Elisya

Elisya
Salah paham


__ADS_3

Elisya duduk termenung sambil menatap laut.


Perkataan Sam yang mengatakan bahwa dirinya wanita murahan selalu terngiang-ngiang dikepala Elisya, baru kali ini ada yang mengatakan Elisya seperti itu, dan itu sangat menyakiti hatinya.


Tanpa sadar air mata kini kembali membasahi pipi Elisya.


Ia tak menyangka orang yang selama ini ia pikir baik malah menyakiti hatinya sesakit ini.


Elisya menghapus air matanya kasar, ada sedikit kebencian yang terpancar dari mata Elisya.


Ia pun beranjak berdiri tertatih-tatih menuju kasurnya.


Ia memutuskan untuk tidur kembali karena merasa lelah terlalu banyak menangis.


Lisa dari pagi sampai siang masih belum juga kembali kekamar, Lisa sibuk berjalan-jalan berfoto-foto dan lain-lain. Elisya memang teman waktu kecil Lisa, tapi setelah berpisah dari Amerika-Indonesia, kedekatan mereka sedikit berkurang, tapi Elisya tidak mempermasalahkan hal itu.


____


Dikamar lain Sam tampak mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa dia mengata-ngatai Elisya dengan kata-kata yang begitu kasar, bayangan Elisya menangis masih terbayang-bayang dipikirannya. Bagaimana bisa dia tersulut emosi karena Angel.


"Bodoh, bodoh..."ucap Sam sambil mengacak rambutnya kasar.


"Harusnya gue gak ngomong gitu sama Elisya, bodoh banget gue..."ucap Sam.


"Gue udah janji bakalan jagain dia, tapi gue malah nyakitin dia..."gumam Sam lagi.


Tanpa terasa hari sudah mulai sore, Elisya terbangun dari tidurnya, sedangkan Lisa belum juga kembali kekamar, akhirnya Elisya memutuskan untuk membersihkan dirinya.


Sekitar 15 menit Elisya sudah selesai dengan ritual mandinya, ia mulai mengenakan pakaiannya.


Tiba-tiba perutnya sudah mulai berbunyi, memang Elisya hanya makan tadi pagi saat bersama Vano.


Dengan tertatih-tatih Elisya melangkahkan kakinya menuju tempat makan, baru saja Elisya sampai didepan pintu kamarnya, langkahnya terhenti.


Elisya kaget saat melihat Vano sudah berdiri tepat didepan kamarnya.


"Kak Vano ko disini sih..."tanya Elisya gugup.


"Nih makanan, ayo kita makan bersama..."ucap Vano lalu mengangkat tubuh Elisya dan mendudukkan nya disofa.


"Jangan banyak gerak Sya..."ucap Vano sambil membuka beberapa bungkus makanan dan meletakkan dua botol air mineral.


"Gak usah repot-repot kak, nanti nyusahin kaka..."ucap Elisya sungkan.


"Ngga repot Sya, ayo sekarang makan..."perintah Vano.


Elisya masih saja diam memperhatikan Vano.


"Makan atau kaka suapi..."goda Vano.


Elisya yang mendengar itu langsung salah tingkah


"Elisya bisa sendiri kak..."ucap Elisya dengan cepat mengambil makanannya.


Elisya makan dengan lahap karena memang perutnya sudah sangat lapar, Vano memperhatikan Elisya,


"Cantik..."gumam Vano dalam hati, entah yang keberapa kali mengatakan hal itu.


Tiba-tiba Vano mengusap sudut bibir Elisya


Deg


Tatapan mereka bertemu beberapa saat, bertepatan dengan Sam yang sudah berdiri didepan pintu kamar Elisya.


Awalnya Sam ingin kekamar Elisya untuk meminta maaf atas perkataan nya, tetapi ia malah melihat kedekatan Vano dan Elisya.


Sam kembali tersulut emosi

__ADS_1


"Angel benar, dasar murahan..."gumam Sam lalu meninggalkan kamar Elisya.


Elisya yang tersadar langsung salah tingkah


"Kak Vano kenapa..."tanya Elisya gugup.


"Makannya pelan-pelan Sya, sampai comot tuh..."ucap Vano.


Mereka berdua tidak menyadari kedatangan Sam, mereka hanya melanjutkan makan.


"Elisya udah abis kak..."ucap Elisya.


"Kaka juga..."sahut Vano.


Lalu Vano mengeluarkan beberapa cemilan dari kantong plastik yang ia bawa tadi.


"Nih buat makanan penutup..."ucap Vano lalu membukanya.


Tiba-tiba,


"Aaaa..."ucap Vano sambil menyodorkan cemilan itu kemulut Elisya.


Dengan ragu-ragu Elisya membuka mulutnya, Elisya sedikit syok bagaimana bisa seorang Vano memperlakukan nya sebaik ini.


"Kak kayanya Elisya mau pingsan deh..."ucap Elisya spontan, sontak membuat Vano panik.


"Kenapa Sya, ada yang sakit..."tanya Vano sedikit khawatir.


"Ngga ada sih kak, cuman jantung Elisya nih gak normal kayanya, deg-degan tau nggak kalau deket-deket kak Vano gini..."ucap Elisya dengan jujurnya.


Vano tertawa melihat keluguan Elisya


"Kamu ini..."ucap Vano.


Lalu mereka berdua sibuk memakan cemilan itu bersama-sama diselingi dengan candaan.


Elisya pun ingin berdiri membersihkan bekas makanan mereka tapi Vano dengan cepat menarik tangan Elisya hingga keseimbangan tubuh Elisya hilang.


Brukk...


Elisya terduduk dipaha Vano dan kepalanya mengenai dada kekar Vano.


Elisya yang kaget langsung ingin berpindah posisi karena merasa tak nyaman tapi Vano dengan cepat menahan tubuh Elisya.


"Biar kaka yang membereskan nya Sya, kamu duduk disebelah sini..."ucap Vano sambil menepuk sofa.


Elisya pun menurut saja, setelah selesai Vano berjalan keluar kamar ingin membuang sampah bekas tempat makan mereka tdi.


Saat Vano keluar, Vano terlihat menyapu keringat dinginnya.


"Astaga kalo gini gue bisa mandi air dingin setelah ini..."gumam Vano.


Bagaimana tidak, Elisya terduduk tepat di bagian paha Vano dengan tangan memegang leher Vano, sontak membuat Vano merinding menahan dirinya.


Vano pun masuk lagi takutnya Elisya curiga padanya,


Elisya yang melihat Vano keringatan merasa heran.


Vano duduk kembali di samping Elisya.


Elisya memegang dahi Vano,


"Kaka sakit ya, kok keringatan gini..."tanya Elisya.


"Astaga nih cewe kenapa deket-deket sih, gue harus benar-benar kuat nih, bodo amat kalo habis ini harus mandi air dingin..."gumam Vano dalam hati.


"E-engga Sya, kaka baik-baik aja..."ucap Vano gugup.

__ADS_1


Bagaimanapun juga Vano tetap pria normal, melihat tubuh Elisya yang molek dan terduduk dipahanya, membuat bulu tubuhnya merinding.


"Yaudah deh kalau gitu, makasih ya kak makanannya..."ucap Elisya.


Vano hanya mengangguk saja.


"Ini udah sore Sya, besok kita sudah pulang, mau jalan-jalan dulu..."tawar Vano.


"Elisya jalan aja susah kak, gimana mau jalan-jalan..."jawab Elisya cemberut.


"Yaudah nanti kaka gendong..."tawar Vano.


"Ngga mau ah, Elisya kan berat nanti ka Vano cape lagi..."jawab Elisya sambil memanyunkan bibirnya.


Deg


Vano menatap lekat bibir Elisya, mungil dan terlihat sangat menggoda.


Vano mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Elisya, Elisya merasa bingung kenapa Vano mendekat, apakah Vano ingin menciumnya. Elisya terus bergumam dengan pikirannya. Hingga wajahnya menjadi merah menahan malu.


Semakin dekat, hanya 1 senti lagi. Elisya pun memejamkan matanya.


Tiba-tiba,


"Sya..."panggil Lisa dari luar.


Elisya dan Vano sontak kaget, dengan cepat Vano menyadarkan pikirannya yang sudah tidak bisa ia kendalikan.


"Eh ada kak Vano..."ucap Lisa.


"Ya..."jawab Vano cuek.


"Tumben kaka disini, ngapain ka..."tanya Lisa.


Elisya terlihat gugup, ia takut Lisa marah padanya.


"Tadi gue liat Elisya hampir jatuh, jadi gue tolongin..."ucap Vano bohong.


"Ohh gitu ya, yaudah Lisa mau mandi dulu..."pamit Lisa.


Saat Lisa sudah masuk kekamar mandi Vano langsung menggendong tubuh Elisya.


Elisya tak berontak karena ia tau Vano hanya membawanya jalan-jalan.


Vano terus menggendong Elisya menyusuri pantai, semua siswa siswi nampak berbisik-bisik melihat kedekatan Vano dan Elisya. Tapi mereka berdua tak memperdulikan nya.


Tanpa terasa hari sudah mulai gelap, sang bulan sudah hadir menemani sang malam.


Elisya dan Vano terlihat duduk menikmati bintang-bintang.


Vano nampak menelpon seseorang, Elisya hanya memperhatikan saja.


"Dra anterin gitar gue ke tepi pantai sekarang..."ucap Vano lalu mematikan telponnya tanpa mendengar jawaban Hendra.


Setelah beberapa saat terlihat Hendra dan Aldi datang membawakan sebuah gitar.


"Nih gitarnya, kebiasaan lo ya nyuruh-nyuruh orang..."ketus Hendra.


Lalu pandangan mereka terhenti pada sosok wanita cantik yang duduk disamping Vano.


"Yee Vano katanya gak mau, eh sekarang malah embat duluan..."goda Aldi.


"Diam lo, pergi sana..."usir Vano.


Hendra dan Aldi hanya tertawa saja lalu pergi.


Siswa-siswi lain terlihat sibuk dikamar mereka masing-masing begitu juga dengan Sam yang sibuk mengurus kepulangan besok hanya ada Elisya dan Sam yang menikmati keindahan malam.

__ADS_1


__ADS_2