat cukup keras di kakiku.


“Ups, maaf gak sengaja. Lagian aku gak bisa dansa!”


Aku belum sempat merespon atau membalas. Seorang lelaki datang menarik tangan Kimmora dan mendorongku. “Dia, istriku!” ucap lelaki itu kasar, kemudian membawa Kimmora pergi ke sisi lain.


“Sial!” pekikku jengkel sambil merapikan tuxedo.


Aku sempat melihat lelaki itu mengambil selembar kain, kemudian mengelap tangan Kimmora seakan tangannya kotor. Aku tau jika itu sebuah ejekan yang langsung ditujukan padaku.


Belum puas sampai di situ. Ia mengulurkan tangan, mengajak wanita yang dipanggil ‘istri’ itu berdansa. Aku sempat mengira, Kinmora benar-benar tak bisa berdansa, tetapi nyatanya itu salah besar.


“Dia mengerjaiku!”


Di waktu yang sama, Ziko datang dan membisikkan sesuatu. Membuat mataku membulat seketika. “Kok bisa?!” Aku menatap wajah Ziko. “Ayo pergi dan ceritakan detailnya!”


Ziko menjelaskan, jika Sam tadi menghubungiku. Ternyata Kia sempat menghubungi Sam untuk meminta alamat rumahku. Namun karena Sam tak tahu, dia mengarahkan Kia untuk mencarinya di biodata mahasiswa. Yang menjadi masalah sekarang adalah alamat yang di tulis Ziko saat pendaftaran.


“Gimana bisa mikir alamat ini, sih?” tanyaku saat turun dari mobil.


“Itu sebenarnya ... ini tempat tinggalku dulu!” Aku menoleh, melihat Ziko yang tertunduk malu.


Sempat tertegun sesaat usai mendengar jawaban Ziko. Dulu saat merekrutnya, aku gak pernah mencari tau asal usul atau kehidupannya. Gak nyangka, kalau dia pernah hidup seperti ini.


“Tunjukkan jalannya!”


Ziko membawaku berjalan menaiki tangga dan berhenti di lantai dua. Ia melanjutkan langkahnya melewati beberapa pintu, sampai akhirnya berhenti di ujung koridor. Ia merogoh saku, mengambil seombyok kunci. Tangannya begitu lincah mencari salah satu kunci diantara yang lainnya. Begitu ketemu, Ziko segera membuka pintu apartemen.


Pandanganku tertuju pada sebuah ruangan berukuran 40 meter persegi. Di sana terlihat ranjang, sofa dan beberapa furnitur yang ditutup kain putih. Ada sedikit debu, tapi juga tak begitu menganggu.


“Kau, pernah tinggal di sini?” tanyaku menatapnya.

__ADS_1


“Iya. Kurang lebih delapan tahun.”


“Dihitung-hitung, bonus, ditambah lembur, juga itensif selama satu tahun. Harusnya udah bisa beli satu apartemen yang layak, kan?”


Ziko mendengus getir. “Anda benar, hanya saja, aku harus mengirim uang untuk keluargaku. Jadi uangnya baru terkumpul tahun kemarin.”


“Dimana tempatmu tinggal sekarang?”


“Apartemen di distrik S.”


Selama ini dia mengikutiku dan patuh. Yah, meski kadang menyebalkan dengan sikap kurang ajarnya itu. Melihat ini, aku jadi menyesal karena sudah mengabaikan kesejahteraan hidup karyawanku.


“Sudah panggil orang untuk bersih-bersih?” tanyaku sembari berkacak pinggang.


Ziko baru membuka mulut, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Aku melihat beberapa orang tengah berdiri di depan pintu.


“Tuan, Ziko.” sapa orang yang mengetuk pintu.


“Presdir, mereka yang akan membersihkan tempat ini. Aku juga sudah memesan kasur yang baru juga beberapa baju untuk Anda. Untuk perabotan yang lain sepertinya tidak bisa dikirim malam ini.”


Hela napasku sedikit berat setelah mendengarkan perkataan Ziko. Sepertinya persiapan Ziko lebih matang dari perkiraanku.


“Antar aku pulang. Besok sebelum matahari terbit, jemput dan antar ke sini. Aku mau semua bersih sebelum aku datang!”


“Baik, Presdir.”



Kennt : Besok kalau gak ketemu Kia, aku santet kau, Thor!!!


Tolong!!!! Bang Kennt ngamuk 🙈🙈🙈


Beberapa hari ku ajakin cari wangsit, ngambek keknya babang Kent🤭

__ADS_1


Gantian Kia ah, aku ajakin ngepet cari kopi sama kembang 😂😂


__ADS_2