
Elisya mulai berjalan ke tepi pantai, sedangkan Lisa izin pergi kekamar lebih dulu karena merasa sedikit pusing.
Elisya duduk ditepi pantai menikmati indahnya alam dan hembusan angin malam.
Tiba-tiba Elisya merasa ada yang menutupi tubuhnya dengan jaket.
"Kenapa duduk disini Sya, nanti masuk angin, udaranya dingin..."sapa Sam lalu duduk disamping Elisya.
"Eh kak Sam, makasih ka jaketnya, Elisya cuman mau menikmati pemandangan malam aja ka..."Elisya tersenyum. Senyum yang begitu manis bagi siapapun yang melihatnya.
"Lihat Sya bintang disana cantik banget..."ucap Sam seraya menunjuk ke langit.
Elisya langsung menatapnya
"Elisya suka liat bintang kelap-kelip gitu kak, indah..."
"Seindah kamu Sya..."goda Sam.
Elisya terlihat salah tingkah.
"Apa an sih Kak, orang biasa aja ko..."
Sam mengacak rambut Elisya gemas.
"Kaka itu jujur Sya, kamu itu cantik banget, bintang itu aja kalah sama kamu..."goda Sam lagi.
"Kaka bisa aja..."jawab Elisya.
Interaksi kedua orang ini tidak lepas dari tatapan Angel, Angel terlihat sangat tidak suka melihat kedekatan Sam dan Elisya.
Karin datang menepuk bahu Angel
"Kenapa masih diluar Ngel, masuk yuk..."ajak Karin.
"Tuh liat berani-berani nya tuh anak masih dekatin Sam, gue akan kasih pelajaran sama tuh anak liat aja nanti..."ucap Angel tersenyum sinis.
"Udah lah Ngel, kita pikirin nanti, sekarang kita istirahat dulu aja..."ajak Karin lagi.
Lalu Angel mengikuti ajakan Karin.
"Sya kaka tinggal sebentar ya, mau cek keamanan siswa siswi kita..."pamit Sam.
"Iya kak ngga papa ko, habis ini Elisya langsung tidur, kak Sam duluan aja..."jawab Elisya.
Sam pun mulai berlalu meninggalkan Elisya yang masih setia menatap sang bintang yang ditemani oleh rembulan.
Mata Elisya menyapu sekeliling sisi pantai, pandangannya terhenti pada sosok Vano yang tengah berkutik dengan gitarnya sambil menyanyikan sebuah lagu.
Denganmu semua air mata
Menjadi tawa suka ria
Akankah kau selalu ada
Menemani dalam suka duka
(Seperti lirik Lagu Naif-Karena kamu cuma satu)
Tanpa sadar senyuman terbit dibibir Elisya.
"Beruntung wanita yang kelak akan menjadi alasan kak Vano ketawa lagi, kasian kak Vano trauma karena kematian kakaknya..."gumam Elisya prihatin.
Mata Elisya tak henti-hentinya menatap Vano yang sedang bernyanyi. Ia seolah hanyut dalam lagu yang dinyanyikan Vano.
Setelah Vano selesai menyanyikan lagu itu, Vano mulai beranjak menuju kamarnya.
Elisya dengan cepat tersadar dari lamunannya, angin malam sudah semakin dingin.
Akhirnya Elisya memutuskan untuk kembali kekamarnya menyusul Lisa.
Ceklek Elisya membuka pintu kamarnya.
"Lis gimana keadaan lo..."
__ADS_1
"Udah lumayan kok, tenang aja kali Sya..."ucap Lisa.
"Syukur deh kalau gitu..."Elisya merasa lega.
"Lo tadi kemana aja..."tanya Lisa.
"Gue cuman nyari angin aja sama kak Sam..."ucap Elisya jujur.
"Cie cie ada yang lagi PDKT nih kayanya..."ejek Lisa.
Elisya menepuk tangan Lisa pelan
"Apaan sih Lis, orang kita cuman temenan aja..."tegas Elisya.
"Ya siapa tau aja lama-lama jadi demen..."sambung Lisa sambil tertawa.
"Ngga lah, kamu nih mikirnya kejauhan, oh ya tadi aku liat kak Vano main gitar..."Elisya memulai topik.
"Kak Vano itu emang jago main gitar, dia anak band sekolah juga Sya, suaranya juga bagus, aku suka banget sama kak Vano..."jelas Lisa dengan wajah sangat sumbringah. Terlihat sekali ia begitu mengagumi sosok Vano.
Elisya menyadari jika temannya ini mengagumi Vano
"Iya udah gak usah senyum-senyum terus, kita tidur aja yuk, gue ngantuk nih..."
"Yuk..."jawab Lisa singkat lalu mereka mulai menyelam kedalam dunia mimpi.
_____
Matahari sudah menyinari dunia pagi ini, disambut dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata.
Elisya terlihat sudah mulai membuka matanya. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya ia bisa tidur dengan pulas.
Elisya mulai menuruni ranjang dan bersiap untuk mandi, berbeda hal nya dengan Lisa yang masih setia dalam tidurnya.
Saat Elisya selesai mandi, ia memakai pakaian yang cukup sederhana dengan jaket berwarna hitam tapi tetap kelihatan sangat cantik dengan sedikit polesan make up.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Elisya bergegas membukakan pintunya.
"Morning Sya..."sapa Sam tersenyum cerah.
"Kamu cantik banget Sya, oh iya yuk makan kamu pasti laper kan..."ajak Sam.
Elisya tersipu malu.
"Tapi Lisa belum bangun kak, masa ditinggalin..."
"Kamu pamit dulu sama dia, ntar suruh dia nyusul..."saran Sam.
Elisya pun mulai berjalan mendekati Lisa.
"Lis bangun, udah pagi nih..."Elisya menggoyang-goyang kan tubuh Lisa.
"Apa sih Sya, gue ngantuk..."jawab Lisa asal.
"Gue mau makan duluan sama kak Sam, nanti lo nyusul ya, mandi dulu sana..."pesan Elisya.
"Okedeh Sya, duluan aja..."jawab Lisa.
Elisya pun meninggalkan kamar menuju tempat makan.
Saat keluar kamar sang angin seakan menyambut Elisya dan Sam, angin pantai di pagi hari menambah keindahan sang Raja Ampat. Meniup dedaunan, sangat indah.
Tanpa sadar rambut Elisya hampir menutupi wajahnya karena angin bertiup cukup kencang.
Elisya merapikan rambut yang menutupi wajahnya.
Semua itu tak lepas dari pandangan Sam, ia terlihat hampir tak berkedip memperhatikan Elisya.
"Sangat cantik..."gumam Sam tapi tak ia ucapkan.
Elisya lalu menatap kearah Sam, Sam sontak salah tingkah dan kelihatan gugup.
__ADS_1
"Kita kemana kak?..."tanya Elisya.
"Emm ka- kamu ikut kaka aja..."ucap Sam terbata-bata.
Elisya pun hanya tersenyum dan mengangguk.
Mereka berdua terus berjalan hingga sampai disebuah tempat makan.
Sam dan Elisya langsung menikmati makanannya. Dari kejauhan sudah terlihat Lisa berjalan menghampiri mereka.
Setelah sampai Lisa langsung bergabung dan memesan makanan, mereka bertiga pun makan bersama.
Disisi lain Vano sedang berjalan menuju tempat makan yang sama, beringingan dengan Angel dan kedua temannya.
Sesampainya ditempat makan yang sama dengan Elisya.
Vano dengan cepat mempersilahkan Angel dan teman-temannya duduk, ia terlihat sibuk memesan makanan untuk Angel.
Elisya memperhatikan itu dari jarak yang cukup jauh.
"Kayanya ka Vano bener-bener cinta banget sama ka Angel..."gumam Elisya.
"Woy ngapain bengong..."Sam membuyarkan lamunan Elisya.
Elisya sontak terkejut.
"Apaan sih kak ngagetin aja tau..."Elisya sedikit cemberut.
Sam merasa sangat gemas lalu mencubit pipi Elisya.
"Kamu ini comel banget sih Sya..."
"Au sakit kak..."kesal Elisya.
"Ia maaf cantik, udah selesai belum makannya, habis ini kita boleh foto-foto sambil menikmati pemandangan..."ajak Sam.
Belum sempat Ia Elisya menjawab. Lisa sudah berdehem
"Kayanya gue jadi baygon nih..."ucapnya.
Elisya dan Sam langsung tertawa terbahak-bahak
"Kasian banget sih lo Lis..."ejek Elisya.
Lisa cemberut
"Ketawain aja terus, gue udah selesai nih, kalian lanjutin aja, gue duluan yah, mau cari cowo ganteng..."ucap Lisa lalu sedikit berlari-lari kecil meninggalkan Elisya dan Sam.
"Aku udah selesai makan kak..."Elisya memulai pembicaraan.
"Yuk kaka antar kekamar kamu..."ajak Sam lalu menarik tangan Elisya untuk berdiri.
Elisya langsung berdiri
"Gak jadi jalan-jalan kak..."tanya Elisya.
"Harinya panas Sya, kamu gak takut panas-panasan apah..."ucap Sam.
"Lah ngapain takut sih kak, kan sinar matahari di pagi hari itu menyehatkan..."tutur Elisya.
"Kamu emang beda Sya, ngga kaya cewe lain yang takut banget kena panas, takut kulitnya hitam lah apa lah..."cerocos Sam.
Elisya terkekeh
"Ngapain takut hitam sih kak, kalau cowo emang benar-benar sayang sama kita gak peduli apapun warna kulit kita kak..."
Sam tersenyum kagum
"Tapi tetap jalan-jalannya sore aja ya Sya, sekarang kamu istirahat dulu, nanti sore bisa sambil berenang..."
"Yaudah deh ka..."Elisya pasrah.
Sam pun mengantar Elisya menuju kamarnya.
__ADS_1