
Arvie baru saja menginjakkan kakinya masuk kerumah. Ia heran melihat Elisya senyum-senyum sendiri sambil menatap telpon.
"Ngapain senyum-senyum?..."tanya Arvie.
"Ka Vano ngajak aku jalan ka, nanti malam..."jawab Elisya antusias.
Arvie menghela nafas kasar,
"Gue ikut..."jawab Arvie singkat.
Elisya mendengus kesal, "Apaan sih ka, Elisya tuh pengen jalan berdua aja sama ka Vano..."kesal Elisya.
"Oke, tapi gue tetap pantau lo dari jauh..."ucap Arvie lalu beranjak meninggalkan Elisya yang menahan kesal.
"Ka Arvie apa-apaan sih..."kesal Elisya.
🕓🕓🕓
Hari sudah gelap, matahari sudah digantikan dengan sang bulan. Elisya sudah cantik dengan make up tipis diwajahnya. Kali ini Elisya mengenakan baju yang cukup terbuka di bagian atas. Bahunya sedikit terekspos keluar tapi masih kelihatan sopan. Senyumannya sedari tadi tak pernah luntur. Ia merasa sangat senang sekali karena Vano mengajaknya berkencan malam ini.
"Perpect..."gumam Elisya sambil terus berputar-putar di depan cermin.
Kaki jenjang Elisya melangkah keluar kamar dengan anggunnya. Saat Elisya sampai diruang tamu, ia dihadiahi pelototan tajam dari sang kakak.
"Ganti baju lo. Gak sopan. Cari yang tertutup bisa kan? Lo mau jalan sama Vano gitu amat sih..."kesal Arvie.
"Apaan sih kak, ini tuh sopan tau nggak. Kaka aja berlebihan..."jawab Elisya malas.
Arvie memijat pangkal hidungnya, "Gue gak suka ada cowo yang ngeliatin lo Sya, gue juga cowo kali Sya. Gue tau gimana lo dimata cowo yang lain..."Arvie berusaha menasehati.
Elisya menghela nafas pelan,"Maaf kak, Malam ini aja ya. Elisya gak ada waktu buat ganti baju lagi. Vano bentar lagi jemput..."ucap Elisya memelas.
Arvie mendengus kesal, mau tak mau ia harus mengizinkan Elisya.
Suara klakson mobil menggema dipekarangan rumah Elisya. Vano sudah memarkirkan mobilnya didepan rumah Elisya.
"Tuh ka Vano, Elisya berangkat dulu ya ka..."pamit Elisya lalu berlari keluar rumah.
__ADS_1
Arvie berlari menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor, ia berniat mengikuti Elisya malam ini. Bukan tak mempercayai Elisya tapi ia mengkhawatirkan keselamatan adiknya itu. Sebelum ia kembali ke Rusia, ia ingin memastikan Elisya aman bersama Vano atau tidak.
Dengan wajah berseri Elisya menghambur pelukan ke arah Vano. Entah kenapa ia sangat merindukan kekasih yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Cantik banget sih pacarnya aku..."puji Vano.
Elisya tersenyum malu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vano. Vano mengusap pelan puncak kepala Elisya kemudian melerai pelukannya.
"Yuk jalan sekarang..."ajak Vano.
Elisya mengangguk dan memasuki mobil Vano.
Belum sempat Vano melajukan mobilnya telponnya berdering beberapa kali.
Vano yang melihat nomor Angel tertera disana dengan cepat mengangkat telponnya.
"Hallo Ngel, kenapa?..."
"_ _ _"
"Eh tante Desi, kenapa malam-malam gini telpon Vano?..."
"_ _ _"
Raut wajah Vano berubah khawatir.
"Sya kayanya kita gak bisa jalan malam ini. Angel masuk rumah sakit Sya. Gue harus kesana. Dia butuh gue..."ucap Vano panik.
Elisya mendesah kecewa,
"Elisya udah siap-siap lo ka pengen jalan sama ka Vano. Masa dibatalin sih. Disana kan ada orang tuanya ka? Kenapa harus ka Vano..."
"Gue sahabatnya Sya, dia butuh gue. Jangan egois dong Sya..."bentak Vano.
"Kamu bentak aku?..."
Vano mengusap wajahnya kasar. Ia tak sengaja membentak Elisya.
__ADS_1
"Sya maafin aku, tapi coba dong kamu ngertiin aku. Angel itu lagi butuh aku Sya. Jangan egois dong..."
Elisya tersenyum getir, "Huft aku egois? Aku juga butuh ka Vano. Ka Vano aja marah aku dekat-dekat sama ka Sam, terus sekarang ka Vano apa?
"Sya Sya ngga gitu..."
"Ngga gitu apanya hah, kalau mau dihargai. Hargai juga orang lain ka! Ka Vano gak mau aku dekat-dekat sama cowo lain. Sama aku juga ka. Aku ga suka kaka dekat-dekat sama cewe lain..."Elisya meluapkan isi hatinya. Perasaannya benar-benar kecewa saat Vano membatalkan janjinya sepihak. Sangat terlihat cowo itu sangat mengkhawatirkan Angel.
"Maaf Sya..."lirih Vano.
"Lain kali gak usah ngajak jalan kalau buat dibatalin secara sepihak..."Elisya yang kesal meraih tasnya lalu keluar dari mobil Vano tanpa menatap kebelakang sedikitpun.
Bilang saja Elisya egois. Tapi wanita mana yang tidak kecewa jika janjinya dibatalkan. Apalagi untuk orang seperti Angel. Wanita yang terobsesi ingin menghancurkan hubungannya. Apa ia harus diam saja? Sedangkan Angel menantangnya secara terang-terangan ingin mengambil Vano darinya. Ia bukannya berprasangka buruk pada Angel, tapi bisa saja kan ini akal-akalan Angel ajar bisa dekat dengan Vano.
Bukannya mengejar Elisya, Vano malah langsung pergi meninggalkan Elisya. Rasa khawatirnya sudah memenuhi dirinya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan sangat tinggi.
Elisya menghela nafas pelan. Melangkahkan kakinya masuk kerumah. Saat membuka pintu Elisya bertemu dengan Arvie kakanya. Arvie yang berniat ingin mengikuti Elisya pun kaget saat melihat sang adik yang kembali masuk kerumah dengan wajah sendu bahkan terlihat hampir menangis. Arvie bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang terjadi pada sang adik kesayangannya ini.
Perasaan Elisya campur aduk, ada rasa kecewa dan takut yang bergabung menjadi satu. Ia hanya butuh pelukan hangat saat ini. Tanpa pikir panjang Elisya menghambur pelukan ke arah Arvie.
"Hiks Elisya kesal kak..."Akhirnya tangisan itupun pesan seketika.
Itulah wanita. Dibentak nangis, ngebentak nangis. Emang sih pada dasarnya hati wanita gak bisa kasar.
Arvie menepuk-nepuk punggung sang adik sambil menuntunnya duduk disofa.
"Jangan nangis dong Sya, gue ga bisa liat lo nangis gini..."
Bukannya berhenti, Elisya malah semakin mempererat pelukannya sambil terus terisak dipelukan Arvie. Ia meluapkan semua kekesalannya.
"Vano bentak Elisya kak, hiks apa Elisya salah cemburu sama ka Vano hiks hiks. Elisya pacarnya kak. Elisya butuh ka Vano..."ucap Elisya ditengah isakannya.
Hati Arvie terasa dicabik-cabik saat melihat sang adik yang selalu ia manja kan menangis tersedu-sedu dipelukannya. Arvie mengelus pelan rambut Elisya.
"Berani banget lo bentak adik gue Van..."gumam Arvie.
"Udah Sya, gak usah nangisin cowo brengsek kaya gitu. Sekarang kan lo udah cantik gini. Berenti ya nangisnya. Ayo jalan sama kaka aja ya..."bujuk Arvie.
__ADS_1
Mata Elisya langsung berbinar-binar mendengar ajakan sang kakak. Ia menghapus air matanya lalu menganggukkan kepalanya.