
Cahaya pagi menyapa pucuk bumi bagian timur. Sebagian cahayanya menembus tirai tipis dan jatuh ke atas lantai. Semerbak harum masakan, tiba-tiba terendus oleh Kia yang masih terlelap, dan membuatnya seketika mengerjapkan mata.
Kia terlihat memutar pergelangan tangan kanan yang terasa ngilu. Mungkin karena terlalu lama mengocok senjata kebangaan sang suami tadi malam.
Kenneth sialan!
Berapa lama semalam? Hampir satu jam!
Dalam hati masih sibuk mengumpat suaminya yang terlalu perkasa, sampai tidak sadar, jam dinding menunjukkan pukul 9 pagi. Menyadari dirinya yang hampir terlambat, Kia buru-buru menyingkap selimut dan melompat dari tempat tidur.
Berharap bisa segera ke kamar mandi dan bersiap. Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Dia tidak sengaja menginjak selimut yang ada di lantai, dan membuatnya jatuh.
BUGH
Kenneth buru-buru masuk ke kamar, saat mendengar teriakan Kia dari dalam. Melihat istrinya duduk sambil merintih memegangi kaki, mulut Kenneth tidak sabar untuk mengoloknya.
"Sudah besar, sudah jadi ibu, masih aja ceroboh!" omelnya memarahi Kia sambil menggotong tubuhnya naik ke atas ranjang.
"Kamu gak bangunin aku, kan jadi telat!"
"Memangnya mau kemana hari minggu gini?" tanyanya sambil melihat pergelangan kaki istrinya yang tidak terlihat bengkak atau cedera.
Mata Kia sontak membulat usai mendengar ucapan Kenneth. Lembur sampai larut malam, rupanya dapat membuat otak auto blank. Begitu juga yang di alami Kia.
"Apa? Hari minggu?"
Kenneth memijat pergelangan kaki Kia, membuat wanita yang duduk bersandar, seketika menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Aahh, Kent! Sakit!" teriak Kia langsung menarik kakinya.
"Lagian, siapa yang buat aku lembur sampai tengah malam? Sampai lupa kalau ini hari minggu!" Kia kembali memutar lengan tangannya, seolah ingin memberitahu sang suami, seberapa lelahnya dia semalam.
"Bisa jalan nggak? Atau mau ke rumah sakit?"
Hela napas Kia terdengar jelas, sebelum akhirnya dia berdiri dari tempat tidurnya.
"Cuma terkilir, ngapain ke rumah sakit segala?"
Kia berjalan dengan kaki yang sedikit pincang, meninggalkan Kenneth begitu saja.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Selesai membersihkan diri, Kia lanjut bergabung dengan Kenneth dan Jenny di meja makan. Menikmati beberapa masakan dari sang suami yang sudah bersusah payah.
"Aku masih harus menyelesaikan jurnal. Jadi, hari ini dirumah aja."
"Bagus. Di kantor masih ada urusan, setelah selesai, kita pergi ke taman bermain ya?" Ajakan Kenneth membuat Kia meletakkan sumpit dan memandang pria yang duduk di hadapannya.
"Hari minggu, masih harus kerja ya?"
"Dua bulan di Inggris, pekerjaan disini jadi numpuk. Besok senin juga harus balik ke kampus."
"Masih mau lanjut? Aku pikir …."
Kenneth memandang Kia. Baru pertama kali, Kia memandang mata Kenneth yang begitu tenang, seolah tanpa beban.
__ADS_1
"Ini pertama kali aku bisa memilih tempat belajarku sendiri. Paling nggak, harus sampai lulus dong." Kenneth tersenyum, lalu melanjutkan sarapan paginya.
Lelaki berstatus suami itu pergi usai menikmati sarapan paginya. Menyelesaikan pekerjaan yang 2 bulan telah ditinggalkan, berharap setelah itu ia bisa menikmati waktu bersama Kia dan Jenny.
Matahari semakin lama semakin condong ke ufuk barat. Bersama dengan angin sepoi-sepoi di penghujung musim semi.
💌 Aku dalam perjalanan pulang, Sayang. Segera bersiap ya.
Begitulah pesan tertulis yang baru saja dibaca Kia, dan membuatnya tersenyum senang, sampai tidak peduli akan kakinya yang masih nyeri. Dia buru-buru mengajak Jenny mandi, lalu mendandani gadis kecil itu.
Sampai, beberapa ketukan pintu membuat Kia menoleh memandangi daun pintu.
Sudah datang? Kenapa ngak langsung masuk?
Tidak ada orang lain yang dia pikirkan kecuali Kenneth, pada saat itu. Sehingga, Kia membuka pintu tanpa melihatnya dari door viewer.
"Kenapa gak langsung …." Perkataan Kia terhenti begitu saja, saat melihat dua orang pria asing berdiri di hadapannya.
"Nona Shen?" ucap salah seorang dari mereka.
"Iya. Kalian siapa?"
...||...
...||...
Tbc
__ADS_1