Dosen Cantik Milik Presdir

Dosen Cantik Milik Presdir
Bab 25


__ADS_3

...🐾🐾🐾🐾🐾...


Kenneth Pov


Aku terbangun tiba-tiba di bawah cahaya lampu tidur. Dengan tangan kiri yang terpasang infus, dan tangan kananku? Sudah digips dengan baik. Melihat itu, sepertinya hanya retak dan tidak sampai patah.


Pandanganku tertuju pada seseorang, yang tengah meringkuk dengan selimut tebal. Tiba-tiba ingatanku kembali pada beberapa saat yang lalu. Tentang seseorang yang terjun ke laut dan menyelamarkanku. Nyaris saja aku melupakan itu.


Apa dia yang udah nolongin aku?


Aku begitu penasaran, ingin sekali membuka selimut yang membungkus seluruh tubuhnya dan melihat wajahnya. Namun, seseorang datang membuka pintu dan masuk ke dalam.


“Oh, belum mati!”


Suara itu begitu familiar, membuatku seketika menoleh. Benar saja, itu adalah Tania. Sedang berdiri dengan dua tangan yang terlipat. Aku berjalan mendekat, menariknya sedikit menjauh agar tak menganggu orang itu.


“Bagaimana kau tau aku di sini?” tanyaku penasaran.


“Kepalamu kemasukan air sampai jadi bo doh, ya?” Ledeknya. “Seseorang mendaftarkan namamu sebagai pasien!” jelasnya dengan nada ketus.


“Siapa? Yang mendaftarkan namaku?” tanyaku penasaran.


“Orang yang menolongmu! Siapa lagi?” Serunya. Aku memutar mata dengan malas dan menghela napas kasar. “Dia seorang dosen, namanya Sakia!” lanjutnya yang mengerti kode dari gerak tubuhku.


Mendengar nama itu membuatku menoleh. Menatap seorang wanita yang tengah meringkuk dengan selimut tebal. Entah kenapa, aku tidak merasa lega, justru menjadi cemas saar mengetahui itu.

__ADS_1


“Urus administrasi di bawah dan beri aku kamar VVIP dengan dua bed.” Aku memijit kening dan berkacak pinggang.


“Aku sudah mengaturnya. Besok pagi kalian akan dipindahkan, juga untuk mereka ....” Perkataan Tania terpotong dengan sengaja.


“Kamu gak perlu turun tangan! Suruh saja Ziko yang membereskan mereka!” Aku melihat Tania mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ia sempat mengeser layar sentuh sebelum akhirnya memberitau tentang beberapa pekerjaan.


“Emm, kamu atur aja itu. Kalau butuh tanda tangan, suruh Ziko juga yang datang memgantar berkas,” jawabku sedikit malas.


“Kamu gak mau dia tau aku, gitukah?” Tania melipat kedua tangannya lagi.


“Itu seperti alasan yang cocok!” Aku memutar tubuhnya, kemudian mendorongnya sedikit agar cepat pergi. “Pulanglah! Aku ingin istirahat!” ucapku ketus.


“Cih!” Aku mendengar dengusnya yang kesal. Ia memutar tubuh dan segera pergi, meninggalkan aku yang mengalihkan pandanganku pada wanita itu.


Perlahan berjalan mendekat, membuka sedikit selimut yang hanya menyisakan mata dan hidung itu. Perlahan selimut yang ada di wajahnya tersingkap. Menyisakan wajah yang memerah dan juga dingin. Sepertinya, air laut membuatnya mengalami hipotermia.


Kok bisa dia?


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Kenneth berjaga sepanjang malam. Ia masih duduk di posisi yang sama hingga sinar mentari perlahan menembus tirai. Ia melihat selimut tebal itu tersingkap. Dua tangan keluar dan mengeliat dengan manja.


Kia mengerjapkan mata perlahan. Pandangannya jatuh pada tirai tipis yang terbuka sedikit. Membuat cahaya mentari masuk dan jatuh di bawah ranjangnya. Ia menurunkan kakinya di lantai, lalu berjalan perlahan menuju jendela.


“Pakai alas kakimu!”

__ADS_1


Perkataan itu membuat Kia tersentak kaget. Ia menoleh, melihat Kennth duduk di pinggir ranjang dengan kedua tangan yang terlipat.


“Sial!” Seru Kia kaget. “Kenapa kamu ngagetin pagi-pagi, sih!” Omel Kia yang jengkel.


Kenneth turun dari ranjang, ia berjalan dan mengambil alas kaki yang ada di rak sepatu. Dengan santai, lelaki itu berjalan mendekati Kia. Ia berlutut, dan menyodorkan alas kaki itu.


Kia cukup terkejut dengan tindakan Kenneth. Ia terkesiap sesaat, kemudian membuang muka saat Kenneth menatapnya dari bawah.


“Hemm, aku bisa mengambilnya sendiri tadi!” ucap Kia malu.


Kenneth tersenyum, lalu berdiri dan menyimpan tangannya di kedua saku celana. “Gak masalah, aku mau melakukannya!”


Wajah Kia merona merah. Ia membalik tubuhnya, melihat keluar jendela untuk menyembunyikan wanya tersipunya.


“Soal kemarin ....” ucapan Kenneth terpotong.


“Aku kebetulan lewat, gak tau kalau itu kamu!” jawab Kia mencoba mengelak. Jawaban itu membuat Kenneth terkejut. Dalam hatinya masih ragu tentang jawaban Kia. Ia sangat yakin, jika itu bukan hanya kebetulan belaka.


Kenneth berjalan mendekat, kemudian memutar badan Kia. “Oh, ya?” Tatapan mereka berdua bertemu. Kia dapat melihat dengan jelas, lelaki di hadapannya ini tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan.



Si Kia nih malu malu doyan 🙈😂


Gaya doang bilang kebetulan, jadi pengen jitak palanya deh 🤭😂

__ADS_1


Udah diingetin bang Kennt, jangan lupa Likenya 🙈🙈


__ADS_2