Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 77


__ADS_3

Setelah membiarkan Kia menanggis sedikit lebih lama. Ken menyuruhnya untuk tidur dan istirahat lebih dulu. Wanita itu sudah mengalami hal berat hari ini, jadi dia harus segera beristirahat, begitu pikir Ken.


Kia menurut tanpa protes. Dengan segera keluar dari kolam air panas dan membilas tubuh sebelum ganti baju. Merebahkan tubuhnya di samping Jenny, dan tak lama kemudian, matanya telah tertutup sepenuhnya, kesadarannya berbaur dengan mimpi dengan cepat.


Rasa lelah yang sudah mencapai puncak. Bahkan pertahanannya goyah begitu saja saat bertemu dengan ranjang empuk.


Sudut bibir Kenneth meninggi saat melihat Kia dan Jenny tidur dengan nyenyak. Ia melangkah mendekat dengan hati-hati. Memperhatikan wajah Kia dengan lebih dekat.


Mata yang tertutup, bibir kecil dan tebal yang mengatup rapat. Kenneth memperhatikan wajah Kia dengan seksama. Tiba-tiba, ia melihat dahi wanita itu berkerut, wajah yang semula tenang berubah menjadi gusar. Kennet sedikit panik, takut jika Kia bermimpi buruk. Ia meraih tangan Kia, menggengamnya erat.


“Jangan takut, aku di sini.”


Nada yang lirih namun begitu lembut. Memudarkan kerut-kerut di dahi Kia. Rasa gusar yang tadi terlihat jelas, kini telah menghilang.


“Aku akan selalu bersamamu. Jangan takut tentang apa pun.” Kenneth mengecup tangan Kia.

__ADS_1


Genggaman tangan Kenneth masih tetap erat sepanjang malam. Bahkan, sampai mentari menyingsing sedikit dari peradapan, tangan itu masih terus mengenggam tangan Kia.


Bulu mata lebat nan lentik bergerak perlahan. Beberapa kali mengerjap, berusaha menangkap objek yang ada di depannya dengan sempurna.


Seorang lelaki duduk bersandar pada sofa. Matanya terpejam, satu tangannya menggengam tangan Kia. Meski tak seerat sebelumnya, tetapi tangan itu masih bertahan di posisi semula.


Kia yang sudah sadar dari alam mimpi langsung terjengkal dan menarik tangannya karena kaget. Gerakan yang cepat membuat Kenneth terbangun.


“Kamu ngapain?” tanya Kia dengan nada sedikit meninggi.


Pikiran Kia dipenuhi adegan-adegan 21 plus plus. Tentang Kenneth yang memandanginya sepanjang malam dengan penuh napsu. Pikiran negatif yang merajalela, membuat Kia secepat mungkin menyilangkan tangannya di dada.


Kenneth yang sudah berdiri dan meregangkan otot, hanya melirik serta memandangi Kia. Wanita itu terlihat lucu dan konyol di matanya. Alih-alih menjelaskan, ia lebih suka menggoda Kia. Mencondongkan tubuhnya ke depan, memojokkan Kia yang duduk di ranjang. Dua tangannya mengunci Kia ke tembok yang ada di atas ranjang. Dengan senyum licik dan tatapan yang tajam, membuat Kia tak berkutik.


“Ka-kamu mau apa?”

__ADS_1


Bibir Kenneth mendekat ke telinga Kia dan berbisik, “Mau makan kamu.”


Napas hangatnya menjalar masuk ke telinga, sebagian lagi merambat ke tengkuk. Membuat wajah Kia seketika merah padam. Tepat saat itu, pikiran telah melayang jauh ke tempat lain. Mata yang fokus menatap wajah tampan itu, bibir yang tak mampu berucap.


Dia seperti penyihir. Dalam sekejap membuatku diam membisu seperti manusia bodoh dan idiot.


“Mommy, Uncel ....”


Dua orang yang tadi saling beradu pandang, dengan kompak menoleh memandangi Jenny. Gadis kecil yang bangun sambil mengucek mata di saat yang tidak tepat.


Kia seolah mendapat bantuan dari langit. Sedangkan Kenneth, seperti menelan pil pahit yang super besar.


“Dikacaukan anak sendiri, rasanya sungguh menyiksa!” batin Kenneth sambil menegakkan tubuhnya dan menghela napas kasar. “Ah, Sial!” Bisiknya kesal.


__ADS_1


Bab selanjutnya meluncur. Jangan lupa sajen dan ritual wajibnya.


__ADS_2