
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Kia Pov
Terlalu mabuk sampai jadi gila, kah?
Pagi-pagi sudah dikejutkan kehadiran orang asing yang tidur di sofa. Hampir saja mati kutu karena kehadiran Bibi Yu yang tiba-tiba. Tunggu! Itu bukan tiba-tiba, Bibi Yu memang datang jam delapan. Hanya aku saja yang terlalu takut tertangkap basah dengan seorang lelaki.
“Agh kepalaku masih pusing,” keluhku yang masih memijat kening.
Seberapa banyak aku minum semalam?
Sial! Hanya karena masalah dengan orang-orang itu, bisa-bisanya aku minum dengan brutal?
Langit di luar sangat cerah, cerah sampai awan pun tak menunjukkan dirinya. Entah kenapa, hari ini jadi seperti vampir yang takut dengan sinar matahari.
Oh ayolah! Ada apa denganmu Sakia Shen?!
Keluar rumah untuk beli sarapan saja harus memakai kaca mata hitam, dan juga jaket tebal di musim panas. Aku gak lagi salah tingkah kan?
“Baozi satu porsi dan sup daging satu. Tolong jangan pakai daun seledri,” ucapku kepada seorang penjual kaki lima yang berada di depan Apartemen.
Semalam sebenarnya ngapain? Aku dan dia ngak mungkin nganu kan?
“Pesanan Anda, Nona.”
Suara yang berasal dari penjual, seketika membuyarkan hamparan kenangan yang terngiang di kepala.
“Terima kasih, Pak.”
Aku segera mengambil kantong putih yang ia sodorkan, membayar tagihan dan segera kembali ke apartemen. Terhitung sejak aku keluar, sepertinya sudah hampir satu jam berlalu.
__ADS_1
Hah sial! Gara-gara menghindarinya, aku harus memutar jalan untuk menggukur waktu. Jika dia belum juga keluar, akan ku pastikan mencincang habis miliknya itu.
Jika dipikir-pikir dan dirasa, semalam tidak mungkin sampai sejauh itu. Badanku sama sekali tidak merasa sakit atau nyeri. Hanya pusing seperti orang hangover biasanya.
Hela napasku cukup panjang sebelum membuka pintu. Keinginanku saat itu hanya rumah kosong tanpa siapa pun, yang artinya, lelaki itu sudah pergi.
Keadaan di dalam sama seperti biasanya, selimut yang dia pakai tadi juga sudah terlipat rapi. Hanya saja, ada secarik kertas sengaja ditinggal di atas meja.
Bajuku dan sepatuku belum kering. Tolong bawakan ke kampus besok.
“Kenneth Lee!” seruku begitu kesal. Sangat kesal sampai meremas kuat kertas kecil itu dengan kuat.
Setelah dipikir, ada bagusnya kehadiran dia kemarin. Mungkin jika itu orang lain, sudah pasti akan kejadian seperti tahun itu.
Tidak-tidak! Jangan sampai itu terjadi.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
“Oh, mangsa baru?” tanya Tania ketus usai Kenneth membuka pintu.
“Kenapa? Kamu cemburu?”
Tania tak merespon, bola matanya berputar menelisik ruang tamu yang langsung terhubung dengan dapur. Baru saja melangkah masuk, dua mata itu langsung tertuju pada mainan yang tertata rapi di sudut.
“Kamu mengencani istri orang?” Sunggut Tania.
Kenneth yang berjalan ke kamar mandi langsung menoleh. “Istri orang juga gak masalah asal dia mau!” godanya lagi. Lelaki itu sangat suka menggoda assistennya, terlebih lagi jika Tania berpendapat tentang teman kencan Kennt.
Baru sebentar ia merasa senang karena berhasil menggoda Kia. Tiba-tiba emosinya tersulut lagi, saat melihat sepatu kesayangan seharga enam ribu dollar berada di kamar mandi dalam kondisi basah.
__ADS_1
Keningnya berkerut, dengan wajah merah menahan amarah yang sudah berada di ujung ubun-ubun. “Sia-lan kau!” Kennt mengepal tangannya kuat. “Lihat bagaimana aku memberimu pelajaran nanti!”
Ia menggambil sepatu yang berada di dalam wastefell, dan mengambil yang lainnya di lantai. Melihat sepatunya basah membuatnya semakin geram. “Sakia Shen, aku akan mengingat namamu dengan baik, sangat baik!” gumam Kennt meremas sepatunya.
“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Tania saat melihat bos yang juga teman baiknya itu keluar kamar mandi.
“Tidak ada! Ayo kembali ke kantor!” jawabnya dengan kening yang semakin berkerut dan memerah.
Ia mengambil selembar memo, menuliskan benerapa kata disana, kemudian meletakkannya di atas meja. Dua orang itu segera pergi, meninggalkan apartemen Kia yang sudah dirapikan oleh Tania.
“Rasanya aku ingin merobohkan gedung ini! Si-al! Hegh!” gerutu Kennt dalam hati saat berjalan di lorong.
“Kau tau siapa pemilik gedung ini?” Kennt menoleh, melihat Tania yang sedang menjelajah dunia maya.
“Ngak! Kamu ingin membelinya? Ini murah kok!” Dua mata itu masih fokus membaca berita di Weibo.
“Beli! Kemudian hancurkan ....”
Perkataan itu membuat Tania menghentikan jemarinya dan menoleh melihat Kennt.
“Hah?!” seru Tania heran.
Bukan tidak mendengar dengan baik, hanya saja, ia terlalu heran sampai tidak bisa berkata. Sikap Kennt yang seperti ini memang sudah wajar bagi Tania. Hanya saja, kali ini berbeda.
Kenneth memijat keningnya sembari menaiki lift. “Sudalah, lupakan!” ucapnya santai kemudian menghela napas panjang.
Sekali lagi ia melihat wajah bosnya, mendapati ekspresi Kennt yang suram, membuat Tania terpikirkan sesuatu. “Oh, jadi ceritanya di campakan?” batin Tania dengan senyum menyerigai terukir di wajahnya.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
Jangan lupa likenya 🙈
__ADS_1
Duh, othor gk bisa berkata apa-apa.
Minta suportnya aja lah ☺️☺️