Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 63


__ADS_3


Kenneth Pov


Aku baru saja membuka tutup paper bowl, baru mengambil wonton dan dalam perjalanan masuk ke mulut. Namun di tengah jalan, ada bandit cantik yang menancapkan pisaunya tanpa permisi. Dengan seenak hatinya mengambil hati dan ginjal tanpa belas kasih.


“Kennt, sepertinya, kita perlu mengakhiri hubungan kita!”


Siapa yang mood makan setelah mendengar kalimat sakti seperti itu? Aku langsung meletakkan sendok dan isinya kembali masuk ke sarang. Lalu, menoleh dan menatapnya. Melihat wanita itu memutar bakcang di tangan.


“A-apa yang kamu bilang?” tanyaku.


Dia masih belum menatapku. Entah kenapa, harga diriku saat ini jadi seperti kain lusuh. Dia lebih tertarik menatap bakcang tanpa dosa itu dari pada menatapku dengan ketampanan yang pari purna ini.


“Dengar, apa pun alasannya, kita masih ada dua bulan lagi. Kita gak bisa pu ....”


Kalimatku tertahan saat mendengarnya menghela napas kasar dan menaruh bakcang itu di meja.


“Kamu suka bakcang manis, tapi aku gak suka. Bakcang isi daging lebih enak! Kita gak jodoh, Kennt!”


Dia mengatakannya begitu santai, tanpa ada beban dan tanpa melihat lawan bicaranya. Mendengar itu jelas kerutan di keningku bertambah.


Aku kira alasan dia minta putus karena Rebbeca, atau mungkin hal yang lain. Namun nyatanya, ini cuma soal bakcang manis dan asin.


“Jadi, kamu minta putus cuma karena bakcang?” Dia mengangkat kepala dan memandangku.


“Iya. Bakcang asin isi daging lebih enak!”


Wanita ini bener-bener gak bisa buat aku berpikir tenang tentang segala hal. Dia butuh hukuman agar mengingat terus tindakan yang keterlaluan ini.


Sekonyong-koyong aku berpindah posisi. Mendorong dan menindih tubuhnya. Lalu, mulai menikmati setiap inci tubuh dengan kulit putih mulus yang ada di hadapanku.


“Hentikan! Huh ... huh!” Aku dapat merasakan dia memberontak. Namun tenaganya tak sekuat biasanya. Aku mengira, wanita ini hanya pura-pura.


“Berhenti? Aku harus menghukummu dulu!”

__ADS_1


“Kamu selalu melakukannya saat perutku kosong! Kalau aku menikah denganmu, satu minggu saja, berat badanku sudah turun drastis!”


Perkataannya membuatku menghentikan semuanya. Tangan yang hampir mencapai puncak, aku juga menghentikannya. Dari atas, wajah kemerahan wanita ini terlihat cukup cantik dan menggoda. Ia menutup bibir dengan punggung tangan, ekspresi yang seperti ini ... Aku tak tahan lagi.


“Cepat makan kalau begitu! Kita perlu banyak tenaga setelah ini!”


Dia menyipitkan mata, dengan cepat berpindah duduk usai aku beranjak dari tubuhnya.


“Aku belum tau banyak tentang apa yang kamu suka dan apa yang gak kamu suka. Tapi mulai hari ini, aku belajar memahami semua tentang itu.”


Aku membantu membuka tutup bowl, lalu meletakkan sumpit dan sendok di hadapannya.


“Kita masih ada dua bulan sebelum semua berakhir. Jadi, jangan buru-buru bilang gak jodoh!”


Dia tak merespon, hanya menunduk dan mulai menikmati wonton yang masih hangat.


Bajunya yang masih berantakan itu ... Membuatku dapat dengan jelas melihat beberapa stampel merah yang baru kutorehkan di sana.


Buat aku puas. Sangat puas.


Baru selesai menghabiskan satu mangkuk. Tiba-tiba melirik mangkuk yang ada di hadapanku. Lalu, dengan cepat mengambilnya.


“Kamu suka makan bakcang, semua bakcang ini untukmu! Dan wonton ini milikku!”


Cuma bisa tersnyum nyengir di buatnya. Apa lagi yang aku bisa. Dia selalu mengalahkanku dalam segala pertentangan.


Wajahnya begitu bahagia saat makan wonton. Aku bisa menebak, mungkin karena itu enak, atau bisa juga dia suka.


Aku baru menghabiskan satu bakcang, dan dia sudah selesai menghabiskan mangkuk ke duanya. Dengan santai meletakkan mangkuk di meja dan bersandar.


“Aah ... enak!”


Gayanya seperti itu membuatku semakin tak sabar. Langsung saja aku meraih tubuh dan menggendongnya.


“Ma-mau ngapain?”

__ADS_1


“Kamu baru saja menghabiskan sarapanku. Sekarang ganti aku dong yang sarapan!”


Wajahnya kembali memerah saat aku menjatuhkan tubuh kecil di atas kasur. “A-aku baru selesai sarapan. Ki-kita ....”


“Perlu membuatnya turun, begitu kan? Aku mengajakmu olah raga ringan dulu. Setelah turun, baru kita mulai yang sedikit berat.”


Tangan ini sudah tak sabar. Perlahan mulai membuka satu persatu kancing bajunya. Dengan liar mulai mengerayang ke segala penjuru.


Bibir tebal yang begitu menggoda ....


Ah ... aku ingin melahapnya dengan habis.


Ku kira, dia menolakku kali ini. Namun ternyata ....


Dia membuka bibir, mempersilakan lidahku untuk masuk. Menikmati kehangantan abadi yang bahkan lebih hangat dari hitter ruangan.


Setelah puas dengan itu. Aku mulai berpindah. Mengecup leher jenjangnya, turun ke pundak, dan sampailah ke pegunungan dengan puncak yang berwarna peach. Sedang tanganku, ah ... dia rupanya sudah sampai ke padang savana yang begitu panas.


“Eermmm ....” Nadanya tertahan, saat lidahku mulai bermain dengan buah persik merah muda yang menggoda.


“Jangan di tahan, Sayang!”


Dari atas, aku dapat melihatnya. Wajah yang merah padam. Begitu cantik dan mempesona. Ia mengigit bibir bawah. Persis ketika jemariku mulai menyusuri lembah basah yang ditumbuhi pohon bakau.


“Hmm— aahh.”


“Kia, aku ingin mati di atas tubuhmu!”



Panas kenthank-kenthank yee gaes 😂


Kennt balas dendam gegera Kia mau putus cuma gara-gara Bakcang manis 😂


Othor kabur ah, mo bikin nanggung

__ADS_1


😂😂😂😂😂


__ADS_2