
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
“Kenapa aku ganti ruangan?” tanya Kia heran saat suster mengantarnya ke ruang VVIP.
“Ruangan Anda sebelumnya mengalami masalah di penghangat ruangan. Jadi kami memindahkan ke ruangan lain.” Suster membantu Kia turun dari kursi roda.
“Ini kamar mewah, aku gak mau! Pindak ke ruang lain aja!”
Suster sedikit kuwalahan mencari alasan agar Kia mau menempati kamar itu. Sampai pada akhirnya, “Nona, ruangan kami penuh, hanya ini yang tersisa. Kami sudah koordinasi, Anda hanya perlu membayar sesuai dengan kelas sebelumnya!”
Penjelasan itu membuat Kia sedikit lega. Ia akhirnya mau untuk tinggal di kamar bekas Kenneth selama sehari. Suster sangat lega saat Kia setuju. Ia bahkan tersenyum lebar saat keluar dari ruangan.
Kia melihat ponselnya, dan membalas pesan dari Bibi Yu. Usai membalas, dua matanya justru fokus pada satu nomer asing yang tertera di sana. Ia membuka pesan itu, membaca dengan seksama apa yang tertulis di sana.
\~ Aku pulang dulu, Miss. Istirahatlah dengan baik, dan jangan rindukan aku. Karna kata Dilan, rindu itu berat.\~
Kia menelan salivanya kasar saat membaca pesan itu. Nomer baru yang tidak menyebutkan nama, tapi Kia tau jelas siapa yang mengiriminya pesan itu.
“Cowok ini, dia terlalu PD gak sih?” Kia berdecak kasar, kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. “Aku masih ada kelas besok, tapi sekarang justru terbaring di ranjang pasien!”
__ADS_1
Langit sudah mendung saat Kia keluar dari apartemennya. Ini sudah seminggu berlalu sejak ia keluar dari rumah sakit.
Kia melajukan mobilnya, menembus hujan gerimis yang sejak pagi sudah membasahi jalanan kota. Rutinitasnya masig berjalan seperti biasa, mengajar, lalu pergi ke bar saat bosan. Namun, ada hal yang sepertinya mengganjal hatinya.
Sudah seminggu sejak Kia membalas pesan dari Kenneth. Namun belum juga mendapat balasan dari pria itu. Bahkan dia juga absen selama seminggu ini.
“Bos, beri aku segelas coctail yang enak!” ucap Kia yang sedang duduk di kursi depan bartender. Bartender segera meracik minuman untuk Kia dengan lihat. Kia melihat bartender itu begitu lihat memainkan gelas juga botol. Namun tiba-tiba, wajah bartender itu berubah. Menjadi seorang lelaki yang ia kenal dengan jelas.
“Silakan, Nona!” Bartender itu meletakkan gelas di depan Kia yang sedang melamun.
Seketika lamunan Kia buyar begitu saja. “Belum minum udah mabuk, sial!” batin Kia saat mengambil gelas coctail yang ada di meja.
Dari arah belakang, datang seorang lelaki yang menepuk pundak Kia. Membuat wanita dengan mini dress itu menoleh. “Jeef!” ucap Kia melihat lelaki itu.
“Nolongin kucing liar kejebur ke laut!” Kia menyecap coctail miliknya. Menikmati rasa getir, pahit, juga sensansi rasa asam dan manis. Mereka membaur dengan baik dan lumer di mulutnya.
Lelaki itu tertawa, kemudian mengambil tempat duduk disebelah Kia. “Bos, satu gelas Vodca sedikit es!” ucap Jef berbicara pada bartender yang berdiri di depannya.
“Lalu, gimana nasip kucing itu?” tanya Jef dirundung rasa penasaran.
__ADS_1
“Ajakin tidur!” Kia menoleh, memandang tajam. “Bawa ke rumah sakit, lah. Menurutmu apa lagi?”
Jef tertawa geli mendengar celotehan teman lamanya itu. “Gimana kabarmu sekarang?” tanyanya basa-basi.
“Cukup baik. Gimana bisnismu itu?”
Jefrans mengangguk sambil meneguk segelas vodca yang baru disodorkan bartender. “Awalnya gak berjalan baik, tapi sekarang lumayan.”
“Hmmm ....” Kia menelisik tubuh Jef. Mulai dari baju, sampai ke sepatu. “Sepertinya cukup berjalan dengan baik!” Decak Kia usai melihat pakaian juga jam yang di pakai Jef.
“Jenni pasti udah besar dan tumbuh dengan cantik.” Lelaki itu menoleh, menatap Leah dengan penuh arti. Kia juga menoleh usai mendengar ucapan Jefrans. Ia tersenyum sesaat, kemudian meneguk habis coctail yang ada di gelasnya.
“Kia, tawaranku dua tahun lalu, masih berlaku sampai sekarang.”
Ucapan Jefrans membuat Kia tersedak. Lelaki tinggi dan tampan itu langsung turun dan menepuk tengkuk Kia. “Dasar bocah!”
Kia ditawarin apa tuh? Jan jan nikah lagi 🤭
__ADS_1
Bang Ken, calon binimu digoda lakik, nih!!!!
Tunggin bab selanjutnya. Jangan lupa sajen dan ritualnya 😘