
Hallo author kembali lagiπ€
Maafin ya kalau update nya lama, karena author juga punya kesibukan tentunya. Jadi harus membagi waktu dengan baik. Terimakasih untuk para readers yang selalu memberi support π₯° Jangan lupa seperti biasanya, like, komen juga. sebanyak-banyaknya pokonya ya!
Jangan bosan ya! tunggu terus kelanjutan ceritanya. See youπ€
πππ
Dengan perasaan risau Dicky mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Sudah 15 menit Elisya belum juga keluar dari kamarnya. Itu membuat Dicky takut jika adik sahabatnya itu kembali melakukan hal nekat. Tak ingin ambil resiko Dicky ingin segera bangkit menyusul Elisya. Namun tanpa disangka Elisya keluar dengan baju tidurnya. Rambutnya masih sedikit basah dan berantakan. Matanya yang sayu dan sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis. Wajahnya pucat pasi namun sama sekali tak mengurangi kesan cantik pada dirinya.
Dicky menghela nafas lega saat melihat Elisya mendengarkan ucapannya.
"Mau makan apa, gue bikinin..."ucap Dicky yang bangkit dari duduknya. Menuntun Elisya ke kursi makan.
Elisya menggeleng seolah memberi tahu jika ia tak ingin makan apapun, selera makannya hilang.
"Katanya pengen Arvie seneng, tapi gak mau makan..."sindir Dicky.
Elisya nampak berpikir sejenak, Keadaan gadis itu sudah lumayan sekarang, meskipun masih jauh dari kata baik-baik saja.
"Elisya pengen makan nasi goreng..."lirihnya sangat pelan.
"Gue bikinin bentar..."ucap Dicky lalu bergegas mengambil bahan-bahan masakan dikulkas. Ia sudah memulai ritual memasaknya. Dicky adalah pria mandiri, jadi jangan ditanya kenapa ia bisa memasak, karena jawabannya ia sudah terbiasa bahkan bisa dibilang lihai dalam hal memasak.
Selama kegiatan memasak, Dicky tanpa sengaja menoleh kebelakang ke arah Elisya. Gadis itu nampak menatap kearah keranjang buah yang ada diatas meja. Dicky berinisiatif mendekati Elisya.
"Mau buah?..."tawar Dicky.
"He em..."jawab Elisya mengangguk dengan polosnya.
"Mau apel..."rengeknya lagi.
Dicky dengan cepat meraih pisau dan mengupas kan buah itu, lalu memotongnya menjadi bagian kecil-kecil. Tak lupa pula ia menaruh garpu dipiring buah itu. Kemudian menyodorkan nya dihadapan Elisya.
"Makan..."perintah Dicky lalu kembali melanjutkan ritual memasaknya.
Elisya perlahan mulai mengunyah buah itu di mulutnya. Sedari kemarin ia belum makan apa-apa karena kehilangan ***** makannya. Sekarang ia baru saja memasukkan buah kedalam mulutnya.
Sudut bibir Dicky sedikit tertarik membentuk sebuah senyuman tipis. Sangat tipis bahkan hampir tak terlihat. Benarkah pria dingin itu tersenyum? Ah itu sangat langka sekali.
Dicky sudah menyelesaikan ritual memasaknya. Aroma lezat makanan sudah memenuhi area dapur itu. Hal itu berhasil menggugah selera Elisya. Matanya menoleh kearah Dicky yang menyajikan nasi goreng untuknya.
"Nih makan yang banyak, biar Arvie seneng..."ucap Dicky menyodorkan piring berisi nasi goreng buatannya.
Dengan mata berbinar-binar Elisya menatap nasi goreng itu. Ia menyingkirkan piring buah tadi sedikit menjauh dari hadapannya. Perlahan ia mulai memakan nasi goreng yang sangat menarik perhatiannya itu.
__ADS_1
"Enak kak..."puji Elisya pelan.
"Makanya habisin..."jawab Dicky.
Elisya hanya mengangguk dengan polosnya.
πππ
Acara makan malam antara dua keluarga dimulai. Dirumah Angel yang bisa dibilang megah. Disanalah kedua keluarga berkumpul sambil menyantap makan malam.
"Tumben banget om ngajak makan malam gini?..."tanya Vano pada ayahnya Angel.
"Jadi gini nak Vano, keluarga kita kan sudah lama saling mengenal. Jadi om mengusulkan untuk menjodohkan kamu dengan Angel, putri semata wayang saya. Kalian juga sudah kenal dari kecil, tidak ada salahnya bukan?..."ucap ayah Angel.
"Papa juga setuju Vano, kalian itu cocok, yang satu cantik yang satu ganteng..."puji Yudi ayahnya Vano dengan nada candaan.
"Pah keputusan ada di Vano, kita gak berhak ngatur hidup dia..."protes Yunita ibunya Vano seolah tak terima.
Sedangkan Angel sudah tersenyum-senyum sedari tadi.
"Angel sama Vano itu cuma sahabat om tante..."jawab Vano agak keberatan.
"Gak ada salahnya kan, sahabat jadi cinta. Nanti juga cinta itu datang karena terbiasa..."ucap Desi ibunya Angel.
"Mamah ih..."elak Angel malu-malu.
"Angel sih nurutin mamah papah aja..."jawab Angel.
"Gak perlu buru-buru Vano, tunangan dulu saja. Kalau ngerasa nyaman terusin kalau enggak ya kita batalin..."ucap ayahnya Angel.
"Tapi tante yakin anak tante yang cantik ini bisa bikin kamu nyaman..."puji Desi dengan bangganya.
Vano nampak berpikir, mempertimbangkan keputusan apa yang akan ia ambil. Namun tak bisa dipungkiri hatinya masih menetap pada Elisya.
"Jalani aja deh dulu tante..."jawab Vano ragu.
Membuat senyum Desi terbit.
"Nah gitu dong, kalau gitu seminggu lagi kalian tunangan..."putus Desi.
"Apa itu tidak terlalu cepat jeng?..."tanya Yunita.
"Tidak dong mah, lebih cepat lebih baik..."jawab Yudi.
πππ
__ADS_1
Arvie datang bersama David, Bella, Sam dan Lisa.
"Kalian tunggu disini dulu, Vid lo ikut gue. Kita cek keadaan adik gue..."putus Arvie.
David dengan setia berjalan dibelakang Arvie. Sedangkan yang lainnya duduk disofa ruang tamu. Arvie sudah mulai panik karena ia tak menemukan Elisya dikamarnya. Ia berjalan kesana kemari mencari Elisya. Hingga akhirnya langkahnya terhenti didapur.
Arvie sedikit kaget saat melihat Elisya adiknya yang tengah lahap memakan nasi goreng dimeja makan. Dengan Dicky yang mengawasinya dari dekat. Ini terasa mustahil. Percayalah Arvie sudah mati-matian membujuk Elisya agar mau makan. Namun gadis itu tetap menolak. Sekarang gadis itu malah makan dengan lahapnya.
Bahkan mulut David sedikit terbuka karena kaget.
"Pawangnya nih Vie, makanya nurut..."ledek David.
"Ikut gue..."ucap Arvie.
"Ky, adik gue baik-baik aja kan?..."sapa Arvie sambil mengusap pelan rambut adiknya.
Karena tak ingin sahabatnya khawatir, Dicky memutuskan untuk menyembunyikan kejadian tadi dari Arvie. Tentang Elisya yang melakukan percobaan bunuh diri.
"Seperti yang lo liat..."jawab Dicky sekenanya.
Dengan mulut yang masih berisi Elisya mencoba mendongak kearah Arvie.
"Nasi gorengnya enak..."ucap Elisya dengan polosnya. Bahkan wajahnya sangat menggemaskan.
"Lo yang buat?..."tanya Arvie kepada Dicky.
Dicky hanya mengangguk membenarkan.
"Makan yang banyak, biar cepet sembuh. Habis ini minum obat..."ucap Arvie. Namun Elisya malah menggeleng.
"Pahit kak..."keluh Elisya. Obat yang diberikan dokter memang cukup banyak. Membuat gadis itu mengeluh setiap kali disuruh minum obat.
"Jangan kaya anak kecil, mau sembuh gak?..."tanya Dicky jutek.
Elisya mengangguk dengan cepat.
"Makanya minum obat..."sambung Dicky lagi.
Elisya menunduk, "Iya kak..."jawabnya lalu meneruskan makannya.
Sedangkan David sudah bertepuk tangan. "Wah nurut banget adik lo Vie, kekuatan apa nih Ky?..."ledek David.
Dicky memutar bola matanya malas.
"Temen kakak galak..."ucap Elisya dengan polosnya seperti anak kecil yang tengah mengadu kepada orangtuanya.
__ADS_1
"Itu nggak galak Sya, biar lo nurut..."jawab Arvie.
Elisya lagi-lagi mengangguk dan mengunyah kembali makanannya.