Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 60


__ADS_3

“Nahan apaan?” seru Kia penuh tanya. Kenneth sedikit jengkel, ia meletakkan dua tangan di pipi Kia. Sedikit menekannya, lalu memutarnya ke samping.


“Lanjut makan!” ucapnya. Kia kembali menatap mie yang sudah mulai dingin. Pikirnya, perdebatan kecil memang harus di akhiri, karena mie di hadapannya itu cukup menggoda.


Kia kembali menyantap mie yang sudah mulai dingin. Sedangkan Kenneth yang terlalu engan, lebih memilih mengambil soda di lemari pendingin. Sambil bersandar, ia memandang Kia yang menikmati mie dengan lahap.


“Mie yang udah dingin mana enak?” batinnya sembari meneguk isi kaleng.


Ia meletakkan kaleng soda, kemudian mengambil air dan meletakkannya di hadapan Kia.


“Kamu tidur di ranjang, aku tidur di sofa!” ucap Kenneth.


Sekonyong-konyong, Kia menoleh. Menatap lelaki yang tengah membungkuk meletakkan air. Sepasang mata itu jatuh, memandang wajah dengan hidung yang mancung, kulit putih bersih nan mulus seperti buah persik. Waktu seolah berhenti, Kia seperti punya banyak waktu memandanginya.


Sampai pada akhirnya, Kenneth menoleh, dan pandangan mereka bertemu. Seketika Kia jadi terbatuk karena kaget. Kenneth dengan santai menepuk tengkuknya sambil mencela, “Kamu ini bo-doh ya? Makan gini aja sampe tersedak!”


Kia menepis tangannya dan mulai mengomel, “Salah kamu! Kenapa datang tiba-tiba begitu?”


Kenneth berdiri dengan tegak, melipat tangannya, lalu berbicara dengan santai, “Oh, kamu kaget gara-gara cowok setamvan aku ini liat kamu?” Satu alisnya terangkat, sedang dua sudut bibirnya menyimpul membentuk seulas senyum puas.


“Hemgh! Muka tebal! Kamu PD banget.” Kia membuang muka, tak mau memperlihatkan wajahnya yang tersipu malu, juga tak mau mengakui kebenarannya.

__ADS_1


Kenneth tertawa singkat. Dengan cepat ia duduk di sebelah Kia. Tangannya meraih dagu, dan membuat wajah Kia menoleh. Gerakannya cukup cepat dan terampil, sampai tidak sadar, dua bibir itu sudah saling bertemu menyampaikan pesan.



Kia Pov


Manis, manis sekali. Apa karena dia baru saja menengguk soda?


Bibir luarnya dingin, tapi yang dalam begitu hangat. Perpaduan yang cukup menggoda.


Kia? Kamu telah jatuh cinta, kah?


Dekapannya semakin dalam, begitu dalam sampai menjadi semakin sesak. Belum lagi panas dari dalam yang tiba-tiba keluar.


Ah .... aku hampir kehabisan napas, jika di teruskan, aku bisa jadi lebih gila.


Baru sebentar mengeluh, dia melepaskan panggutannya. Napasnya terasa begitu hangat, sedikit terengah-engah menembus kulit leher.


Aku mengangsurkan tangan, menutup matanya dan bilang, “Jangan menatapku!”


Dia justru menarik sudut-sudut bibirnya ke atas, kemudian mendaratkan bibir ke leher. Menyesapnya begitu dalam, membuat beberapa ruam merah.

__ADS_1


Tangan itu mulai lincah, masuk dari bawah dengan menyingkap kemeja. Aku dapat merasakannya, tangan yang hangat, menjalar di sekitar. Merayap dengan lembut, membelai ke segala arah.


Entah sejak kapan, dua kancing lemejaku terbuka, dan satu lengannya sudah melorot. Bibirnya kembali menjelajah, mencium, menghisap setiap inci. Dari leher, sekarang sudah menjadi turun. Meski matanya ku tutup, dia cukup handal mengikuti insting lelakinya.


Tangan itu tiba-tiba sudah sampai, ke bagian yang sedikit berbahaya. Seketika langsung menghentikan tangan nakal itu. “Jangan!”


Dia mendongak, menatapku tanpa ekspresi. “Aku akan tanggung jawab!”


“A-aku belum siap ke ....”


Tanpa menyelesaikan ucapanku. Dia langsung membungkam mulutku dengan bibirnya. Membuat tubuh semakin panas, cukup panas hingga aku ingin mengeluarkannya.


“Kia, Kia ... Aku menginginkanmu!”



Bang Kenn, yang ono diurus dulu. Malah mo nyebar kecebong lagi 🙈


Dah lah, othor mo nyari wangsit.


Jangan lupa ritual wajibnya, juga sajen 😘😘

__ADS_1


__ADS_2